| 6 Views

Ketika Pelajar Menjadi Pengedar Sabu, Buah Pahit Sistem Sekuler yang Gagal Menjaga Generasi

Oleh: Alfira Khairunnisa 

Muslimah Peduli Umat/Aktivis IDARI-Ikatan Daiyah Riau

Beberapa kasus yang muncul berdekatan waktu ini menampar wajah dunia pendidikan dan keamanan negeri. 

Pertama, kasus di Bima, NTB pada 2/4/2026 lalu. Dua warga Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Mirisnya, salah satu pelaku berinisial KF masih berstatus pelajar, sementara SH 26 tahun tidak bekerja. Bandar pemasoknya masih diburu. Kasat Resnarkoba AKP Jahyadi Sibawaih membenarkan KF masih pelajar.

Kedua, kasus di Kendari, Sultra (30/3/2026) Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari meringkus pelajar berinisial HS 19 tahun. Petugas menemukan puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di berbagai tempat. Usia 19 tahun berarti baru lulus SMA atau masih mahasiswa awal, tapi sudah jadi bagian rantai peredaran narkoba.

Ketiga, belum lama ini juga viral di sosial media kasus penggerebekan rumah seorang bandar narkoba di Panipahan Pasir Limau Kapas Rokan Hilir juga mencuat dengan aksi demo(10/4/2026) Meski bukan pelajar sebagai pengedar tapi mereka sebagai korban dari maraknya pengedar yang terkesan aman meski sudah berulang kali dilaporkan ke pihak berwajib. Ini merupakan potret buram penegakan hukum di negeri ini. 

Beberapa fakta ini bukan kejadian tunggal. BNN mencatat 27% pengguna narkoba adalah pelajar-mahasiswa. Artinya, sekolah yang harusnya jadi benteng generasi justru jebol, bahkan jadi lahan rekrutmen bandar.

Sistem Sekuler-Kapitalis Melahirkan Generasi Tanpa Rem

Miris, sekularisme jelas-jelas mencabut ruh dari pendidikan. Bagaimana tidak? Pelajar jadi pengedar sabu adalah bukti telak gagalnya sistem sekuler-kapitalis menjaga generasi. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. 

Hasilnya, sekolah hanya transfer ilmu dunia: Matematika, IPA, Bahasa, agar lulus UN dan siap kerja. Pertanyaan “untuk apa hidup”, “halal-haram”, “hisab akhirat” tidak jadi poros pendidikan. Akal tidak dijaga dengan akidah, moral tidak diikat wahyu, perbuatan tidak ditimbang dosa-pahala. Ketika agama hanya jadi pelajaran 2 jam seminggu, wajar jika pelajar tidak merasa berdosa mengedar sabu. Yang ada di kepala hanya “untung berapa”. Standar manfaat menggantikan standar halal-haram. Inilah buah sekularisme: melahirkan generasi pintar tapi kosong ruh.

Ditambah lagi lemahnya sistem pendidikan dan hukum membuka pintu kriminal, mengapa? Setidaknya karna dua hal. 

Pertama, kurikulum hari ini tidak membentuk syakhsiyah Islam. Pelajar tidak dibentuk untuk jadi hamba Allah yang takut maksiat. Mereka dibentuk untuk jadi “SDM siap pakai” di pasar kerja kapitalis. Saat lapangan kerja sempit dan kemiskinan menghimpit, tawaran jadi kurir sabu dengan upah 500 ribu sekali antar jadi terlihat rasional. 

Kedua, hukum positif tidak menjerakan. Bandar besar sering lolos, yang ditangkap kurir-pemakai. Vonis ringan, remisi mudah, penjara jadi “sekolah bandar”. Pelajar melihat risiko rendah, untung tinggi. 

Ditambah lemahnya kontrol sosial, maka lengkaplah: tidak ada rem dari diri, tidak ada takut pada negara, tidak ada kontrol masyarakat. Generasi dibiarkan telanjang menghadapi gempuran narkoba.

Islam Menjaga Generasi dari Hulu ke Hilir

Sistem pendidikan Islam Membentuk hamba Allah yang berkepribadian Islam. Islam menjadikan tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak pekerja, tapi membentuk syakhsiyah islamiyah yakni kepribadian Islam. 

