| 23 Views

Kasus Raya, Antara Nyawa dan Peran Negara

Oleh : Diana Nofalia, S.P.
Aktivis Muslimah

Tragedi meninggalnya Raya (4), bocah asal Kabupaten Sukabumi, akibat infeksi cacing gelang yang telah menyebar ke organ vitalnya menjadi catatan penting semua pihak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus seorang anak perempuan R (4) di Sukabumi, Jawa Barat, yang meninggal dunia akibat infeksi cacingan akut di seluruh tubuhnya.

Menurutnya, kasus ini menjadi peringatan serius tentang pentingnya perlindungan hak-hak anak, terutama di bidang kesehatan, pengasuhan, dan lingkungan hidup yang layak. (https://www.tribunnews.com/regional/2025/08/21/balita-meninggal-di-sukabumi-akibat-cacingan-menteri-pppa-sangat-memilukan-penderitaannya)

Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani menyampaikan keprihatinan dan duka cita atas meninggalnya seorang balita akibat infeksi cacing di Sukabumi, Jawa Barat. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi tanda bahwa sistem perlindungan sosial belum menjangkau seluruh masyarakat. (https://nasional.kompas.com/read/2025/08/22/14032471/balita-meninggal-akibat-infeksi-cacing-anggota-dpr-alarm-serius-perlindungan) 

Kasus Raya adalah salah satu dari banyaknya kasus yang terjadi di negeri ini. Kondisi Raya semakin tragis karena kondisi tempat tinggal yang jauh dari layak dan support system keluarga yang lemah. Ayah sakit-sakitan sedangkan ibunya menderita gangguan mental.

Respon para pejabat dan pihak terkait mengenai kasus Raya baru muncul setelah kabarnya mencuat ke publik. Tentunya ini menjadi pertanyaan besar buat masyarakat Indonesia, dimanakah peran negara dalam proses pencegahan dan perlindungan bagi warga masyarakatnya?

Kasus Raya menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan di negeri ini belum mampu memberikan jaminan kesehatan bagi rakyatnya termasuk anak-anak. Nyawa seakan tidak berarti jika dihadapkan dengan kondisi kemiskinan. Ratusan cacing dalam tubuhnya adalah bukti bahwa pelayanan kesehatan di negeri ini jauh dari kata ideal.

Mekanisme layanan kesehatan yang ada masih sebatas formalitas, prosedur yang rumit membuat layanan tidak bisa diakses oleh setiap orang. Nyawa jadi taruhannya ketika pelayanan penuh dengan birokrasi yang berbelit-belit.

Dalam hal ini, terlihat abainya negara dalam memberikan perlindungan bagi rakyat miskin dan lemah. Mereka dibiarkan hidup di kondisi sulit dan lingkungan yang tidak sehat.

Kondisi buruk ini merupakan dampak penerapan dari sistem kapitalisme. Mereka yang punya "privilege" yang bisa mendapatkan akses kesehatan dengan layak. Sedangkan rakyat kecil dibiarkan tetap sengsara tanpa ada rasa peduli terhadap nasib mereka.

Pelayanan Kesehatan dalam Sistem Pemerintahan Islam

Kesehatan merupakan tanggung jawab negara. Negara wajib menjamin kesejahteraan dan menyantuni kalangan yang lemah. Kesehatan gratis seharusnya menjadi tanggungjawab negara secara penuh, dan ini tidak dibedakan antara si kaya ataupun si miskin bahkan muslim ataupun non muslim. karena pelayanan kesehatan adalah hak warna negara.

Dalam sistem pemerintahan Islam, kondisi sosial masyarakat terjaga dengan baik. Kepedulian di antara masyarakat akan terbangun sehingga seorang Muslim tidak akan membiarkan tetangga/saudaranya berada dalam kesulitan. Kondisi ini terbangun dari pondasi aqidah yang kuat yang dimiliki oleh setiap individu masyarakatnya. Individualisme dan budaya acuh tak acuh bukanlah ciri dari masyarakat yang dipimpin oleh sistem Islam.

Negara wajib menyediakan layanan kesehatan dengan fasilitas terbaik, gratis, serta prosedur yang mudah, sehingga dapat diakses oleh semua kalangan, sebagaimana sudah pernah terjadi di masa khilafah (Pemerintahan Islam).

Pada zaman Pertengahan, hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit. Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien.  Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta untuk riset.   Rumah Sakit ini juga tidak hanya untuk yang sakit fisik, namun juga sakit jiwa.  Di Eropa, rumah sakit semacam ini baru didirikan oleh veteran Perang Salib yang menyaksikan kehebatan sistem kesehatan di Timur Tengah. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolir dan paling jauh dicoba diterapi dengan ruqyah.

Semua rumah sakit di Dunia Islam dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien penyakit-penyakit tertentu.

Rumah-rumah sakit ini bahkan menjadi favorit para pelancong asing yang ingin mencicipi sedikit kemewahan tanpa biaya, karena seluruh rumah sakit di Daulah Khilafah bebas biaya.  Namun, pada hari keempat, bila terbukti mereka tidak sakit, mereka akan disuruh pergi, karena kewajiban menjamu musafir hanya tiga hari.

Banyak individu yang ingin berkontribusi dalam amal ini.  Negara memfasilitasi dengan membentuk lembaga wakaf (charitable trust) yang menjadikan makin banyak madrasah dan fasilitas kesehatan bebas biaya.  Model ini pada saat itu adalah yang pertama di dunia. ("Pelayanan Kesehatan Dalam Sejarah Khilafah – Al-Wa'ie" https://alwaie.net/siyasah-dakwah/pelayanan-kesehatan-dalam-sejarah-khilafah/)

Maka dari itu, hanya dengan sistem pemerintahan Islam sajalah pelayanan kesehatan yang ideal dan menyeluruh dapat dirasakan masyarakat. Sistem ini akan memanusiakan manusia, dan tentunya tidak akan ada masyarakat yang harus mempertaruhkan nyawanya demi birokrasi pelayanan yang berbelit-belit dan rumit.

Wallahu a'lam.


Share this article via

9 Shares

0 Comment