| 39 Views
Ketika Alam Muak dengan Tangan Jahil Manusia, Maka Bencana Melanda
Oleh: Susi Ummu Musa
Masih membekas duka mendalam di hati masyarakat yang tertimpa musibah banjir bandang di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Kejadian yang berlalu begitu cepat hingga mereka panik dan bingung harus ke mana. Kali ini banjir datang begitu dahsyat, bukan air saja, tetapi kayu-kayu besar bersama lumpur ikut menyapu habis rumah-rumah mereka.
Bukan hanya banjir, longsor pun terjadi di Sibolga hingga menewaskan beberapa orang yang tidak sempat menyelamatkan diri. Situasi yang mencekam layaknya kota zombie juga terlihat di Aceh Tamiang. Tampak porak-poranda ketika video yang diambil dari atas udara menggunakan drone memperlihatkan rumah yang hilang terbawa derasnya banjir, kendaraan yang berserakan di jalan-jalan, entah di mana para pemiliknya atau mereka terjebak berada di dalam mobil itu. Sungguh, musibah banjir bandang kali ini adalah yang terparah, bahkan melebihi tsunami Aceh 2004 silam.
Namun sayang, status banjir bandang tidak ditetapkan sebagai bencana nasional karena dianggap korban meninggal belum menyentuh 1.000 jiwa. Padahal, jika ditelusuri, masih banyak korban hilang tertimbun yang belum dievakuasi. Lantas rakyat bertanya-tanya, mengapa seolah sikap nir empati ditentukan oleh jumlah korban? Bukankah daerah itu juga bagian dari negeri ini?
Bukankah banjir bandang ini telah menghilangkan nyawa rakyat hingga menyapu rumah-rumah penduduk? Banyak sekali pertanyaan yang ada di pikiran masyarakat dan menjadi perbincangan di media sosial. Atau barangkali ada sesuatu yang sengaja ditutupi dari musibah ini.
Lihatlah banjir yang datang berton-ton disertai kayu gelondongan yang sudah dipotong dengan mesin. Pertanda bahwa ada penebangan hutan secara terus-menerus dan sengaja dibiarkan. Jika kita melihat data bahwa pengaruh besar terhadap penebangan hutan sangat mungkin menyebabkan musibah banjir bandang, lihatlah berapa hektare yang sudah dideforestasi.
Diketahui KOMPAS.com – Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat 1,9 juta hektare lahan di Indonesia mengalami deforestasi dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Deforestasi adalah penggundulan hutan, secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang menyebabkan hilangnya tutupan hutan serta ekosistemnya. Juru Kampanye FWI, Anggi Putra Prayoga, mengatakan hutan yang kini tersisa sekitar 90 juta hektare terus mengalami kerusakan.
Deforestasi yang sengaja dibiarkan ini terus mengalami perubahan sehingga pohon-pohon sebagai penyangga karena akar-akarnya yang kuat telah dilukai oleh segelintir manusia yang tamak dan serakah, hingga alam pun mulai muak dengan tangan-tangan jahil mereka. Gambaran kerusakan alam akibat perbuatan manusia telah diingatkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Bukan hanya hutan kawasan, yang dulunya rawa atau area persawahan juga kini telah berubah menjadi pemukiman penduduk. Akhirnya, tidak ada lagi tempat tadah hujan sehingga menyebabkan banjir di mana-mana. Ketika alam mencoba berdamai dengan manusia, tetapi tidak dengan manusia. Kerusakan alam di berbagai penjuru terus dilakukan demi kepentingan oligarki dan kelompoknya. Mereka tidak peduli akan bahaya dan dampak panjangnya. Akhirnya, kini terjadi, dan siapa yang menjadi korban? Yaitu rakyat sendiri.
Kehidupan yang sudah dibangun bertahun-tahun dengan setapak rumah kecil mereka kini hilang. Tinggallah kenangan dan trauma mendalam. Di hadapan mata mereka menyaksikan saat anak, istri, suami, bahkan tetangga mereka hanyut bersama kayu-kayu itu. Teriakan itu masih terngiang di telinga mereka hingga berubah menjadi sunyi.
Selang kejadian tragedi itu, derita mereka belum usai. Mereka harus menahan lapar dan harus sembari menunggu bantuan. Sayangnya, bantuan terlalu lama hingga sampai ke daerah terpencil, disertai akses yang rusak parah. Nasib mereka hanya berharap bantuan dari orang-orang dermawan yang berkunjung dan berharap kepada pemerintah agar segera bertindak cepat terhadap para korban banjir di sana.
Ini adalah tanggung jawab pemerintah sebagai pelayan rakyat. Namun apalah daya, ternyata pemerintah lamban menangani musibah ini. Dilansir KBA News – badai kritik bermunculan seiring memburuknya kondisi ribuan warga korban banjir dan tanah longsor di tiga provinsi Sumatera. Video warga kelaparan, posko kehabisan logistik, serta evakuasi yang berlarut-larut memicu pertanyaan publik: di mana peran negara ketika rakyat berada di titik paling genting?
Di tengah penderitaan warga, pemerintah dinilai bergerak lamban, tidak terkoordinasi, dan tidak menunjukkan kesiapan menghadapi bencana besar. Gelombang kritikan mengalir kepada pemerintah sehingga ketidakpercayaan rakyat mulai mencuat. Akhirnya, muncullah slogan “rakyat bantu rakyat”. Kini solidaritas dan empati itu terus tumbuh di tengah bangsa yang lalai dari musibah ini.
Saat pemimpin di negeri ini tidak mampu mengeluarkan status musibah ini menjadi bencana nasional, maka itulah bencana sesungguhnya, karena hilangnya nyawa korban bencana dan rusaknya rumah warga dianggap mengerikan hanya di media sosial saja. Astaghfirullah.
Wallahu a’lam bissawab.