| 416 Views

Kehidupan dalam Sistem Kapitalis Tidak Menyejahterakan Rakyat

Oleh: Aktif Suhartini, S.Pd.I.,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok


Sebagai seorang ibu rumah tangga, pedagang, atau profesi apa pun itu yang hidup di negara kapitalis, maka akan kembali dipusingkan dengan harga barang selalu naik. Salah satunya yang viral dibicarakan yakni kenaikan gas elpiji. Pasalnya, saat ini pemerintah berencana akan mencabut subsidi elpiji yang berakibat naiknya gas elpiji dan digantikan dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Menurut wakil ketua komisi VII DPR RI, Eddy Soeparno, harga gas elpiji 3 kg akan naik tinggi bila dipasarkan tanpa subsidi dari pemerintah. Dalam setiap tabung elpiji 3 kg, ada subsidi pemerintah Rp33 ribu. Jadi kalau harganya Rp 20 ribu, artinya keekonomiannya Rp53 ribu. Diperkirakan pada 2026, pemberian subsidi elpiji 3 kg tidak ada lagi dan harga di pasaran semuanya sama. Kemudian ada penerima yang berhak untuk menerima subsidi itu langsung akan dikirimkan dengan nilai Rp100 ribu perbulan, dikreditkan langsung kepada rekening mereka masing-masing di bank. Namun, apakah kebijakan ini memberikan solusi yang tepat agar berulangnya kenaikan harga gas tidak terjadi lagi? Atau malah menyebabkan masalah baru?


Jika kita lihat, kebijakan pemerintah yang menerapkan sistem kapitalis sungguh terasa tidak pro rakyat dan selalu membebani rakyat sehingga tidak menyejahterakan rakyat. Kebutuhan pokok selalu merangkak naik tetapi pendapatan rakyat terjun bebas, sulit mendapatkan pekerjaan justru yang merangkak naik itu PHK yang menyebabkan naiknya pengangguran. Sungguh menyedihkan.

Bahkan, wacana pengalihan subsidi elpiji ke BLT ini, malah menyebabkan masalah baru. Mengapa demikian? Karena rencana pemerintah untuk mengubah skema pemberian subsidi elpiji tabung 3 kg menjadi BLT implementasinya akan rumit karena antara penerima BLT dengan elpiji, meskipun fokusnya sama pada orang tidak mampu, tetapi elpiji ini kaitannya dengan produktivitas perekonomian, Kalau subsidi elpiji dihapus, harga-harga akan melambung tinggi. Nanti yang terdampak masyarakat miskin lagi, tambah susah daya belinya.

Jika kita lihat, pemberian BLT sebagai kompensasi dicabutnya elpiji yang diberikan kepada rakyat, jelas tidak sebanding dengan kebutuhan hidup yang terus merangkak naik. Jelas sekali, ini semua tidak bisa menyelesaikan masalah. Malah terlihat jelas, solusi dari pemerintah terlihat setengah hati. Itulah yang terjadi dalam negara yang menerapkan sistem kapitalis.

Lain halnya dengan sistem Islam. Islam memiliki berbagai mekanisme pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan menjadikan negara sebagai raa’in dengan pelayanan yang sama untuk semua individu rakyat. Sistem Islam yang sederhana, cepat dengan petugas yang amanah maka akan mewujudkan pelayanan kepada rakyatnya sebaik mungkin, yang membuat hidup rakyat nyaman dan sejahtera. Oleh karenanya, agar rakyat dapat hidup nyaman dan sejahtera, tinggalkanlah sistem kapitalis, dan kembali ke jalan Islam Kaffah yang penuh berkah dan kebahagiaan.


Share this article via

103 Shares

0 Comment