| 9 Views
Kapitalisme, Menggerus Peran Pengasuhan
Oleh: Ummu Raffi
Beberapa waktu lalu, publik digemparkan dengan kasus dugaan penganiayaan terhadap anak di sebuah daycare di Yogyakarta. Kasus ini mencuat setelah adanya kesaksian dari sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa bukti kekerasan dan penelantaran memprihatinkan yang menimpa anak-anak mereka. Hingga pihak berwajib pun turun tangan guna menindaklanjuti pemeriksaan lebih dalam. (detik.com, 25/4/26)
Realita ini menunjukkan bahwa situasi aman bagi anak nampaknya semakin tergerus. Sangat ironis, daycare yang menjadi harapan orang tua sebagai ruang aman bagi anak mereka justru berubah menjadi tempat mencekam, mulai dari penyiksaan fisik maupun psikis. Bahkan, rentetan kasus kekerasan serupa kian merajalela terjadi di berbagai daerah.
Rasa aman itu bukan sekadar tempat, melainkan kepada siapa kita percaya. Maraknya fenomena daycare hari ini bagaikan gunung es. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab, melainkan alarm keras bagi pemerintah atas kerusakan sistemis. Permasalahan ini tidak bisa sebatas menindak segelintir oknum para pengasuh yang niradab. Akan tetapi, butuh solusi fundamental dari negara dalam menjaga dan melindungi rakyatnya. Hal ini guna meminimalisir terjadinya tindak kriminal, bahkan penyimpangan.
Sistem kapitalisme memandang standar keberhasilan hidup diukur atas dasar materi. Maka tak heran, saat ini anak dipandang sebagai komoditas jasa demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Sehingga demi efisiensi, kerap muncul pemilik daycare yang menerapkan rasio pengasuh tidak ideal, menuntut kerja full time dengan gaji rendah. Hal ini berdampak pada para pengasuh yang kelelahan hingga tidak adanya ikatan emosional dengan anak. Kondisi ini dapat memicu terjadinya ruang rawan tindak kekerasan. Tampak jelas akar permasalahan kasus ini bukan sekadar pada individu pengasuh semata, tetapi pada sistem yang telah membentuk cara pandang hidup masyarakat.
Kini, para orang tua, terutama ayah sebagai tulang punggung keluarga, bekerja keras demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Ditambah saat ini, banyak para ayah yang terkena PHK. Hal ini berdampak pada para ibu yang mengalami berbagai tekanan hidup, seperti mahalnya biaya hidup, mulai dari kebutuhan ekonomi hingga standar sosial yang tinggi.
Pada akhirnya, para ibu pun terpaksa berjuang sama-sama untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Kondisi ini mengakibatkan peran pengasuhan dalam keluarga melemah. Orang tua tidak lagi mempunyai waktu luang untuk merawat dan mendidik anak-anaknya secara utuh. Sehingga anak-anak mereka, sebagian ada yang dititipkan ke daycare.
Perlu kita sadari bahwa negeri ini tidak minim fasilitas, melainkan kehilangan kesadaran dan rasa tanggung jawab bahwa setiap perbuatan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sekalipun negeri ini memiliki Lembaga Perlindungan Anak, nyatanya tidak mampu melindungi anak-anak dari tindak kekerasan maupun yang lainnya. Selain itu, sanksi hukum yang diberikan tak menjadikan efek jera bagi para pelaku, sehingga tindak kekerasan terus terulang.
Fenomena kasus daycare yang terjadi seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah untuk bersikap tegas dalam melindungi rakyatnya. Tempat di mana orang tua merasa aman ketika menitipkan anak-anaknya. Pada faktanya, kado pahit harus diterima atas berbagai tindakan tak pantas yang dialami anak-anak mereka.
Tentunya, hal ini tidak lepas dari penerapan sistem kapitalis sekuler yang tengah bercokol. Sistem yang hanya mengutamakan keuntungan daripada tanggung jawab. Negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator yang menguntungkan segelintir orang. Sistem saat ini banyak melahirkan manusia yang kehilangan hati nurani, bahkan tidak peduli halal haram atas perbuatannya. Sehingga, dalam menjalankan tugasnya dilakukan asal-asalan dan dijalankan hanya dengan logika bisnis demi efisiensi.
Islam dengan serangkaian aturannya yang sempurna tentu saja akan memberikan solusi terbaik dalam hal memanusiakan manusia. Islam tak hanya mengajarkan nilai, namun juga mampu membangun sistem kehidupan.
Dalam Islam, yang bertanggung jawab memberikan nafkah adalah ayah. Keluarga hanya sebagai penopang apabila dibutuhkan. Sedangkan negara akan memastikan sistem ekonomi berjalan secara adil dari hulu hingga hilir. Negara akan mengelola sumber daya alam, menyediakan layanan publik yang terjangkau bahkan gratis, mulai dari pendidikan, kesehatan, dan keamanan untuk kemaslahatan umat. Untuk itu, negara hadir dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya agar para ayah mampu memenuhi seluruh kebutuhan pokoknya, baik sandang, pangan, maupun papan. Sehingga, para ibu tidak ada yang terpaksa bekerja demi tekanan hidup dan mengabaikan perannya, sebab semua kebutuhan sudah tercukupi.
Sistem hari ini menjadikan banyak perempuan bekerja bukan karena pilihan, melainkan dipaksa oleh keadaan. Islam hadir tidak melarang seorang perempuan berkarya, akan tetapi untuk menjaga marwah dan tugas utama seorang ibu tidak sirna. Peranan orang tua dalam Islam sangatlah mutlak, mulai dari hal mendidik dan mengasuh anak. Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Bahwasanya, orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Tidak hanya sebatas pengasuhan fisik atau memenuhi aspek lahiriah, seperti makan, minum, pakaian, dan pendidikan. Adapun seorang ibu merupakan pemimpin di dalam rumah, sekaligus madrasah pertama untuk anak-anaknya. Adanya kedekatan antara ibu dan anak dapat membentuk akhlak dan ikatan emosional. Hal ini tak bisa tergantikan oleh sistem. Karena itu, tugas seorang ibu bukanlah peran tambahan, melainkan sebagai penjagaan terbaik dalam mewujudkan akhlak generasi.
Dalam Islam, pengasuhan yang amanah memiliki nilai ibadah tatkala dilakukan secara benar sesuai syariat. Namun sebaliknya, jika abai dalam mendidik anak, maka akan berdosa. Sehingga, ketika pengasuhan diserahkan kepada pihak penitipan anak tanpa keamanan dan kenyamanan yang jelas, hal itu merupakan bentuk kelalaian terhadap tanggung jawab.
Dengan demikian, terkuaknya fenomena daycare yang marak bukan sekadar kasus, tetapi dijadikan sebagai pelajaran para orang tua agar teliti ketika memilih tempat penitipan anak. Adanya kepedulian masyarakat, juga negara yang lebih berempati dalam memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya. Alhasil, kesejahteraan pun akan dirasakan seluruh umat.
Oleh karena itu, peran orang tua dalam hal mengasuh dan mendidik anak-anak tidak cukup hanya dengan jasa penitipan anak. Tetapi, harus memiliki tiga pilar yang saling bersinergi, antara individu, masyarakat, juga negara. Disertai keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Seorang pemimpin akan memastikan setiap keluarga dan masyarakat mendapatkan edukasi pola pendidikan dan pengasuhan berbasis akidah Islam yang mampu melahirkan generasi bertakwa. Tentunya, semua ini akan terwujud manakala Islam memimpin dunia.
Wallahu a’lam bishshawab.