| 40 Views
Kemelut Perang di Tengah Hari Kemenangan
Foto: Israel Serang Iran, Ledakan Bikin Warga Berlarian (via REUTERS/WANA)
Oleh: Ummu Aqiil
Gejolak konflik Amerika–Israel dengan Iran tak kunjung usai. Pada bulan April 2026, klaim kemenangan antara kedua belah pihak memicu eskalasi tinggi.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mendeklarasikan kemenangan besar atas Amerika Serikat dan Israel pada awal April 2026, bertepatan dengan hari ke-40 serangan, yang dipandang sebagai momen krusial dalam budaya perlawanan mereka.
Meski klaim kemenangan bergulir, perang tetap berlanjut. Agresi Amerika dan Israel hingga akhir Maret dan awal April 2026 terus dilakukan dengan serangan ke infrastruktur militer dan nuklir Iran.
Salah satu sumber menyebutkan, kampanye militer Amerika dan Israel bertujuan untuk melemahkan kemampuan nuklir Iran. Sebaliknya, klaim kemenangan Iran juga didasarkan pada keberhasilan menahan gempuran tersebut.
Perang yang terus berlanjut antara Iran dan AS–Israel bukan berhenti sampai di situ. Perlu digarisbawahi, keberanian Iran untuk tetap bertahan dalam perlawanannya terhadap AS–Israel seharusnya bisa dijadikan contoh. Setidaknya, hal ini menunjukkan keberanian dan kewibawaan sebagai sebuah negara agar tidak mudah diremehkan sehingga kedaulatannya tetap terjaga.
Walaupun demikian, ketegangan pascaperang tidak hanya dirasakan oleh pihak yang terlibat saja. Konflik perang AS–Israel dan Iran juga berdampak signifikan terhadap situasi di Palestina. Serangan udara terkoordinasi oleh AS dan Israel ke Iran tidak menghentikan fakta bahwa wilayah Palestina tetap menjadi medan konflik yang memanas, khususnya Gaza dan Tepi Barat.
Jiwa penjajah yang melekat pada Israel setidaknya sudah lama diketahui. Pascakemelut perang AS–Israel dengan Iran tidak membuat warga Gaza merasa aman.
Di wilayah Tepi Barat dilaporkan adanya eksekusi oleh Israel terhadap warga Palestina yang tidak bersenjata dari jarak dekat di Kota Jenin.
Parlemen Israel menyetujui aturan hukuman mati terhadap warga Palestina yang dianggap melakukan tindakan terorisme. Akibatnya, Israel mendapat kecaman keras dari Majelis Umum PBB dan komunitas internasional.
Pembelaan Iran terhadap Palestina mencuat dengan ancaman terhadap Israel jika melanjutkan serangannya di Lebanon dan wilayah Palestina lainnya.
Kebiadaban Israel dalam perang sudah tampak jelas. Bukan hanya pihak yang terlibat perang yang menjadi sasaran, tetapi warga Palestina juga terus menjadi target.
Dengan dalih terorisme, mereka dengan penuh kebiadaban mengeksekusi warga Palestina yang tidak bersenjata. Padahal, perang juga memiliki aturan.
Dalam PBB sendiri, aturan perang atau Hukum Humaniter Internasional (HHI) merupakan aturan yang seharusnya tidak dilanggar. Aturan tersebut membatasi dampak konflik bersenjata, melindungi warga sipil, dan mengatur cara berperang berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 dan Piagam PBB, dengan prinsip utama kemanusiaan, pembedaan warga sipil dan militer, proporsionalitas, serta larangan penderitaan yang tidak perlu.
Namun faktanya, Amerika sebagai penggagas tegaknya PBB tidak mampu menghentikan tindakan Israel terhadap warga Palestina yang tidak berdaya, dengan dalih yang direkayasa.
Tentu, hal ini tidak bisa dibiarkan.
Dalam Islam, aturan perang juga telah ditetapkan secara jelas. Islam sangat mengecam segala bentuk kezaliman dalam berperang. Islam melarang membunuh wanita, anak-anak, dan lansia, serta memerintahkan untuk memperlakukan manusia secara layak.
Dalam perang, Islam juga melarang merusak fasilitas umum dan lingkungan. Selain itu, dilarang memutilasi mayat musuh, berkhianat, serta menyiksa tawanan. Termasuk pula larangan merusak atau menghancurkan tempat ibadah.
Perang dalam Islam bukanlah bentuk penjajahan. Perang atau jihad bertujuan untuk meninggikan agama Allah, agar ajaran-Nya menjadi pedoman bagi kehidupan manusia.
Namun fakta yang terjadi menunjukkan bahwa Israel banyak melakukan pelanggaran dan kezaliman, termasuk mengeksekusi warga yang tidak terlibat dalam perang. Hal ini dibiarkan oleh Amerika sebagai sekutunya.
Israel juga tidak memandang situasi, bahkan pada momen hari kemenangan umat Islam di bulan Syawal.
Kezaliman Israel dan Amerika terhadap dunia telah berlangsung lama. Namun, sistem global yang mereka kendalikan membuat dunia Islam tidak mampu bertindak secara optimal. Hal ini dipengaruhi oleh sistem sekuler kapitalisme yang juga dianut oleh banyak negara Muslim, serta keterikatan pada lembaga internasional seperti PBB.
Karenanya, umat Islam tidak layak bergantung pada sistem tersebut.
Seharusnya, umat Islam bersatu dan tidak berpecah belah. Keberanian Iran dalam menghadapi tekanan Amerika dan Israel dapat menjadi pelajaran penting dalam menjaga kedaulatan.
Hanya dengan persatuan, umat Islam dapat mewujudkan sistem Islam yang mampu menghentikan berbagai bentuk kezaliman dan penindasan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.