| 83 Views
Krisis Kemanusiaan Sudan, Butuh Khilafah Disegerakan
(Mahmoud Hjaj - Anadolu Agency )
Oleh: Kamelia Agustina
Muslimah Peduli Generasi
Akhir-akhir ini, media sosial diramaikan dengan seruan bertajuk "All Eyes on Sudan". Fenomena ini menjadi alat yang efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai konflik dan penderitaan yang dialami warga Sudan melalui penyebaran informasi secara digital, masyarakat didorong untuk memahami skala krisis, termasuk tingginya angka pengungsian, kekurangan pangan, dan tindak kekerasan yang terus terjadi.
Negara ini dikenal dengan situasi keamanannya yang tidak stabil, dengan pertempuran yang terjadi di Khartoum menjadi berita utama. Sudan juga mengalami perang saudara terpanjang di Afrika yang berlangsung selama 22 tahun antara tahun 1983 dan 2005. Perang saudara tersebut adalah yang kedua setelah perang yang terjadi di Sudan Selatan pada 1955. Dan sekarang, perang saudara di Sudan, yang kini memasuki tahun ketiga, melibatkan tentara Sudan dan RSF. (republika.co.id, 01/11/25)
Fakta yang terjadi yakni, Krisis Sudan semakin membara, ribuan warganya mengungsi, pembunuhan masal serta pemerkosaan yang terus terjadi semakin mengerikan. Perlu diketahui bersama juga bahwa Sudan adalah negara terbesar ketiga di Afrika. Selain itu, disana mayoritas muslim, memiliki piramida lebih banyak, memiliki sungai nil lebih panjang dari Mesir. Lebih dari itu, Sudan merupakan produsen emas arab terbesar, sehingga menjadi penghasil kekayaan SDA (sumber daya alam) yang melimpah.
Menurut laporan Sudan Doctors Network dan Al Jazeera, sedikitnya 1.500 hingga 2.000 orang tewas dalam beberapa hari setelah RSF mengambil alih kota. Video yang diverifikasi menunjukkan pasukan RSF menyiksa dan mengeksekusi warga sipil, serta menyerang rumah sakit dan fasilitas kesehatan. (detik.com, 31/10/25)
Krisis Sudan sebetulnya sudah berlangsung lama dan bukan murni konflik etnis, tetapi ada keterlibatan negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris yang melibataan negara-negara bonekanya seperti UEA (Uni Emirat arab) terkait rebutan pengaruh politik (proyek timur tengah baru AS) demi kepentingan perampokan SDA yang melimpah ruah. Lembaga-lembaga dan aturan Internasional dibuat dalam frame untuk kepentingan negara-negara adidaya terhadap negeri-negeri muslim dan bukti bahwa SDA Sudan hanya menjadi objek permainan dan perebutan negara-negara adidaya.
Semua kekacauan yang terjadi akibat dari penerapan Sistem Kapitalisme, yakni suatu sistem yang menyerahkan kebebasan kendali ekonominya kepada pihak swasta untuk mencari keuntungan. Seharusnya negeri-negeri muslim bersatu untuk membantu saudaranya yang sedang dalam masalah.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya, tidak mendzaliminya dan tidak membiarkannya (didzalimi).” (HR. Bukhari & Muslim)
Oleh karenanya, umat harus dinaikkan level berpikirnya sehingga mampu membaca seluruh problem dunia dalam kacamata ideologis dan keniscayaan perang peradaban antara Islam dan non Islam.
Umat harus sadar bahwa hanya sistem Islam (khilafah) yang bisa diharapkan menjadi solusi berbagai krisis baik politik, ekonomi, dan lainnya, hingga kerahmatan bisa tercipta di dunia. Kesadaran ini harus memotivasi umat untuk turut berjuang menegakkan khilafah karena dorongan iman.
Dengan demikian, persatuan negeri-negeri muslim di bawah naungan Khilafah sebuah keniscayaan untuk melawan hegemoni negara-negara kafir Barat yang terus membuat umat Islam terjajah, terpecah dan menderita. Jelaslah bahwa semua persoalan yang terjadi akibat tidak adanya sistem yang bisa mengatur kehidupan manusia, maka dari itu saatnya kita kembali menerapkan sistem Islam dalam kepemimpinan Khalifah. Tentunya Islam akan tegak jika kita sebagai umat muslim bersatu untuk menyerukan dakwah kepada masyarakat agar tercapainya tujuan yaitu kembali menegakkan sistem Islam dalam naungan Khilafah, sehingga segala penderitaan dan ketidakadilan yang terjadi di negeri-negeri muslim saat ini segera berakhir.
Wallahu ‘alam bisshawab