| 135 Views

Kekecewaan Guru Bertambah Tuta dan Tukin dihilangkan

Oleh: Susi Ummu Musa

Mengulik persoalan gaji guru di Indonesia sampai detik ini belum tuntas juga, hal ini jelas semakin menguatkan bahwa pemerintah tidak memperioritaskan keberadaan mereka sebagai tenaga pendidik.

Sangat penting bahwa kedudukan seorang guru seharusnya diistimewakan dan patut dijunjung tinggi baik dengan sikap maupun materi. Alih alih demikian persoalan guru yang sering menyuarakan hak-haknya  menuntut gaji yang layak masih saja dilakukan karena memang guru sangat diabaikan di pemerintahan ini.

Keberadaan guru sangat timpang dibandingkan dengan pegawai dari dinas lainnya yang berlimpah materi.
Hal ini yang membuat para guru turun ke jalan bahkan mereka meminta keadilan atas dihilangkan nya tunjangan tambahan (tuta) dan tunjangan kinerja(tukin)

Dilansir Muslimah News, FOKUS — Ratusan guru di Banten yang terhimpun dalam Solidaritas Guru Banten melakukan aksi damai pada Kamis, 3 Juli 2025. Aksi tersebut untuk meminta keadilan atas dihilangkannya tunjangan tambahan (tuta) dan tunjangan kinerja (tukin). Aksi itu menunjukkan kekecewaan guru terhadap kebijakan yang ada—yang dianggap tidak memihak nasib guru serta tidak menganggap kesejahteraan guru sebagai prioritas.

Hal ini mendapat perhatian dari sejumlah narasumber media salah satunya mereka mengatakan
Realitas saat ini menunjukkan kesenjangan yang mencolok, ASN Pemda menerima Tunjangan Kinerja (Tukin) yang sangat besar, bahkan bisa mencapai 3 hingga 5 kali lipat dari gaji pokok. Di sisi lain, guru SMA/SMK—yang merupakan ASN Provinsi—harus rela kehilangan Tuta yang selama ini menjadi penguat ekonomi sekaligus penghargaan moril.

Banyak guru kini harus menata ulang kebutuhan hidup, menyesuaikan kembali impian anak-anak mereka. Sejumlah guru honorer yang sedang menempuh PPG, guru ASN yang tengah berinovasi dengan projek penguatan profil pelajar Pancasila, hingga guru-guru yang tetap mengajar di sekolah pelosok Banten—semuanya sedang diuji oleh kebijakan ini.

Tak pelak kekecewaan yang dirasakan para guru bertambah ditengah beratnya hidup ditengah sistem sekuler kapitalisme. Sangat sulit bagi mereka mendapatkan kesejahteraan dan keadilan sebagai pahlawan pendidikan.

Mereka terus dituntut memberikan pengajaran terbaik bagi generasi penerus demi mencapai misi untuk meraih Indonesia emas namun sepele dengan para pendidiknya.

Padahal seorang guru harus dijunjung tinggi dan diberikan perhatian, salah satu yang bisa dijadikan contoh kala itu adalah sejarah islam dimana kesejahteraan guru dalam sejarah peradaban Islam sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya pendidikan, pengetahuan, dan penghargaan terhadap para pendidik. Para guru dan ulama dihargai dan diberikan upah yang layak atas kontribusi mereka dalam menyebarkan pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan. Masyarakat Islam pada umumnya memberikan penghargaan yang tinggi terhadap pekerjaan guru dan memberikan dukungan finansial untuk memastikan keberlanjutan pengajaran.

Islam mendorong memberikan gaji dan kesejahteraan yang baik kepada guru sebagai bentuk penghargaan terhadap pekerjaan mereka. Konsep zakat dan sedekah dapat digunakan untuk memberikan dukungan finansial kepada para guru yang mungkin membutuhkan bantuan.

Gaji guru dalam sejarah peradaban Islam bervariasi tergantung pada konteks waktu, tempat, dan kondisi ekonomi masyarakat pada masa itu. Dalam tradisi Islam, memberikan upah yang layak kepada guru dan ilmuwan dianggap sebagai tindakan mulia dan berpahala, sesuai dengan ajaran Islam tentang keadilan, solidaritas sosial, dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan tentunya.

Jelas nya bahwa sistem Islam yang berlandaskan aqidah islam bersama dengan seperangkat aturannya pernah segemilang itu dalam memperhatikan gaji guru sehingga tidak ada guru yang hidupnya dalam kondisi kekurangan.

Wallahu 'a lam bissawab


Share this article via

42 Shares

0 Comment