| 184 Views
Kisah Pilu dari Sudan, Kepemimpinan Islam Global Sebuah Keharusan
Oleh: Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Umat
Nama Sudan menyita perhatian dunia saat ini. Kisah pilu yang menyayat hati dan tidak bisa diterima akal sehat manusia. Sudan membara, ribuan orang mengungsi, terjadi pembunuhan dan pemerkosaan massal. Darah benar-benar tertumpah dan potret memilukan terpampang nyata melalui video dan foto yang beredar jagat maya.
Dilansir dari detikNews, 5/11/2025 warga Sudan mengungsi setelah kabur dari El- Fasher yang jatuh ke tangan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang berperang melawan militer Sudan (SAF). Seorang ibu bernama Amira, terbangun setiap hari dengan gemetar, ia dihantui oleh pemandangan pemerkosaan massal yang disaksikannya saat melarikan diri dari Kota El-Fasher. Mereka dikepung selama 18 bulan dan mengalami kelaparan serta pengeboman. El-Fasher menjadi benteng terakhir setelah Wilayah Darfur bagian barat jatuh ke tangan RSF pada 26 Oktober 2025.
Konflik antara Jenderal Abdel Fattah Al-Burham dari SAF dan Letnan Mohammed Hamdan Dagalo atau Hemedti dari pasukan RSF menimbulkan perang besar di sejumlah wilayah. Padahal sebelumnya dua tokoh ini adalah sekutu saat mengkudeta pemerintahan transisi lada tahun 2021. Mereka mulai berseteru pada April 2023 karena memperebutkan kekuasaan.
Kondisi semakin buruk ketika ada peran asing (Barat) di dalamnya khususnya AS dan Inggris. Kedua negara ini berupaya mengadu domba rakyat Sudan dengan tujuan mengokohkan hegemoni mereka dan bisa mengeksploitasi kekayaaan alam Sudan.
Sudan berada di benua Afrika yang mayoritas adalah bagian dari negeri-negeri Muslim di era Kekhilafahan Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab tahun 651 M dimulai dakwah Islam ke benua Afrika. Mesir pada saat itu dapat ditaklukan oleh Panglima Perang 'Amr Bun al-'Ash yang kemudian dilanjutkan pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Panglima Perang 'Uqbag bin Nafi diutus untuk menyebarkan dakwah Islam ke bagian selatan hingga sampai ke Lembah Nil menuju Nubia yang kini menjasi bagian dari Sudan Utara.
Ketika kekuatan Khilafah Utsmaniyah mulai lemah di Afrika, satu persatu negeri-negeri di Afrika jatuh ke tangan Barat. Afrika bagi penjajah dinilai sebagai bagian dunia yang tertinggal , tetap memiliki kekayaan alam melimpah.
Dilansir dari Republika.co.id, 1/11/2025, ada beberapa fakta tentang Sudan di antaranya:
Bahasa Arab menempati posisi linguistik menonjol sebagai bahasa resmi. Sekitar 70 persen penduduknya berbicara mengunakan bahasa Arab.
Sudan adalah negara terbesar di Afrika, mencakup lebih dari 8 persen dari seluruh benua Afrika atau 2 persen dari total luas daratan di dunia.
Sudan juga menjadi tempat asal peradaban kuno. Banyak situs-situs arkeologi seperti Piramida Meroe dan Kerajaan Nubia Kuno mengungkapkan sejarah yang kaya. Sudah juga memiliki banyak kaitan dengan babak-babak awal peradaban manusia.
Bahkan salah satu situs Warisan Dunia UNESCO yang terkenal ada di sana. Wilayah ini juga menjadi pusat perdagangan utama untuk emas, gading, kayu ebony, dan kulit binatang dari Afrika, Gurun Arab, dan Mediterania. Tapi sayang infrastruktur di Sudan masih sangat buruk terutama di pedesaan.
Di Sudan juga terdapat banyak Piramida dan sungai Nil yang lebih panjang dari yang ada di Mesir. Sudan juga memiliki populasi yang besar sekitar 45 juta jiwa. Negara ini mengalami ekpansi demografis yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir .
Sudan juga memiliki daerah-daerah yang masih alami yang sangat cocok untuk pariwisata seperti menyelam. Yang terkenal adalah bangkai Kapal Umbria dengan lebih dari 200 kemiskinan terumbu karang dan ikan.
Sudan juga bergabung dalam proyek Tembok Hijau Besar bersama Burkina Faso, Chad, Ethiopia, Mali, Nigeria dan lainnya. Negara-negara ini berambisi membangun tembok pohon sepanjang 8000 kilometer melintasi Afrika untuk menciptakan struktur hidup terbesar di planet ini.
Krisis Kemanusiaan yang terjadi di Sudan telah menyebabkan lebih dari 30,4 juta atau 2/3 dari total populasi membutuhkan bantuan mulai dari kesehatan, makanan, dan dukungan kemanusiaan.
Ekonomi Sudah juga mengalami kehancuran efek konflik berkepanjangan, kelaparan akut menjadi masalah utama.
