| 35 Views
Keserakahan Mendatangkan Bencana
Oleh : Rosmi
Aktivis Muslimah
Maraknya alih fungsi lahan, serta kemudahan perizinan dari pemerintah daerah serta kurangnya pengawasan mengakibatkan Pulau Dewata dilanda banjir besar pada Rabu 10//9/2025. Banjir yang menerpa Bali kali ini sangat dasyat, selain kerugian harta benda, banjir kali ini juga mengakibatkan korban jiwa.
Bencana ini menewaskan 16 orang dan 562 orang harus mengungsi. BNPB mencatat lebih dari 120 lokasi banjir dan 18 lokasi longsor yang tersebar di sejumlah kabupaten/Kota ibukota Denpasar merupakan wilayah terdampak paling parah, karena selama ini pembangunan di Denpasar tidak berorientasi pada antisipasi bencana. Bencana banjir tahun ini mengakibatkan kerusakan sejumlah infrastruktur serta jembatan.(bersatu.com, 09/2025).
Tergiur dengan pendapatan daerah akibat setoran para kapital dengan berbagai cara mulai dari investor, pembangunan resort, hotel, destinasi wisata, vila dan lain-lain, pemerintah mengabaikan keseimbangan alam. Lahan yang harusnya berfungsi sebagai daerah resapan saat musim hujan, dibabat habis dan diganti dengan bangunan beton permanen untuk peningkatan pendapatan daerah
Investor, pendapatan daerah, membuka lapangan kerja adalah alasan klasik para pemimpin serta keserakahan para pemangku kepentingan untuk menimbun kekayaan, yang akhirnya mendatangkan bencana besar. Lahan produktif hutan, sawah yang harusnya menjadi sumber kehidupan dibabat habis dan diganti dengan bangunan-bangunan permanen seperti, hotel, vila, mall, tempat wisata dan lain sebagainya yang justru merusak keseimbangan alam.
Selain alih fungsi lahan yang semakin marak dengan alasan dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat justru memberikan malapetaka bagi kehidupan rakyat. kebiasaan masyarakat yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan seperti membuang sampah sembarangan serta banyaknya bangunan liar di sepanjang bantaran sungai juga merupakan salah satu penyebab banjir melanda Bali.
Perangkat desa, RT/RW atau tokoh masyarakat yang harusnya menjadi ujung tombak membela hak-hak warga serta menjaga kelestarian alam. Lingkungan yang asri yang dijaga turun temurun agar tidak terjadi pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan kearifan lokal, justru hanya sebagai simbol bahkan dijadikan kaki tangan para pemegang kekuasaan dan pemodal besar.
Syariat Islam Mendatangkan Nikmat Allah Swt. menganugerahi negeri-negeri Muslim dengan sumber daya alam yang sangat berlimpah, bukti kasih sayang Allah Swt. kepada umatnya yang bertakwa terlihat jelas dalam firman-Nya. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya, “Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, dipusakakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al-A’raf : 128).
Semua yang terdapat di alam boleh dinikmati dan dimanfaatkan oleh manusia. Hanya saja pemanfaatan sumber daya alam harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh sang pencipta alam tersebut. Al Khaliq Al Mudabir telah menciptakan alam beserta isinya sekaligus dengan seperangkat aturan yang harus ditaati oleh hamba-hambanya. Karena jika hambanya membuat aturan sesuai nafsu dan keterbatasan pemikirannya, maka bencana dan murka Allah akan menghampiri. Allah berfirman dalam Al-Quran yang artinya, “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan perbuatan tangan manusia (melalui hal itu ) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.(QS. Ar-Rum:41).
Fenomena alam seperti banjir, angin puting beliung, badai, gempa bumi dan lain sebagainya adalah peristiwa alam yang diyakini sebagai respon alam terhadap perbuatan manusia. Banjir, gempa, badai dan lainya terjadi diyakini sebagai peringatan dini atau azab yang diturunkan akibat banyaknya kerusakan alam serta kemaksiatan yang terjadi, sehingga mengundang murka Allah Swt.
pada masa kenabian Nabi Nuh As. banjir besar terjadi dan menenggelamkan seluruh peradaban manusia, kecuali Nabi Nuh As, keluarganya, dan orang-orang beriman yang mengikuti ajaran Nabi Nuh yang ikut naik ke bahtera yang telah disiapkan. Peristiwa banjir ini merupakan azab Allah Swt. kepada kaumnya Nabi Nuh yang ingkar dan menyembah berhala, meskipun Nabi Nuh telah berdakwah menyadarkan mereka.
Banjir Sail al-Arim adalah banjir yang melanda kaum Saba’. Kaum Saba’ dianugerahi negeri yang makmur dan berkebudayaan tinggi tetapi penduduknya berpaling dari keimanan kepada Allah dan mengingkari Ajaran-Nya. Allah Swt. menurunkan azab kepada kaum Saba’ dengan mengirimkan banjir yang amat besar (Sail al0arim) yang menghancurkan bendungan dan lahan pertanian. Akibat banjir ini, lahan pertanian yang subur hancur seketikan dan tidak dapat ditanami kembali, hanya tumbuhan liar yang dapat tumbuh di tanah tersebut.
Peristiwa-peristiwa ini harusnya menjadi pelajaran bagi umat manusia, bahwa menentang pencipta dengan melanggar Aturan-Nya, merusak alam, merampok sumber daya alam serta kehidupan bebas akibat penerapan aturan makhluk yang serba kurang lemah dan terbatas, akan mendatangkan murka dan azab Allah Swt. Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran yang artinya ”Jika kamu bersyukur pasti akan kami menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (Nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”, (QS. Lukman:7).
Mensyukuri nikmat Allah Swt. adalah dengan jalan melestarikan alam, memanfaatkan SDA dengan cara yang ma’ruf tidak serakah dan yang paling utama adalah menerapkan aturan yang telah Allah Perintahkan, dan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. serta para Khalifah sepeninggal Nabi. Maka janji Allah pasti kita dapatkan yaitu Allah pasti akan menambah Nikmat-Nya. tetapi sebaliknya jika kita ingkar, maka bencana yang akan kita tuai.
Wallahu’alam bish shawab