| 39 Views

Kelaparan Sistemik di Gaza, Umat Islam Harus Terus Bersuara

Oleh: Diana Nofalia, S.P.
Aktivis Muslimah

Gaza semakin menyedihkan. Israel menciptakan Genosida cara baru dengan menciptakan kelaparan Sistemik pada rakyat Gaza. Solusi yang ada tidak membuat Israel menghentikan segala kekejamannya. Umat Islam harus terus bersuara.

Dalam tiga hari terakhir melansir dari The Japan Times, 21 anak meninggal di rumah sakit Al-Shifa, Al-Aqsa Martyrs, hanya dalam waktu 72 jam karena malnutrisi. Artinya, tujuh anak tewas setiap hari karena kurang gizi.

Sementara itu, antrian bantuan justru berubah menjadi barisan kematian. Dalam beberapa pekan terakhir, hampir 900 warga Gaza tewas saat berusaha mendapatkan makanan sebagian besar di pusat bantuan swasta. (https://www.cnbcindonesia.com/research/20250723095945-128-651426/tsunami-kelaparan-ribuan-anak-gaza-tewas-karena-kurang-gizi)

Lebih dari 1.000 warga Palestina kini telah dibunuh oleh militer Israel saat mencoba mendapatkan makanan di Gaza sejak Yayasan Kemanusiaan Gaza [GHF] mulai beroperasi pada 27 Mei.

Sekitar 900.000 anak di Gaza menderita kelaparan, dan 70.000 di antara mereka mengalami malnutrisi. (https://www.bbc.com/indonesia/articles/cpd1weddwxlo)

Bentuk kebiadaban Zionis Yahudi makin hari semakin meningkat di Gaza. Aksi kebiadaban ini bahkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Mereka memperlakukan rakyat di Gaza seolah bukanlah manusia dengan membiarkan krisis kelaparan yang sangat mengerikan.

Dua juta jiwa penduduk yang terjebak dalam blokade, merasakan kelaparan hebat. Sejak gencatan senjata enam pekan gagal diperpanjang dan Israel memberlakukan blokade penuh pada 2 Maret 2025, truk bantuan hanya diperbolehkan masuk dalam jumlah yang nyaris simbolik. Menjadikan kelaparan sebagai alat genosida adalah cara yang sangat keji dan tidak manusiawi.

Kekejaman Zionis tak mempan hanya dengan retorika, dan bantuan kemanusiaan. Dan itu bukanlah solusi sesungguhnya. Apalagi zionis senantiasa dibela AS dan veto AS. Mandulnya PBB makin nyata. Disisi lain pemimpin muslim juga sudah mati rasa, abai pada seruan Allah dan RasulNya. Pemahaman bahwa umat Islam adalah satu tubuh sudah diindahkan dan bahkan mungkin sudah dilupakan. Sekat kewilayahan telah memporak-porandakan pemahaman ini sehingga musuh dengan mudahnya melakukan genosida di Gaza.

Propaganda barat telah melemahkan umat Islam. Sejatinya itu hanya ilusi, yang ditanamkan oleh para penguasa yang berkhianat, hingga pasukan umat, para ulama, dan rakyatnya pun menyerah. Padahal umat memiliki kekuataan luar biasa yang bersumber dari akidah yang kokoh. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa umat islam memiliki kekuatan besar yang mampu menjadikan Khilafah sebagai negara adidaya.

Kekejaman yang terjadi di Gaza harusnya dapat menyadarkan umat akan solusi hakiki untuk Palestina, yaitu jihad dan tegaknya Khilafah. Tidak ada solusi lainnya. Penyadaran harus terus dilakukan dan makin ditingkatkan seiring dengan bukti nyata kejahatan Zionis.

Dengan segala Genosida di Gaza keniscayaan harus adanya Jamaah dakwah ideologis yang senantiasa menyadarkan umat. Jamaah dakwah ini harus terus memimpin umat untuk mengembalikan kemuliaan yang akan terwujud ketika khilafah tegak kembali. Kebangkitan pemikiran Umat harus diwujudkan sehingga akan terus berjuang mengikuti thariqah dakwah Rasulullah saw. Makan dengan begitu Islam rahmatan lil a'lamin itu akan terwujud.

Untuk tujuan mulia ini maka para pengemban dakwah harus meningkatkan daya juangnya dalam menyadarkan umat. Umat harusnya tergugah perasaan dan pikirannya dengan kondisi umat Islam di Gaza. Disisi lain pengemban dakwah juga harus meningkatkan keyakinan dan keistiqamahan di jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah. Selain itu terus mendekatkan diri pada Allah sembari melayakkan diri menjadi hamba Allah yang layak mendapat pertolongan Allah.

Wallahu a'lam.


Share this article via

49 Shares

0 Comment