| 67 Views

Krisis Jiwa Pelajar: Potret Gagalnya Pendidikan Sekuler

Ilustrasi bunuh diri dengan cara gantung diri. Foto: Repro hulondalo.com

Oleh: Eli Ermawati 

Pembelajar

Belakangan ini, kabar duka tentang anak-anak yang mengakhiri hidupnya sendiri kembali mencuat di berbagai daerah. Fenomena ini bukan sekadar berita yang lewat di lini masa, tapi tanda bahaya serius yang mengintai masa depan generasi muda. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, banyak pelajar kehilangan makna hidup, terjebak dalam tekanan, dan tidak tahu kepada siapa mereka bisa berpulang saat merasa lelah. Kondisi ini mengundang pertanyaan besar, apakah sistem pendidikan kita benar-benar berhasil membentuk kepribadian yang tangguh, atau justru melahirkan generasi yang rapuh?

Fakta yang Mengguncang

Dalam sepekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasus serupa juga terjadi di Sumatera Barat. Mengutip laporan Kompas.id (30 Oktober 2025), dua siswa sekolah menengah pertama di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, ditemukan bunuh diri di area sekolah. Berdasarkan penyelidikan kepolisian, tidak ditemukan adanya dugaan bullying dalam kedua kasus tersebut. Siswa bernama Bagindo ditemukan tergantung di ruang kelas pada Selasa, 28 Oktober 2025, sementara Arif ditemukan di ruang OSIS pada Senin, 6 Oktober 2025.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan hasil pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dilakukan pemerintah. Dalam keterangannya yang dikutip dari Republika.co.id (30 Oktober 2025), dari sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa, lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental. Data ini menegaskan bahwa krisis kesehatan mental pada anak sudah berada di tahap yang sangat mengkhawatirkan.

Tak hanya itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyoroti tren meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan pelajar. Melansir dari Sekitarkaltim.id (1 November 2025), KPAI menyarankan agar sistem deteksi dini dibangun secara nasional untuk mencegah kasus serupa terjadi kembali. Rangkaian fakta ini menunjukkan bahwa persoalan bunuh diri pelajar bukan lagi insiden terpisah, melainkan fenomena sosial yang mencerminkan rusaknya tatanan pendidikan dan keluarga di bawah sistem sekuler.

Ketika Pendidikan Kehilangan Arah

Fenomena meningkatnya bunuh diri di kalangan pelajar tak bisa dilihat hanya dari sisi medis atau psikologis. Lebih dalam dari itu, hal ini menggambarkan rapuhnya pondasi kepribadian generasi muda. Banyak dari mereka yang kehilangan arah hidup, mudah goyah saat diterpa tekanan, dan tidak memiliki makna hidup yang kokoh.

Menurut laporan Kompas.id pada 31 Oktober 2025, kasus bunuh diri di kalangan pelajar menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan dan perlu dilihat sebagai krisis moral serta sosial. Sistem pendidikan sekuler hari ini gagal melahirkan pribadi yang kuat secara spiritual. Pendidikan lebih difokuskan pada capaian akademik dan keterampilan duniawi, sementara aspek pembentukan akidah dan keimanan diabaikan. Nilai-nilai agama hanya diajarkan secara teoritis, tidak menjadi pondasi dalam berpikir dan bersikap. Akibatnya, anak-anak tumbuh pintar tapi tidak berprinsip, cerdas otaknya namun kosong jiwanya.

Sementara itu, Tempo.co pada 1 November 2025 mencatat bahwa paradigma pendidikan Barat yang menganggap seseorang baru dewasa di usia 18 tahun turut memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap anak dan remaja. Padahal dalam Islam, anak yang telah balig sudah memikul tanggung jawab syariat. Namun sistem sekuler membuat anak-anak yang sudah balig tetap diperlakukan seperti anak kecil, tidak diarahkan untuk berpikir dewasa secara Islami. Akibatnya, mereka kehilangan arah saat dihadapkan pada masalah dan tekanan kehidupan.

Selain itu, berbagai tekanan sosial dan ekonomi yang muncul akibat penerapan sistem kapitalisme turut memperparah kondisi mental remaja. Konflik keluarga, perceraian, tuntutan gaya hidup, hingga kesenjangan ekonomi menjadi beban yang berat. Belum lagi pengaruh media sosial yang sarat dengan konten glamor dan komunitas daring yang menormalisasi depresi serta bunuh diri. Semua ini membentuk ekosistem yang menjerumuskan anak muda pada keputusasaan.

Islam Menumbuhkan Jiwa yang Kuat

Islam hadir sebagai solusi menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam. Dalam sistem Islam, pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan dan keterampilan, tetapi dibangun di atas fondasi akidah yang kuat. Akidah inilah yang menjadi sumber kekuatan ketika seseorang menghadapi tekanan hidup. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah) yaitu perpaduan antara pola pikir (aqliyah Islamiyyah) dan pola sikap (nafsiyah Islamiyyah) yang berlandaskan iman.

Proses ini dimulai sejak dini. Anak yang belum balig diarahkan agar kelak menjadi pribadi aqil, yakni mampu berpikir mendalam dan mengambil keputusan berdasarkan syariat. Maka ketika menghadapi kesulitan, ia tidak mudah menyerah, sebab ia memahami bahwa hidup dan mati hanyalah untuk Allah.

Penerapan Islam secara menyeluruh juga menjaga faktor-faktor non-klinis yang memengaruhi kesehatan mental. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Nidzamul Islam, bab At-Tarbiyah wal Ta’lim, negara dalam sistem Islam berkewajiban menjamin kebutuhan pokok rakyatnya, membangun keluarga yang harmonis, serta menegakkan keadilan sosial. Islam juga memberikan arah hidup yang jelas, yakni bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Dengan arah hidup yang pasti dan tujuan yang benar, tidak ada ruang bagi kekosongan makna yang kerap memicu depresi dan keputusasaan.

Kurikulum pendidikan Islam di bawah sistem negara Islam akan memadukan penguasaan ilmu dan teknologi dengan pembentukan karakter Islam. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi pembina ruhiyah (murabbi) yang menanamkan nilai iman, sabar, dan tawakal. Sekolah pun menjadi tempat pembinaan kepribadian, bukan sekadar ruang akademik. Dengan begitu, lahirlah generasi yang kuat menghadapi hidup, karena mereka memahami arah hidupnya dengan jelas dan yakin.

Lonjakan kasus bunuh diri di kalangan pelajar seharusnya menggugah kesadaran kolektif bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan saat ini. Solusi yang ditawarkan melalui deteksi dini atau pendampingan psikologis hanyalah penanganan di permukaan. Akar masalahnya terletak pada sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Selama pendidikan tidak kembali kepada Islam sebagai dasar, generasi akan terus kehilangan makna dan arah hidup. Sudah saatnya kita mengembalikan fungsi pendidikan sebagaimana mestinya membentuk manusia beriman, berilmu, dan berkepribadian tangguh. Hanya Islam yang mampu melahirkan generasi kuat bukan sekadar cerdas, tapi juga tegar, yakin, dan siap menghadapi kehidupan dengan akidah yang kokoh.


Share this article via

25 Shares

0 Comment