| 41 Views
Kelaparan di Gaza, umat Butuh Solusi Hakiki
Oleh: Siti Rofiqoh
Persoalan Palestina dan kebiadaban zionis Yahudi sampai hari ini makin meningkat, bahkan yang dilakukan oleh Zionis Yahudi sudah melampaui batas kemanusiaan.
Mereka memblokade bantuan makanan yang masuk untuk warga Palestina, membombardir warga sipil, tenaga medis anak-anak dan juga wanita. Tanpa peduli dengan kecaman-kecaman dunia yang mengarah ke mereka.
Derita anak Palestina di Gaza semakin menyedihkan. Di Gaza, anak-anak tak meninggalkan dunia karena virus langka atau senjata, tapi juga karena hal paling kuno, rasa lapar yang menelanjangi tubuh hingga tinggal tulang.
Dalam tiga hari terakhir melansir dari The Japan Times, 21 anak meninggal di rumah sakit Al-Shifa, Al-Aqsa Martyrs, hanya dalam waktu 72 jam karena malnutrisi. Artinya, tujuh anak tewas setiap hari karena kurang gizi.
Sejak gencatan senjata enam pekan gagal diperpanjang dan Israel memberlakukan blokade penuh pada 2 Maret 2025, truk bantuan hanya diperbolehkan masuk dalam jumlah yang nyaris simbolik.
Stok pangan yang sempat menumpuk selama masa gencatan habis perlahan, hingga wilayah yang sejak Oktober 2023 dibombardir ini mengalami kekurangan terparah dalam sejarah konflik. Direktur World Food Program, Carl Skau, yang mengunjungi Gaza pada awal Juli, tak menemukan kata lain selain "terburuk yang pernah saya lihat." (CNBC Indonesia.com 23/07/2025).
Persoalan yang sedang dihadapi oleh Gaza, bukan lagi persoalan konflik dua wilayah antara Palestina dan Israel. Ini lebih menyangkut asas kemanusiaan.
Apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina adalah genosida yang dilakukan secara terang-terangan oleh Israel. Maka seharusnya, kita tidak boleh menutup mata terhadap nasib saudara kita yang ada di sana.
Bombardir, pembantaian dan blokade bantuan makanan yang dilakukan oleh Israel, menyebabkan banyak warga Gaza yang mengalami kelaparan yang sangat memilukan bagi dunia.
Blokade bantuan makanan yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Gaza, menyebabkan banyak anak-anak Gaza mengalami malnutrisi. Meski sempat dikecam oleh PBB tapi Israel seolah tuli dengan kecaman tersebut.
Berbicara bantuan stok makanan untuk warga Gaza. Masalah utamanya itu bukan terletak di perhatian dunia tetapi terletak dengan keberingasan Israel yang memblokade bala bantuan tersebut. Terbukti dengan banyaknya stok bantuan makanan yang dihalangi di perbatasan sehingga tidak berhasil masuk ke wilayah Gaza.
Setelah kita menyaksikan dengan mata dan kepala kita tentang keberingasan Israel yang menyerang anak-anak, lantas apakah kita menganggap neraka terlalu kejam untuk mereka??
Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, berpandangan Israel seharusnya tidak khawatir tentang kelaparan di Gaza, meski hal itu menuai beragam kecaman.
Politisi sayap kanan dari Otzma Yehudit tersebut menyatakan Israel akan 'berlomba-lomba' untuk menghapus Jalur.
Alhamdulillah kita menghapus kejahatan ini. Seluruh Gaza akan menjadi Yahudi," ujar Eliyahu kepada Radio Kol Barama pada hari Kamis, menurut Ynet.
"Kita seharusnya tidak berurusan dengan kelaparan di Gaza – biarkan dunia yang mengurus mereka. Tidak ada bangsa yang memberi makan musuhnya. Apakah kita sudah benar-benar gila? Haruskah kita peduli dengan makan malam mereka?" tambahnya. (Republika.com 26/07/2025).
Pernyataan yang disampaikan oleh Amichai Eliyahu, harusnya mampu membuka mata seluruh kaum muslimin di penjuru dunia. Betapa beringasnya dan dzolimnya Israel terhadap warga Gaza Palestina. Mereka bahkan menganggap seolah-olah binatang jauh lebih penting dari Warga di Gaza.
Dengan angkuhnya, mereka menunjukkan topeng aslinya di muka dunia.
Meskipun pernyataan Amichai Eliyahu sempat menuai beragam kecaman.
Sebenarnya jika kita lihat secara kritis,tak ada bedanya antara Amichai Eliyahu dan Netanyahu.
Jika Amichai Eliyahu,secara transparan menunjukkan wajah aslinya di mata dunia. Maka Netanyahu melakukannya dibalik telapak tangan. Di satu sisi dia membolehkan adanya bantuan makanan untuk warga Gaza. Tapi di sisi yang lain ia justru memblokade dan memborbardir bala bantuan makanan yang masuk untuk warga Gaza.
Ada banyak negara yang mengirimkan bantuan makanan, obat-obatan untuk warga Gaza. Dengan dasar kemanusiaan dibutuhkan oleh mereka adalah kebebasan tidak cukup hanya makanan dan obat-obatan.
Kebebasan yang diperlukan oleh Palestina itu hanya akan didapatkan melalui jihad dengan pasukan militer yang akan menghadang langsung dan memblokade serta membumi hanguskan zionis Israel.
Bangsa penghianat, playing victim,pembuat onar bahkan jauh lebih buruk dari binatang. Memang sudah seharusnya dihapuskan bukan dikasih panggung untuk melakukan genosida dan mirisnya justru kita menjadi penonton.
Gerakan militer dan jihad yang akan membebaskan Palestina hanya akan didapatkan dengan cara mempersatukan seluruh kaum muslimin yang ada di penjuru dunia, di bawah naungan satu kepemimpinan yang disebut dengan Khilafah.
Khilafah ini lah yang akan menjadi junnah (perisai) bagi seluruh kaum muslimin yang ada di penjuru dunia. Jika hari ini banyak kaum muslimin di sana yang dilecehkan di teror, bahkan Islam menjadi bahan lelucon dan lain sebagainya. Maka Dengan hadirnya Khilafah inilah yang akan menghapus itu semua.
Dengan Khilafah tidak akan ada lagi negara kaum muslimin yang dijajah, kemiskinan yang melanda akan teratasi, power Islam akan naik kembali. Tentunya ini didapatkan dengan ridho Allah dengan Khilafah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah di tengah-tengah kehidupan. Seperti mana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat.
Khilafah bukanlah dongeng atau khayalan semata. Dia pernah ada, buktinya banyak. Dan sudah saatnya kita menjemput bisyaroh Rasulullah yakni akan ada khilafah sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah.
Maka tugas kita hari ini adalah mendakwahkan umat Islam agar kembali kepada fitrahnya dan memahami Islam yang sesungguhnya agar tidak terjajah dengan tsaqofah asing yang memang menginginkan islam itu tidak bangkit kembali.
Wallahu'alam