| 21 Views
Ketika Nyawa Tak Lagi Berharga: Tragedi Irene Sokoy dan Bobroknya Sistem Kesehatan Kapitalis
Oleh: Raina Syam
Seorang ibu dan bayi yang dikandung nya harus kehilangan nyawa karena telat mendapatkan penanganan dan pertolongan dari Rumah Sakit di Jayapura. Tidak tanggung- tanggung yang menolak untuk menangani ibu yang tengah membutuhkan pertolongan darurat ini adalah 4 Rumah Sakit.
Irene sokoy yang sudah mengalami pecah ketuban dan bukaan enam harus harus bersusah payah untuk mendapatkan pertolongan karena terkendala beberapa faktor untuk sampai di Rumah Sakit, yaitu surat rujukan yang terlalu lama dan ambulans yang terlambat.
Belum sampai disitu ketika sampai di Rumah Sakit pertama dan kedua di tolak karena ruangan penuh dan sedang di renovasi, setelah itu pergi ke rumah sakit berikutnya di tolak juga karena harus ada uang muka 4 juta, akhirnya Irene Sokoy meninggal ketika dalam perjalanan ke Rumah Sakit berikutnya. (Liputan6. 22-11-2025)
Sungguh miris! Kasus yang terus berulang karena buruknya sistem pelayanan kesehatan saat ini menjadi cermin bobroknya sistem yang di terapkan saat ini. Negara yang juga abai dalam menjamin rakyatnya, termasuk jaminan kesehatan menjadikan rakyat tidak bisa mendapakan jaminan kesehatan yang benar.
Meski mendapatkan jaminan kesehatan yang benar-benar terjamin rakyat harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Lantas bagaimana mereka yang tidak mampu, sedang mereka butuh jaminan kesehatan tersebut?
Begitu juga dengan jaminan yang di berikan negara berupa KIS atau BPJS, ternyata bukan jaminan bisa mendapatkan pelayanan yang terbaik. Kadang ketika menggunankan jaminan tersebut seringkali dianggap sebelah mata oleh tenaga kesehatan. Sehinggga tambah banyak kasus yang serupa. Rakyat kehilangan nyawa karena telat nya mendapakan pertolongan dan penanganan. Karena seringkali admisnitrasi lebih diutamakan daripada kondisi gawat darurat.
Semua ini tidak lepas dari rusaknya sistem kapitalisme. Layanan kesehatan saat ini banyak dikelola oleh para kapitalis menjadikannya sebagai ladang untung rugi. Yang mereka prioritaskan bukan menyelamatkan nyawa melainkan efisiensi dan profit.
Dalam islam layanan kesehatan bukan komoditas yang di perjualbelikan tapi kebutuhan dasar umat yang wajib di penuhi negara. Mengabaikan nya adalah kedzaliman karena ini adalah tanggung jawab utama negara dan kelak pemimpinnya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat bagaimana mengurusi rakyatnya.
Rakyat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang gratis, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Akses yang mudah dan berkualitas, negara harus menyediakan layanan kesehatan di pelosok-pelosok desa bukan hanya di kota-kota besar saja. Begitu juga pelayanan yang berkualitas, alat-alat, dan tenaga medis.
Di sistem Khilafah, negara benar-benar mewujudkan pelayanan kesehatan yang manusiawi. Rumah Sakit memberikan layanan yang profesional tanpa diskriminasi atau status sosial, karena Rumah Sakit pada sistem islam itu gratis, manfaatnya bisa dirasakan semua rakyat.
Negara menggaji dokter dengan gaji yang yang pantas sehingga tidak ada motif komersial dalam pelayanan, begitu juga tenaga medis lainnya. Fasilitas pelayanan kesehatan yang lengkap hingga adanya Rumah Sakit keliling untuk tempat- tempat terpencil.
Bahkan pada saat kekuasaan islam banyak terlahir dokter-dokter besar seperti Ibnu Sina, Ar-Razi, dan Ibnu Nafis. Selama 13 abad kekuasaan islam, negara pada saat itu bener-benar memberikan pelayan kesehatan berkualitas tinggi dan tanpa pungutan biaya. Itulah ketika pelayanan kesehatan tidak di kelola oleh para kapitalis yang lebih mementingkan komersial tapi di kelola oleh negara sebagai pelayanan yang harus di berikan kepada rakyatnya.