| 40 Views

Kemiskinan Berlanjut, Kemana Peran Negara?

Oleh : Gaesta
Khoiru Ummah Al-Hufadz

Provinsi Jawa Barat yang memiliki luas daratan 3.710.061,32 hektar dan terdiri atas 27 wilayah. Adapun dari 27 wilayah tersebut diantaranya adalah wilayah kota dan sisanya sebanyak 21 adalah wilayah kabupaten. Menurut data yang diambil dari **** persentase penduduk miskin yang berada diwilayah Jawa Barat ini mencapai 11,1 persen. Sebagai pembanding, kota Jawa Barat memiliki peran persentase penduduk miskin paling rendah yakni sebesar 2,34 persen.

Kota paling miskin itu adalah Tasikmalaya. Kota Tasikmalaya resmi berdiri sebagai daerah otonom terpisah dari kebupaten Tasikmalaya pada 21 Juni 2001 lalu, melalui undang-undang Nomor 10 tahun 2001. Namun ternyata pemisahan ini melibatkan 713.545 jiwa dari 10 kecamatan dan diresmikan oleh Mendagri Hari Sabarno. Sebelumnya sejak 1976, kota Tasikmalaya berstatus sebagai kota administrasi sebelum akhirnya mandiri dimasa Bupati H Suljana WH. Setelah menjadi kota, wilayahnya terdiri dari 10 kecamatan dan kini memiliki 69 kelurahan.

Kota Tasikmalaya ini memiliki reputasi kuat sebagai pusat produksi kain bordir, sebuah tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak era kolonial Belanda. Kegiatan membordir ini bukan sekedar pekerjaan, tapi sudah menjadi sebagian dari budaya dan identitas masyarakat setempat.

Salah satu wilayah yang dikenal aktif dalam industri bordir adalah kelurahan Telaga Sari di Kecamatan Rawalu. Wilayah ini menjadi rumah bagi banyak pengrajin dan pengusaha bordir. Hingga saat ini, kawasan ini terus berkembang dan menjadi salah satu andalan ekonomi kreatif di kota Tasikmalaya.

Pada saat ini kota Tasikmalaya di pimpin oleh walikota Viman Al-Farizi Ramadhan yang sudah berpasangan dengan Deny Chandra. Menurut data BPS yang diperbarui Oktober 2024 tentang persentase penduduk miskin, kota Tasikmalaya yang terkenal akan santrinya ini menempati urutan teratas dari 9 kota paling miskin di Jawa Barat menurut data tersebut. Persentase penduduk miskinnya mencapai 11,1 persen.

Ironisnya kota yang terkenal akan produksi kain bordir ini justru menjadi kota termiskin. Utang luar negeri bertambah, subsidi hilang, rakyat dipalak dengan berbagai pajak, serta makin bertambah pula jumlah tikus berdasi yang korupsi. Selain itu karena penerapan ekonomi Liberal yang lahir dari Kapitalisme, membuat tingkat kemiskinan naik drastis sebab salah kebijakan.

Kapitalisme yang sangat berpengaruh ini telah menyebabkan kondisi kelaparan akut diberbagai negeri. Kemiskinan yang dialami Indonesia, misalnya merupakan kemiskinan sistemis yang membutuhkan upaya sistemis pula. Akibat yang dilakukan kebijakan pemerintah yang menerapkan sistem ekonomi kapitalisme lewat liberalisasi dan swastanisasi pengelolaan SDA adalah kemiskinan yang struktural atau biasa disebut kemiskinan sistemis. Ini adalah menurut pengamat ekonomi Dr. Arim Nasim.

Satu-satunya solusi untuk problematika ini adalah ditegakkannya Sistem Islam. Negara Islam akan menjalankan strategi ekonomi melalui pemberian jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dan asasi masyarakat. Negara pun wajib menyediakan lapangan pekerjaan. Maka dari itu negara Islam harus tegak.

Negara akan menciptakan iklim usaha yang sehat dan kondusif, menjalankan sistem administrasi dan birokrasi yang mudah, sederhana, cepat, dan tanpa pungutan, memberikan bantuan teknis, informasi, dan modal kepada masyarakat yang mampu bekerja. Serta menghilangkan sektor rill yang akan berdampak langsung pada perekonomian riil. Dengan ini perekonomian akan stabil dan masyarakat menjadi sejahtera.


Share this article via

56 Shares

0 Comment