| 4 Views

Kesatuan Umat Kunci Kekuatan

Oleh : Ummu Tazkia
Muslimah Kotabatu, Bogor 

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan bahwa tidak ada kemenangan mutlak dalam pertarungan tersebut. Iran bahkan mengklaim mampu menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan mendorong tercapainya kesepakatan dalam gencatan senjata (Detik, 2026).

Di sisi lain, Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya berhasil menggerakkan negara-negara sekutunya untuk terlibat langsung. Hal ini memperlihatkan bahwa hubungan antarnegara tidak dibangun atas dasar kesetiaan, tetapi lebih kepada kepentingan masing-masing (Kompas, 2026).

Di tengah situasi tersebut, justru tampak sebagian penguasa negeri Muslim memilih bersekutu dengan kekuatan Barat. Kondisi ini menunjukkan bahwa perpecahan di tubuh umat Islam masih menjadi persoalan besar hingga hari ini.

Dari peristiwa ini, terlihat bahwa kekuatan negara adidaya tidak selalu seperti yang dibayangkan. Iran sebagai satu negara Muslim mampu menunjukkan perlawanan, sehingga menggambarkan bahwa dominasi global tidak sepenuhnya kokoh.

Selain itu, hubungan internasional memang bersifat dinamis. Tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang berubah-ubah sesuai situasi.

Namun yang lebih memprihatinkan adalah sikap sebagian penguasa negeri Muslim yang justru melemahkan posisi umat dengan keberpihakan kepada pihak luar. Padahal, umat Islam memiliki potensi besar jika mampu bersatu.

Jumlah penduduk yang besar, kekayaan alam yang melimpah, serta letak geografis yang strategis merupakan modal kuat untuk menjadi kekuatan dunia. Sayangnya, potensi ini belum terwujud karena tidak adanya persatuan yang kokoh.

Karena itu, penting bagi umat Islam untuk menyadari bahwa persatuan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan yang mendesak. Allah SWT berfirman:

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai" (QS. Ali Imran: 103).

Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan adalah perintah langsung dari Allah, bukan sekadar anjuran. Tanpa persatuan, kekuatan umat akan terus melemah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur" (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Islam, persatuan tersebut tidak hanya bersifat emosional, tetapi harus diwujudkan dalam satu sistem yang mampu menyatukan negeri-negeri Muslim. Dengan persatuan itu, umat Islam tidak hanya mampu menghadapi tekanan global, tetapi juga dapat membawa kebaikan bagi seluruh manusia.

Pada akhirnya, pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kekuatan sejati umat tidak terletak pada bergantung kepada pihak luar, melainkan pada kesatuan mereka sendiri.


Share this article via

1 Shares

0 Comment