| 17 Views

Komando Jihad Fiisabilillah yang Dapat Menghancurkan Agresi Zionis

Oleh: Rosmi 

Aktivis Muslimah

Warga Gaza kembali diserang secara brutal oleh pasukan Zionis. Serangan udara yang dilancarkan menyebabkan syahidnya para tenaga medis yang sedang menjalankan tugasnya. Penyerangan brutal yang dilakukan tentara Zionis terhadap warga sipil dan tenaga medis menambah catatan kejahatan genosida atas warga Palestina, tetapi dunia hanya bungkam. PBB, OKI, dan BOP seolah bisu dan tuli menghadapi kejahatan tersebut.

Pasukan Zionis juga melakukan penyerangan udara ke Lebanon Timur dan Beirut Selatan. Dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan tersebut menewaskan tujuh orang dan 18 lainnya terluka. Tentara Israel melakukan serangan baru ke wilayah yang dikuasai Hizbullah dan enam kali serangan besar ke Beirut Selatan dengan menargetkan sebuah bangunan yang dihuni oleh keluarga yang berasal dari Suriah.

Selain melakukan serangan yang menewaskan warga sipil dan tenaga medis, pemerintah Zionis melalui pasukan bersenjata menutup akses masuk ke Masjid Al-Aqsa bagi warga Palestina. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pendudukan Zionis di tanah Palestina, terjadi penutupan akses serta pelarangan warga Palestina untuk beribadah di pelataran Masjid Al-Aqsa. PBB dan BOP hanya diam dan tidak dapat bertindak atas tindakan tersebut.

Selama umat Islam belum bersatu, masih bercerai-berai, dan dipisahkan dengan batas-batas teritorial negara, maka jangan berharap umat Islam akan hidup layak dan damai di bawah sistem kapitalisme demokrasi yang digaungkan Barat. Selama pelindung atau perisai umat Islam belum tegak melalui daulah Islam, selama itu pula umat Islam akan terus ditindas dan menjadi sasaran empuk musuh-musuh Islam.

Berharap pada BOP yang dimotori Amerika di bawah kepemimpinan Donald Trump untuk membawa perdamaian dan rekonstruksi Palestina adalah harapan yang tidak berdasar. Board of Peace merupakan ambisi Trump dan hegemoni Barat untuk melegalkan kepentingan Amerika dan sekutunya dalam menguasai negeri-negeri Muslim, terutama Palestina yang kaya akan sumber daya alam dan situs sejarah. Entitas Zionis di tanah Palestina adalah bagian dari skenario kolonial yang dibangun sebagai jembatan imperialisme di jantung dunia Islam.

Negara-negara Barat dengan sistem kapitalisme sekuler hanya berfokus pada ambisi dan kepentingan mereka. Dalam sistem tersebut, tidak ada kebenaran hakiki, melainkan kepentingan yang diwujudkan dengan berbagai cara. Oleh karena itu, memperluas kekuatan dan pengaruh menjadi prioritas utama, sementara perdamaian dunia sering kali hanya menjadi narasi semata.

Kepemimpinan Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin umat Islam, yang dilanjutkan oleh para sahabat Khulafaur Rasyidin dan diteruskan hingga Bani Utsmani, telah menunjukkan bagaimana persatuan umat mampu memberikan perlindungan terhadap jiwa, harta, dan kehormatan umat Islam dari ancaman luar. Persatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan yang dipimpin oleh khalifah diyakini sebagai institusi yang mampu mengusir penjajahan dari bumi Baitul Maqdis.

Dengan adanya satu kepemimpinan bagi seluruh umat Islam yang menjalankan syariat secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, pembebasan Al-Quds diyakini dapat terwujud. Seruan jihad yang dikomandoi oleh khalifah dengan janji pahala bagi yang gugur di medan perjuangan akan disambut oleh umat sebagai bagian dari keyakinan mereka.

Dalam sistem pemerintahan Islam, kerja sama luar negeri dilakukan sesuai dengan syariat. Negara tidak menjalin kerja sama dengan pihak yang secara terbuka memusuhi umat. Bahkan, kepemimpinan tersebut akan mengambil langkah tegas terhadap pihak yang melakukan penjajahan dan kerusakan.

Penting adanya penyadaran umat tentang pentingnya persatuan di bawah satu kepemimpinan yang berlandaskan syariat Islam. Persatuan tanpa sekat nasionalisme diyakini mampu melindungi jiwa, harta, dan kehormatan umat. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak membiarkan dizalimi orang lain.” (HR Muslim).

Penegakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan umat diyakini sebagai jalan untuk membangun persatuan dan menghadirkan keadilan, termasuk dalam upaya menghentikan berbagai bentuk penindasan di dunia.

Wallahu a‘lam bish shawab.


Share this article via

76 Shares

0 Comment