| 82 Views
Kekerasan Terus Berulang, Negara Hanya Diam!
Oleh : Rita Razis
Aktivis Muslimah
Rasulullah SAW dalam sebuah hadit yang artinya: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah Islamiyah, sesungguhnya lah kedua orang tuanya menjadikan mereka Yahudi atau Nasrani”.
Setiap anak pasti memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan teman-temannya. Termasuk karakter anak juga dipengaruhi dengan orang tua, orang terdekat dan lingkungannya. Akan tetapi, anak yang melakukan kesalahan atau perilaku diluar harapan sering dianggap nakal. Bahkan ada yang tidak segan untuk melukai atau memberi hukum sebagai sanksi.
Seperti yang terjadi di Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Desa kedung Lengkong, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Seorang santri S (16) mengalami luka bakar serius akibat insiden pembakaran yang dilakukan oleh MGS (21) kakak dari teman ponpes korban. Menurut Iptu Joko Purwadi, Kasat Reskrim Polres Boyolali. Hal ini terjadi karena adik tersangka mengadu jika HPnya hilang dan menduga diambil oleh korban. Awalnya tersangka hanya mengintrograsi dan menakut-nakuti korban dengan bensin dan korek. Akan tetapi, pembakaran kepada korban terjadi di ruang tamu ponpes (tribunnews.com, 19 Desember 2024).
Ketika Masyarakat Tidak Terjaga
Sungguh miris, ketika belum ada kejelasan yang pasti tetapi main hukum sendiri langsung dilakukan. Benar, jika kesalahan yang dilakukan anak tidak bisa dibiarkan akan tetapi ada cara dan pendekatan untuk menyelesaikan dan menasehatinya. Namun, seringkali orang itu mudah terbakar emosi dan melakukan sesuai apa yang mereka inginkan, tanpa memikirkan akibat setelah perbuatan tersebut.
Begitu pula, pada lingkungan dan pergaulan anak sekarang. Mereka seakan bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan baik atau buruknya perbuatan tersebut. Lemahnya pengawasan dan kurangnya peran pendidikan sekarang membuat generasi tidak punya arah dan tidak memiliki jati diri. Hal ini, yang mengakibatkan para anak muda mudah terbawa arus negatif. Akibatnya, circle yang salah semakin membuat kondisi anak muda semakin parah.
Sayangnya, meski kondisi para generasi muda sedang tidak baik-baik saja. Banyak pula yang tidak peduli dengan mereka. Menganggap kesalahan tersebut merupakan hal yang biasa. Kemudian peran dari orang terdekat pun juga tidak bisa membimbing, memberi contoh dan mendampingi mereka. Maka tidak heran, jika anak muda juga menjadi sasaran empuk tindak kekerasan. Akibatnya, semakin sulit untuk mengarahkan para pemuda dan masyarakat.
Selain itu, abainya peran dari negara terhadap kerusakan yang terjadi dimasyarakat membuat masalah ini semakin berlarut-larut dan tidak segera terselesaikan. Sebaliknya, negara hanya sibuk membangun dan meningkatkan ekonomi saja. Inilah buah dari sistem kapitalis sekuler, sistem yang memisahkan agama dengan kehidupan dan membuat negara tidak menjalankan tugasnya dengan maksimal. Serta liberalisasi atau kebebasan yang diberikan kepada rakyatnya membuat mereka tidak memiliki aturan yang pasti untuk mengontrol setiap tindakan dan keputusan. Akibatnya, kondisi masyarakat semakin karut marut.
Solusi dari Sistem Islam
Berbeda halnya jika menerapkan sistem Islam. Sistem yang menjaga dan mengayomi rakyatnya. Dimana sistem ini membangun dan memprioritaskan ketaatan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga rakyat akan dijaga dengan aturan Islam. Maka tidak akan ada masyarakat yang rusak dan melanggar syariat, termasuk melakukan kekerasan kepada orang lain. Sebab mereka memiliki kesadaran tentang hubungannya dengan Allah Swt. Hal ini, membuat mereka tidak semena-mena dan mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat.
Kemudian para anak muda juga dipersiapkan dengan sebaik-baiknya dengan sistem pendidikan yang unggul dan merata diseluruh lapisan masyarakat. Dengan tujuan agar mereka menjadi generasi yang unggul, taat dan mustanir. Oleh sebab itu, negara akan menjalankan amanahnya dengan maksimak dan sebaik-baiknya. Jadi, hanya dengan sistem Islamlah. Masyarakat akan terbentuk ketaatanya dan kerusakan yang terjadi akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Wallahu a'lam bissowab.