| 128 Views
Kelaparan Sistemik Cara Baru Genosida Gaza, Islam Solusinya
Oleh : Sihatun
Boyolali
Lebih dari 1.000 warga Palestina kini telah dibunuh oleh militer Israel saat mencoba mendapatkan makanan di Gaza sejak Yayasan Kemanusiaan Gaza [GHF] mulai beroperasi pada 27 Mei," kata Thameen Al-Kheetan, juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB.
"Hingga 21 Juli, kami mencatat 1.054 orang tewas di Gaza saat berusaha mendapatkan makanan; 766 di antara mereka tewas di sekitar lokasi GHF dan 288 di dekat konvoi bantuan PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya," ujarnya kepada BBC World Service. Dr. Mohammed Abu Salmiya, Direktur Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, mengatakan 21 anak telah meninggal dunia akibat malnutrisi dan kelaparan di seluruh wilayah tersebut dalam 72 jam terakhir.
Sekitar 900.000 anak di Gaza menderita kelaparan, dan 70.000 di antara mereka mengalami malnutrisi, ujarnya kepada BBC.
Puluhan ribu anak itu menghadapi angka kematian yang mengkhawatirkan, kata Dr. Mohammed Abu Salmiya. Dia menambahkan, pasien diabetes dan ginjal berada pada risiko khusus. Seorang juru bicara Kementerian Kesehatan di Gaza yang dipimpin Hamas mengatakan 33 orang, termasuk 12 anak-anak, telah meninggal dunia dalam 48 jam terakhir.
Jumlah total kematian akibat kekurangan gizi mencapai 101 orang, menurutnya. Sebanyak 80 di antara mereka adalah anak-anak, sejak dimulainya perang pada tahun 2023.
Malnutrisi melonjak. Sebanyak 90.000 perempuan dan anak-anak sangat membutuhkan perawatan. Hampir satu dari tiga orang tidak makan selama berhari-hari," kata WFP dalam sebuah pernyataan pada Minggu (20/07).
"Bantuan pangan adalah satu-satunya cara bagi kebanyakan orang untuk mengakses makanan karena harga sekantong tepung terigu seberat satu kilogram telah melonjak menjadi lebih dari US$100 (Rp1,6 juta) di pasar lokal," tulis WFP dalam keterangan mereka.
Pada Maret lalu, Israel menutup semua pintu masuk ke Gaza. Israel juga mencegah semua barang, termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan masuk ke Gaza. Dua minggu kemudian, Israel melanjutkan serangan militer sekaligus mengakhiri gencatan senjata dua bulan dengan Hamas.
Blokade tersebut telah memutus pasokan obat-obatan penting, vaksin, dan peralatan medis yang dibutuhkan oleh sistem perawatan kesehatan Gaza yang kewalahan.
Pada Minggu (20/07), Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan bahwa 4.400 truk berisi bantuan kemanusiaan telah memasuki Gaza dari Israel sejak pertengahan Mei. Sebanyak 700 truk lainnya sedang menunggu untuk diangkut oleh PBB ke Gaza dari perbatasan Israel, tambahnya.
Israel berkeras bahwa tidak ada kekurangan bantuan di Gaza. Israel justru menuduh Hamas mencuri dan menyimpan bantuan kemanusiaan untuk kemudian diberikan kepada para anggotanya atau dijual untuk mengumpulkan dana.
Pada Senin (21/07), sebanyak 28 negara, termasuk UK, Kanada, dan Prancis, menyerukan perang di Gaza segera diakhiri. Puluhan negara itu menegaskan penderitaan warga sipil telah "mencapai titik terendah".
Mereka mengatakan model pengiriman bantuan Israel berbahaya dan mengutuk apa yang mereka sebut sebagai "pemberian bantuan secara bertahap dan pembunuhan tidak manusiawi terhadap warga sipil" yang mencari makanan dan air.
Kementerian Luar Negeri Israel menolak pernyataan negara-negara tersebut seraya mengatakan bahwa pernyataan tersebut "tidak sesuai dengan kenyataan dan mengirimkan pesan yang salah kepada Hamas".
Namun, hampir setiap hari ada laporan warga Palestina yang tewas saat mencari bantuan sejak GHF yang didukung Israel dan AS mulai mendistribusikan bantuan pada akhir Mei.