Kurikulumnya berbasis akidah Islam. Sejak dini anak paham bahwa dia hamba Allah, hidup untuk ibadah, terikat syariat, dan akan dihisab. Pelajaran akidah, syariah, akhlak. Jadi pondasi, bukan tempelan. Dengan aqliyah dan nafsiyah. 

Islam, seorang pelajar akan otomatis menolak sabu karena tahu itu haram li dzatihi, merusak akal yang wajib dijaga, dan mengantarkan ke laknat Allah. 

Negara Khilafah dulu membuktikan: Baghdad, Cordoba, Kairo melahirkan ulama sekaligus ilmuwan yang bersih dari kriminalitas karena sistem pendidikannya sahih.

Selain itu peran keluarga tidak kalah penting. Madrasah pertama yang serius menanamkan Islam jelas adalah orang tua . Bahkan dalam Islam orang tua bukan sekadar pemberi nafkah. Ayah adalah raa’in penanggung jawab, ibu adalah ummun wa rabbatul bait yakni sekolah pertama. 

Keduanya wajib menanamkan dasar akidah, mengajarkan halal-haram, membiasakan shalat, jujur, dan menjaga pergaulan anak. Teladan itu kunci. Anak yang melihat ayahnya jujur dan ibunya menjaga izzah tidak akan mudah tergiur uang haram sabu. 

Keluarga adalah benteng lapis pertama sebelum anak lepas ke masyarakat. Jika benteng ini rapuh karena ayah-ibu sibuk kerja dan agama tidak hidup di rumah, anak akan cari “keluarga” lain di geng bandar.

Kemudian Peran masyarakat. Peran masyarakat menciptakan lingkungan kondusif dengan amar makruf nahi munkar. Islam menjadikan masyarakat punya kewajiban sosial kolektif. Amar makruf nahi munkar itu kontrol sosial. Tetangga tidak boleh diam lihat anak remaja nongkrong tidak jelas sampai malam, uangnya banyak tiba-tiba, atau gerak-gerik mencurigakan. 

Masjid, majelis taklim, dan tokoh masyarakat aktif merangkul pemuda, bukan menghakimi. Pergaulan dipisah antara laki-perempuan, khamr dan narkoba dijauhi, tayangan rusak diboikot. Lingkungan seperti ini membuat bandar sulit rekrut anggota. Bandar hidup dari “permintaan diam-diam”. Jika masyarakat sensitif dan berani mencegah, peredaran akan mati sebelum tumbuh.

Kemudian harus ada Sanksi negara yang tegas, cepat, dan menjerakan. Maka Islam menetapkan narkoba sebagai barang haram yang merusak akal. Pembuat, pengedar, dan bandar dikenai uqubat, takzir yang berat, sampai hukuman mati jika kerusakannya masif. Tujuannya zawajir mencegah orang lain, dan jawabir penebus dosa. Untuk pengguna, ada sanksi ta’dib plus rehabilitasi agar taubat. 

Kuncinya: diterapkan segera, oleh negara, di depan publik, tanpa pandang bulu. Tidak ada “86 di tempat” atau vonis 1 tahun. Dengan begitu, pelajar akan berpikir 1000x sebelum nyentuh sabu, karena tahu nyawa taruhannya. Inilah yang memutus rantai dari bandar sampai kurir pelajar.

Pelajar pengedar sabu di Bima dan Kendari adalah korban sistem. Selama sekularisme mencabut agama dari sekolah, kapitalisme membiarkan kemiskinan, dan hukum positif loyo, maka akan lahir HS, KF, dan ratusan lainnya. Menangkap kurir tidak akan selesai jika pabriknya yaitu sistem rusak tidak dibongkar. 

Solusinya integral. Ganti asas pendidikan jadi akidah, hidupkan fungsi keluarga dan masyarakat Islami, dan terapkan sanksi Islam yang menjerakan oleh negara. Hanya dengan itu generasi bisa selamat dari sabu dan dari sistem yang melahirkannya.

Wallahu'alambishoab


Share this article via

0 Shares

0 Comment