| 289 Views

Kegagalan Sistem Kerusakan Generasi Makin Sadis

Oleh : Nenah
Muslimah Peduli Umat, Ciparay Kab. Bandung

Seorang remaja berusia 14 tahun membunuh ayah dan nenek serta menikam ibunya dengan senjata tajam di rumah mereka di Jalan Lebak Bulus I, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (30/11/2024) dini hari. Pasalnya, pelaku dikenal sebagai anak yang pendiam, penurut, dan ramah kepada tetangga. Selain itu, pihak sekolah juga memberi keterangan bahwa pelaku MAS dikenal pintar, tidak menunjukkan perbuatan negatif dan gejala yang aneh selama di sekolah. Hingga saat ini, pihak kepolisian belum dapat memberikan penjelasan pasti mengenai pemicu perbuatan kejam yang dilakukan remaja tersebut.

Setelah dianalusis olej psikolog klinis Liza Marielly Djaprie, kemungkinan adanya faktor penumpukan trauma dan frustasi pada MAS sebagai pemicu di balik perbuatan kejamnya. Menurutnya, tidak ada orang yang tiba-tiba melakukan tindakan kekerasan. Ibarat balon yang terus diisi udara hingga pada titik puncaknya, balon itu akan meledak. Kasus pembunuhan anak terhadap orang tua terus terjadi dengan tingkat kebengisan yang makin mengerikan. Munculnya perilaku sadis nan bengis pada generasi tidak terjadi secara tiba-tiba.

Banyaknya tindakan kriminal yang di lakukan generasi saat ini, karena beberapa ada faktor diantaranya :
Pertama, pola asuh keluarga dibangun dengan paradigma sekuler kapitalisme, orang tua hanya memenuhi kebutuhan materi anak tanpa diimbangi pendidikan dan pemahaman Islam dari kedua orang tuanya. Dalam hal ini kebanyakan orang tua terjebak dalam mengukur keberhasilan anak dengan standar nilai akademik yang tinggi, prestasi di sekolah, dan berbagai penghargaan. Tanpa melihat kemampuan seorang anak orang tua berambisi anak menjadi sukses.

Kedua, lingkungan sekolah dan masyarakat. Maraknya anak melakukan tindakan kriminal, baik kepada keluarga atau orang lain, sejatinya adalah buah penerapan sistem pendidikan sekuler. Lingkungan sekolah dan masyarakat sangat berperan dalam membentuk kesalehan komunal pada diri anak. Namun, sistem sekuler telah mendegradasi nilai kesalehan tersebut dengan menormalisasi perilaku yang menyalahi aturan Islam, seperti pergaulan bebas, budaya hedonis dan permisif, pacaran, hingga perzinaan.

Ketiga, kurangnya peran dan kontrol negara. Sistem pendidikan sekuler melahirkan kurikulum sekuler. Dengan kurikulum semacam ini, karakter generasi bukannya membaik, malah makin memburuk. Visi misi pendidikan membangun generasi saleh/salihah, berakhlak mulia, dan berkepribadian Islam tidak akan bisa tercapai dengan sistem pendidikan sekuler. Ini karena sistem pendidikan sekuler justru menjauhkan aturan agama dari kehidupan.

Membangun generasi cerdas dan bertakwa adalah kewajiban negara sebagai penyelenggara sistem dan pelayan rakyat. Negara bertanggung jawab penuh atas pertumbuhan dan perkembangan generasi di bawah kontrol dan pengawasannya. Ini karena pelayanan dan pengurusan negara sangat berpengaruh pada pembentukan karakter generasi.

Sistem Islam akan terlaksana jika kepemimpinan Islam berfungsi dengan sempurna, yakni negara menjalankan kewajibannya sebagai ra’in (pengurus dan pelayan rakyat) dengan amanah. Semua faktor penyebab munculnya generasi sadis akan ditutup rapat dengan aturan Islam dalam berbagai aspek.
Wallahu a'lam bish shawwab.


Share this article via

145 Shares

0 Comment