| 29 Views

Kekuatan Besar Itu Nyata, tetapi Umat Islam Memilih Terpecah

Oleh: Kiki Puspita

Konflik antara Amerika Serikat dengan Iran serta Israel kembali menyita perhatian dunia. Ketegangan ini bukan semata-mata disebabkan oleh kekuatan militer, melainkan juga oleh pertarungan pengaruh ideologi dan kepentingan global. Publik pun dibuat bingung karena masing-masing pihak mengklaim telah memenangkan konflik tersebut.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, secara terbuka mengumumkan kemenangan negaranya dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel. Ia menekankan bahwa strategi “perlawanan” yang diusung Iran berhasil mematahkan dominasi Barat beserta sekutunya, sekaligus memperkuat posisi Iran. “Iran telah membuktikan bahwa kekuatan iman dan kemandirian mampu mengalahkan kekuatan materialistis. Hari ini, dunia melihat Iran bukan hanya sebagai negara yang bertahan, tetapi sebagai mercusuar inspirasi bagi mereka yang mencari keadilan,” ujar Mojtaba Khamenei dalam sebuah forum di Teheran (mediaindonesia.com).

Di pihak lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga mengklaim telah meraih kemenangan mutlak setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Langkah ini menjadi jeda pertama dalam konflik bersenjata yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari lalu (Kompas.com).

Presiden Donald Trump juga mengejek pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang mengklaim kemenangan dalam kesepakatan gencatan senjata sebagai “penipuan”, serta menyerang CNN karena melaporkannya.

Pernyataan tersebut, yang menyebutkan bahwa Iran mencapai kemenangan besar dan memaksa Amerika Serikat menerima rencana 10 poinnya, diperoleh CNN dari pejabat Iran dan dilaporkan di sejumlah media pemerintah Iran.
“Pernyataan yang diduga dikeluarkan oleh CNN World News adalah penipuan, sebagaimana diketahui CNN,” tulis Trump. “Pernyataan palsu itu dikaitkan dengan situs berita palsu (dari Nigeria) dan, tentu saja, segera diambil oleh CNN serta disiarkan sebagai berita utama yang ‘sah’” (sindonews.com).

Di tengah berbagai klaim kemenangan dari masing-masing pihak, terdapat pelajaran penting bagi kita semua, khususnya bagi dunia Islam. Kondisi ini seharusnya menyadarkan bahwa dunia Islam memiliki potensi kekuatan yang sangat nyata apabila terikat dalam kesatuan yang kokoh. Sejumlah fakta dalam konflik ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak mampu menundukkan Iran, meskipun Iran berdiri sendiri sebagai satu negara Muslim. Hal ini menegaskan bahwa kekuatan militer besar tidak selalu menjamin kemenangan secara cepat.

Selain itu, Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya berhasil menyeret sekutu-sekutunya untuk terlibat langsung dalam konflik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam aliansi global, kepentingan masing-masing negara tetap menjadi faktor penentu utama. Di sisi lain, sikap sebagian penguasa negeri Muslim justru bersekutu dengan kekuatan asing. Alih-alih membangun solidaritas umat, mereka justru memperlemah posisi dunia Islam secara keseluruhan.

Dari sini perlu dicermati bahwa Iran mampu menunjukkan kekuatan persenjataannya dan mengajukan sejumlah syarat dalam konflik tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa keberanian dan ketahanan dapat memaksa kekuatan besar untuk bernegosiasi.

Konflik ini juga menegaskan bahwa satu negara Muslim seperti Iran, meskipun berdiri sendiri, mampu membuat Amerika Serikat dan Israel berada dalam tekanan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sistem global saat ini, setiap negara cenderung mengutamakan kepentingannya masing-masing.

Perlu disadari bahwa dalam politik luar negeri tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Yang ada hanyalah kepentingan. Negara akan bersekutu selama ada manfaat dan akan berpisah ketika kepentingan berubah. Di sinilah letak kelemahan dunia Islam saat ini. Ketika masing-masing negara berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling berseberangan, kekuatan besar umat menjadi terpecah dan mudah didominasi.

Padahal, Allah Swt. telah memberikan peringatan tentang pentingnya persatuan:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Dari ayat ini, Allah Swt. menegaskan bahwa persatuan bukan sekadar pilihan, melainkan perintah. Perpecahan justru membuka pintu kelemahan dan dominasi pihak lain. Allah Swt. juga mengingatkan dampak buruk dari perpecahan:
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (QS. Al-Anfal: 46).

Ayat ini sangat relevan dengan kondisi dunia Islam saat ini. Ketika terjadi perpecahan, kekuatan umat melemah, bahkan dapat hilang tanpa persatuan. Potensi besar umat hanya akan menjadi kekuatan yang terpecah dan mudah dikendalikan oleh kekuatan global. Sebagian pemikiran dalam dunia Islam memandang bahwa kesatuan ini harus diwujudkan dalam satu kepemimpinan yang menyatukan seluruh negeri Muslim, yaitu dalam sistem Daulah Islamiyah, yang mencakup kesatuan politik, ekonomi, dan militer umat Islam.

Umat Islam juga pernah menjadi kekuatan besar dunia ketika berada dalam satu kepemimpinan, yaitu dalam sistem Islam. Hal ini menunjukkan bahwa persatuan bukan sesuatu yang mustahil, melainkan sesuatu yang pernah terwujud dan layak untuk diperjuangkan.

Kesatuan dan persatuan bukan sekadar pilihan, melainkan perintah. Perpecahan justru membuka pintu kelemahan dan hegemoni global terhadap negeri-negeri Muslim. Kesatuan negeri-negeri Muslim merupakan kebutuhan mendasar saat ini. Tanpa persatuan dalam aspek politik, ekonomi, dan militer, kekuatan umat akan tetap dikuasai oleh korporasi dan pejabat yang tidak amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya kepada masyarakat.

Inilah saatnya mencampakkan sistem kufur kapitalisme dan beralih kepada sistem Islam yang diyakini mampu mengantarkan pada persatuan dan kesatuan. Dengan meninggalkan perpecahan, umat diharapkan dapat bergerak menuju kehidupan yang diridai Allah Swt.

Wallahu a‘lam bi ash-shawab.


Share this article via

69 Shares

0 Comment