Sungguh ironis, negara dengan produksi emas terbesar yang mencapai 80 ton per tahun , bahkan perusahaan Sumber Daya Mineral Sudan mengumumkan pertengah 2025 produksi emas meningkat hingga 37,3 ton, tapi kondisi rakyatnya sangat memprihatinkan. Kondisi mereka ibarat ayam yang mati di lumbung padi.
Sudan memiliki kekayaan luar biasa. Cadangan minyaknya lebih dari 3 miliar barel. Cadangan emas lebih dari 1.550 ton. Sudah juga memproduksi getah Arab yang dibutuhkan dalam industri makanan dan kimia. Sudan juga memiliki cadangan uranium.
Secara geografis Sudan juga sangat strategis sebagai jalur perdagangan karena berbatasan langsung dengan beberapa negara seperti,: Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, Etiopia dan Eritrea. Sudan menjadi jembatan penghubung antara Afrika Sub -Sahata dan Afrika Utara serta Wilayah Sahel.
Sudan juga menjadi salah satu titik kunci maritim paling penting di dunia. Hampir 10% minyak dunia diangkut melalui Selat Bab al- Mandeb yang menghubungkan laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab.
Sudan lepas dari Kekhilafan Islam dan direbut oleh Inggris pada tahun 1898. Inggris bertekad menjadi pengendali atas sungai Nil dan Mesir yang menjadi jalur perdagangan ke India dan Afrika Selatan. Demi memuluskan rencana jahatnya Inggris melakukan taktik adu domba warga Sudan secara etnis dan agama. Sudah dibagi menjadi dua wilayah yaitu Sudan Utara dan Sudah Selatan. Keduanya diperlakukan berbeda, wilayah selatan yang menganut kepercayaan agama animisme, dilalukan upaya misionaris Kristen. Sudan Selatan menjadi kota modern yang pada 2011 memisahkan diri dari Sudan. Saat ini masyakatnya 60% Kristen, 34 animisme dan 6% Muslim. Dari sinilah awal mula terjadi perpecahan.
Dominasi Inggris di Sudan melemah setelah AS melalui PBB mendesak negara-negara Eropa untuk memerdekakan negara-negara jajahannya. AS mulai memiliki pengaruh politik di Sudan setelah Deklarasi Kemerdekaan Sudan pada 1956. AS terus berusaha menancap hegemoninya meskipun naik turun.
Konflik yang terjadi di Sudan hari ini tidak bisa dilepaskan dari peran AS. Hemedti adalah agen AS yang ditugaskan menguasai Darfur. AS berusaha menghilangkan pengaruh Inggris di Sudan baik secara politik maupun militer. AS membantu RSF untuk melalukan genosida terhadap kelompok-kelompok yang pro pada Inggris di Sudan terutama Darfur.
AS juga bekerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA) , Saudi, dan Mesir untuk menghalangi masuknya pihak asing dalam konflik di Sudan. Hal ini diungkap oleh Massad Boulos , Penasehat Senior Presiden AS untuk Arab dan Afrika pada 25 Oktober 2025 lalu. Sehingga pihak luar tidak bisa ikut campur termasuk PBB terutama Inggris.
AS lagi-lagi melakukan semua untuk mengokohkan hegemoninya dan menghentikan kebangkitan Islam yang bisa mengancam kepentingannya. Isu terorisme dan radikalisme sudah dan terus dimainkan. Di Sudan AS menggunakan perang Proxy untuk melemahkan kekuatan umat Islam di Sudan.
Gaza masih terluka, Sudan membara, dan masih banyak wilayah Islam lain yang terjajah dan menjadi mainan musuh Islam. Mereka memperebutkan kekayaan di negeri kaum Muslim. Mereka menari-nari diatas darah kaum muslimin. Bahkan kehormatan muslimah di sana direnggut paksa dan dilakukan dengan cara yang sangat menjijikkan.
Tapi mirisnya, lagi-lagi dunia khususnya negara muslim tidak mampu berbuat banyak. Bahkan sadisnya para pemimpin Muslim justru bersekongkol dengan penjajah membantai saudaranya sendiri.
Dan tidak ada yang berani mengatakan mereka sebagai pengkhianat, mereka tetap dihormati dan dielu-elukan.
Hal ini sangat bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw:
" Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya. Ia tidak boleh menzalimi dan tidak boleh membiarkan saudaranya di zalimi." (HR al- Bukhari).
Semua kezaliman yang menimpa umat Islam hari ini terjadi karena kita telah kehilangan pelindung. Ibarat anak ayam yang kehilangan induk, tercerai berai satu dengan yang lain, dan mudah dimangsa musuh.
Pelindung itu bernama Khilafah, yang menjadi perisai yang melindungi umat dan menjaga umat. Ketiadaan kepemimpinan Islam global atau khilafah ini menjadi induk dari segala kemaksiatan.
Sudah saatnya umat Islam di seluruh dunia bersatu dibawah satu kepemimpinan global (khilafah. Bersama-sama menghimpun kekuatan untuk melindungi umat sedunia dari ancaman dan penderitaan.
Wallahua'lam bishawab.