| 110 Views

Kemerdekaan Hakiki hanya dari Islam

Oleh : Neng Saripah S.Ag
Pegiat Literasi

80 tahun sudah indonesia menyemarakan euforia yang katanya merupakan peringatan hari kemerdekaan. Tak lagi berada dalam tindasan penjajahan, kemiskinan, keterpurukan, kelaparan, dan ketidak adilan. Yah begitulah memang seharusnya yang dirasakan oleh seluruh rakyat indonesia saat ini, apalagi sudah berada di umur kemerdekaan yang kini telah tak muda lagi.

Ironinya, dikutip dari Tirto.id pada 7 agustus 2025, Jumlah kelas menengah di Indonesia faktanya mengalami penurunan yang signifikan, terutama dalam kurun waktu lima tahun. Informasi Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penurunan tersebut terjadi dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024. Situasi tersebut menunjukan bahwa ada 9,48 juta orang yang kini turun kasta dari kelompok kelas menengah menjadi kelas bawah (miskin).

Lebih lanjut Pada tahun 2019, proporsi kelas menengah mencapai 21,45 persen dari total penduduk. Namun, tahun 2024, kelompok ini terkikis turun menjadi 17,13 persen dari total penduduk, itu menunjukkan adanya penurunan sebanyak 4,32 persen. Secara absolut, jumlah kelas menengah Indonesia dalam lima tahun terakhir turun lagi sebesar 16,5 persen. (Tirto.id/7/08/2025)

Tak cukup hanya disitu, CNBC indonesia pada 8 Agustus 2025 juga mengeluarkan artikelnya yang menyatakan bahwa Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) yang mencatatkan data penurunan simpanan nasabah perorangan di perbankan pada triwulan I-2025. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa simpanan individu turun 1,09% secara tahunan. Hal itu mengindikasikan bahwa saat ini banyak masyarakat yang mulai menggunakan tabungan mereka untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.

Dalam riset Indonesia Economic Outlook Q3-2025, LPEM UI menyebutkan dana yang ditarik tersebut, umumnya digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makanan, listrik, air, serta transportasi. (CNBCIndonesia 8/8/2025)

Dilansir dari MetroTV pada 8 Agustus 2025, menyatakan bahwa hampir 1 juta pekerja indonesia terkena PHK, dan pekerja tekstil lah yang menjadi korban PHK terbanyak. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi mengungkapkan dalam periode Agustus 2024 hingga Februari 2025 terjadi pengurangan tenaga kerja secara signifikan.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 939.038 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di 14 sektor usaha berdasarkan klasifikasi KBLI. Pada periode yang sama, penyerapan tenaga kerja tercatat tumbuh sebanyak 523.383 orang. Dengan demikian, secara total terjadi pengurangan tenaga kerja sebanyak 415.655 orang. (MetroTV, 8/8/2025)

Ditengah krisis ekonomi yang sedang merajalela, Menohok memang, pemerintah yang seyogyanya mengevaluasi hasil kerja serta berusaha menata ulang apa apa yang di anggap salah agar saat peringatan kemerdekaan rakyat indonesia benar benar merasakan makna kemerdekaan, namun m
enjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, tokoh-tokoh lintas agama sibuk dengan acara menyampaikan Deklarasi Damai sebagai wujud komitmen bersama dalam merawat kebinekaan dan memperkuat persatuan nasional.

Lebih jauh rri.co.id pada 18 juni 2025 menyatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT) menyampaikan bahwa mereka memiliki peran yang penting untuk melawan narasi radikal terorisme yang semakin marak di dunia digital. Karenanya bagi mereka penting akan adanya kolaborasi damai antara media dan pemuda dalam upaya deradikalisasi terorisme. Konon kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadapi tantangan di dunia maya yang kerap digunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan ideologi mereka.

