| 56 Views
Kekerasan Anak kepada Orang Tua Lahir dari Sistem yang Rusak
Oleh : Ririn S
Aktivis Dakwah
Lagi, viral di media sosial seorang anak laki-laki menganiaya ibu kandungnya hingga sang ibu mengalami luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Penganiayaan yang sempat terekam CCTV itu terjadi lantas sang anak meminta uang kepada sang ibunya sebesar RP30.000 tetapi sang ibu tidak menuruti permintaan sang anak dengan alasan tidak memiliki uang. Namun sang anak terus memaksa hingga memukuli sang ibu berkali-kali. (merdeka.com 23/6/2025)
Sangat miris hidup di zaman sekarang di mana seorang ibu yang seharusnya disayang, dihormati, diperlakukan dengan sangat baik, kini diperlakukan dengan kasar oleh anaknya sendiri. Maraknya peristiwa yang memilukan ini dikarenakan jauhnya sistem Islam dari kehidupan, sedangkan sistem kapitalisme yang sekular diadopsi dalam kehidupan keseharian. Sekularisme sendiri adalah paham pemisahan aturan agama dari kehidupan. Tak heran jika paham ini lahir dari sistem yang kufur dan menghasilkan generasi yang rusak. Di mana sistem ini merusak akidah Islam sehingga generasi sekarang tidak dapat mengontrol emosi, jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan rasa kasih sayang. Di samping itu, dari segi pendidikan yang sekular, nilai-nilai akhlak ditinggalkan dan mengadopsi karakter yang tidak bermoral hingga terpapar pengaruh negatif.
Adapun dalam sistem ekonomi kapitalisme, materi menjadi sumber kebahagiaan. Bahkan tak jarang yang membuang rasa empati dan kasih sayang maupun bakti kepada orang tua demi meraih materi. Kemudian dari segi budaya, banyak terkontaminasi nilai-nilai Barat atau Asing sehingga generasi muda kehilangan jati diri dan masuk dalam budaya hedonisme dan materialisme. Hingga pada akhirnya lahirlah generasi yang rusak.
Hal ini berbeda dengan Islam yang justru menekankan berbakti kepada orang tua yang dikenal sebagai "Birrul Walidain". Dan sebaliknya ketika melakukan kekerasan kepada orang tua atau anak yang durhaka kepada orang tua merupakan tindakan yang diharamkan dan termasuk dosa besar.
Allah Swt. berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُم وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Artinya: "Dan Tuhanmu menghendaki supaya kamu tidak menyembah kecuali kepada-Nya dan berbakti kepada kedua orang tua, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya, sampai berumur lanjut dalam pemeliharaannmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isro : 23)
Di samping itu, dalam pandangan Islam sebagai seorang anak memiliki tanggung jawab terhadap orang tua, berperilaku baik dan memperhatikan keadaan orang tua. Allah Swt. berfirman yang artinya :
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, 'Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim'." (Q.S Al-Ahqaf : 15)
Marilah kita kembali kepada sistem yang membawa keberkahan yaitu sistem Islam. Sistem di mana fitrah dan akal terpelihara, kemudian memanusiakan manusia, dan sistem yang jauh dari kemaksiatan, kekerasan, kezoliman, serta mendorong untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan beraktivitas sesuai keimanan dan sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah taala.
Wallahu a'lam bish shawab