"Saat ini, satu kilogram tepung harganya 300 shekel [Rp1,4 juta] di pasar… dan kami melarat," ujar Alaa Mohammed Bekhit kepada BBC News Arabic. "Kami bahkan tidak mampu menyediakan kebutuhan paling dasar sekalipun."
Bekhit juga memaparkan serangan harian yang dihadapi orang-orang di dekat pusat bantuan.
"Seorang pemuda duduk di sebelah saya, dan tiba-tiba ia tertembak di kepala," ujarnya.
"Kami bahkan tidak tahu dari mana peluru itu berasal. Kami di sana mengejar [bantuan] untuk bertahan hidup, tetapi kami mendapati diri kami berlumuran darah. Hari ini, siapa pun yang mengambil sekantong tepung akan dihujani peluru."
Fakta di Gaza semakin menghawatirkan, Malnutrisi, kelaparan dan pembunuhan di dekat lokasi bantuan semakin menghawatirkan di Gaza.
Dimanakah suara dunia yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia? Diamnya dunia Internasional termasuk dunia muslim hari ini yang hanya mampu melakukan kecaman kosong yang tanpa aksi nyata. Sikap pasif dan tidak mengambil tindakan strategis, hanya mengikuti tekanan diplomatik politik antar negara.
Tak kalah kejinya , para rezim Arab, terutama rezim Mesir, juga terlibat dalam menciptakan bencana kelaparan di Gaza. Presiden Asisi sampai hari ini enggan membuka gerbang perbatasan Rafah. Padahal hanya dari sanalah bantuan ke Gaza dapat di salurkan. Rezim Mesir berdalih bahwa membuka gerbang Rafah akan menciptakan perluasan konflik, ketidakstabilan dan banjir pengungsi asal Gaza masuk ke negaranya.
Sungguh sikap para rezim Arab , terutama rezim Mesir adalah penghianatan terhadap Islam dan kaum muslim. Mereka lebih memilih berkasih sayang dengan kaum kafir pembunuh dan penjajah umat di bandingkan dengan sesama muslim.
Genosida yang berlarut-larut di Gaza adalah bukti keras betapa dunia diam dan PBB tak berguna.Negara negara barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat bahkan bersekutu mendukung Genosida. Tragisnya lagi, para penguasa Dunia Islam yang punya kekuatan membebaskan Gaza justru bersekongkol dengan para penjajah.
Mereka menggelontorkan uang ribuan triliun rupiah ke Amerika Serikat yang nyata nyata berlumuran darah Gaza.
Inilah bukti nyata, derita Gaza menunjukkan bahwa kelemahan kaum karena tidak memiliki kekuatan global yang terorganisir untuk menghidupkan rasa persatuan atas dasar iman dan aqidah Islam, bukan hanya sekedar slogan slogan politik semata.
Aqidah sebagai tali persatuan umat Islam tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam mengatur kebijakan baik dalam dan luar negeri.
Umat Islam tercerai berai oleh kekuatan kapitalis global, sampai kapan umat Islam akan menjadi penonton penderita di Gaza, apakah umat Islam masih berharap pada PBB dan negara negara Arab mau membantu Gaza?
Sudah saatnya kaum muslim sadar dan harus ada upaya-upaya untuk menghentikan genosida di Gaza dengan kembali mewujudkan kekuatan global yaitu Khilafah Islam.
Hanya dengan jihad di bawah komando Khilafah Islamiyah yang bisa membebaskan Gaza. Dengan Khilafah Islam kaum muslimin tidak hanya sekedar beretorika, namun dengan aksi nyata dengan mengirimkan tentara untuk berjihad.
Dengan kekuatan global sebagai negara adidaya yang mampu menangkis serangan dan juga mengatasi kelaparan yang menimpa Gaza khususnya dan kaum muslimin secara keseluruhan.
Para penguasa muslim , kelak juga akan di mintai pertanggung jawaban di hadapan Alloh atas pengkhianatan mereka terhadap Gaza, keengganan mereka mengirimkan bantuan dan tentara untuk membebaskan negeri Palestina dari cengkeraman entitas Yahudi. Sungguh siksa Alloh sangat pedih.