Peringatan 80 tahun kemerdekaan RI tahun ini sungguh penuh ironi. Begitu banyak persoalan negeri ini, hingga hampir merangsek semua lini kehidupan. Contohnya di bidang ekonomi, banyak terjadi PHK terhadap pekerja pada berbagai sektor, seperti industri tekstil, teknologi, dll. Penghasilan masyarakat stagnan bahkan cenderung turun, sedangkan pengeluaran makin besar karena harga-harga melambung tinggi dan banyak pungutan pajak, royalti, maupun embel-embel pungutan lain dari negara, akibatnya masyarakat terpaksa harus makan tabungan. Kondisi ini tentu menjadi rawan menjatuhkan warga kelas menengah pada jurang kemiskinan.

Persoalan lain yang juga terjadi adalah pembajakan potensi generasi muda, yang seharusnya mampu berpikir kritis, menjadi agen perubahan, menjadi puncak kekuatan masyarakat. Namun malah disibukan untuk mengokohkan jerat kapitalisme. Juga dibenturkan dengan  berbagai pemikiran rusak dan merusak seperti deradikalisasi, islam moderat, dialog antar agama, dll, yang menjadikan umat jauh dari pemikiran Islam yang sesungguhnya.

Pemikiran itu justru yang menjajah masyarakat hingga hari ini, sehingga tak heran jika masyarakat tidak bisa berpikir shahih.

Telah Jelas  terlihat bahwa sejatinya Indonesia meski sudah merdeka dari penjajahan fisik, namun faktanya Indonesia masih terjajah secara pemikiran, dan peraturan. Makna kemerdekaan yang seharusnya tampak pada kesejahteraan rakyat, yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar tiap rakyat.

Realitanya ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, pemerintah justru hadir sebagai sosok yang tidak bisa diandalkan. Jika demikian, sensinya Indonesia belumlah menjadi negara yang pantas dikatakan sudah Merdeka.

Kemerdekaan juga begitu nampak, ketika umat Islam kesulitan untuk berpikir sesuai dengan Islam. Dijauhkan bahkan di monsterisasi. Seyogyanya kondisi ini merupakan akibat dari penerapan sistem sekuler kapitalisme yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, tetapi malah melayani kepentingan kapitalis.

Akibatnya, sudah terpampang nyata di depan mata bahwa sistem kapitalis akan membuat si kaya makin kaya, sedangkan rakyat miskin akan terkurung di lembah kemiskinannya.

Penerapan sistem Islam kaffah merupakan kebutuhan urgen dan solusi hakiki atas kondisi ini. Sistem Islam mampu menyejahterakan rakyat dengan mengelola kepemilikan umum dan mengalokasikan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat. Negara menjamin kesejahteraan rakyat dengan memenuhi kebutuhan pokok rakyat (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan). Negara juga melakukan industrialisasi sehingga membuka lapangan pekerjaan sebanyak dan seluas luasnya. Negara juga memberikan tanah bagi yang mau menghidupkan tanah mati, bukan malah sibuk menyita tanah milik rakyat seperti yang terjadi saat ini. Bagi fakir miskin, negara memberikan santunan dari baitul mal.

Lebih dari pada itu Sistem Islam kaffah juga akan menjaga pemikiran umat islam tetap selaras dengan aturan syariat, dan hidup dalam ketaatan kepada Allah merupakan tujuan utama bagi masyarakat semua. Untuk meraih kemerdekaan hakiki, tentu membutuhkan aktivitas perubahan hakiki. Saat ini sudah ada geliat perubahan di tengah masyarakat, seperti fenomena One Piece, dll. Namun, sayangnya belum menyentuh pada akar permasalahan, yaitu penyebab utama dari berbagai kerusakan ini adalah penerapan  sistem kapitalisme. Untuk itu, perlu perubahan hakiki yang dipimpin oleh jemaah dakwah Islam ideologis yang melakukan perubahan hakiki dari sistem kufur menuju Islam. Karena hanya dengan Islamiah Kemerdekaan Hakiki mampu kita raih.

Wallahu alam bishawab


Share this article via

26 Shares

0 Comment