| 90 Views

#KaburAjaDulu, Solusi Pragmatis Generasi Atas Kesenjangan Ekonomi

Oleh : Mila Ummu Azzam

Belakangan banyak berseliweran unggahan  tagar #KaburAjaDulu di berbagai media sosial terutama di platform X dan Instagram.

Cuitan tagar #KaburAjaDulu yang viral di media sosial ini merupakan ungkapan kekecewaan dan kecemasan yang dialami generasi muda terhadap isu sosial hingga politik yang terjadi di Indonesia. 

Fenomena ini bermula saat orang-orang Indonesia yang bekerja di luar negeri membagikan informasi tentang kehidupan, lowongan kerja, beasiswa dan pengalaman berkarier mereka. Namun, kemudian tagar #KaburAjaDulu digunakan untuk ajakan pindah ke negara lain oleh warganet yang kebanyakan generasi muda.

Tagar #KaburAjaDulu sempat menjadi topik tren unggahan di Indonesia dalam platform X. Cuitan tagar ini diunggah disertai dengan keluhan warganet tentang buruknya kondisi kehidupan di Indonesia, seperti banyaknya PHK, lowongan kerja yang minim, gaji yang rendah dan tidak sesuai, mahalnya biaya pendidikan, korupsi yang merajalela, kebijakan pemerintah yang tak berpihak pada rakyat, dan lainnya.

Diihat dari pengaruh sosial media yang menggambarkan tentang kehidupan negara lain yang lebih menjanjikan, kondisi kehidupan di Indonesia sangatlah berbanding terbalik. Kualitas pendidikan yang rendah di dalam negeri bertemu dengan banyaknya tawaran beasiswa ke luar negeri di negara maju semakin memberikan peluang untuk "kabur". Sulitnya mencari kerja bertemu dengan banyaknya tawaran kerja di luar negeri baik pekerja terampil maupun kasar dengan gaji yang lebih tinggi di negara maju.

Mencuatnya tagar #KaburAjaDulu menandakan bahwa kenyataannya generasi muda ingin mencari kesejahteraan yang lebih baik dengan berfikir serius akan meninggalkan negara ini. Dengan menggunakan berbagai kesempatan yang tersedia, seperti di negara yang memang membutuhkan warga negara karena populasi penduduk negara tersebut menua, seperti Jepang dan beberapa negara Skandinavia, atau menetap di luar negeri karena memiliki pekerjaan yang telah terjamin dan tidak berkeinginan kembali.

Tagar ini berkaitan dengan brain drain yang memang telah lama menimpa Indonesia dan negara berkembang. Brain drain atau human capital flight adalah fenomena ketika orang pintar dan berbakat memilih untuk bekerja di luar negeri. Brain drain terjadi karena orang berpendidikan ingin mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain yang tidak mereka dapatkan di negaranya sendiri. Selain itu, alasan lainnya misalnya karena ketidakstabilan politik hingga penyimpangan norma dan agama.

Masalah penting dari fenomena brain drain adalah konteks globalisasi/liberalisasi ekonomi yang semakin menguat, sehingga kondisi hari ini juga terikat dengan hal itu. Terjadinya kesenjangan ekonomi yang bukan hanya menimpa negeri ini, tapi juga tingkat dunia, antara negara berkembang dan negara maju, yang menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap sumber daya dan kesempatan.

Negara berkembang yang tidak mampu memberikan kehidupan yang sejahtera bagi rakyatnya merupakan gambaran dari kegagalan kebijakan politik ekonomi dalam negeri. Adapun akar masalah atas keadaan ini karena penerapan sistem kapitalisme sebagai asas negeri. Kebebasan kepemilikan dalam sistem ini menjadikan sumber daya hanya dikuasai oleh segelintir orang saja, yaitu orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan. Negara lepas tangan atas tugasnya mengurus rakyat, rakyat biasa pun tak bisa berbuat apa-apa dan lebih memilih pindah ke negara lain yang mereka pikir lebih baik.

Jika negara membiarkan generasi muda yang berkualitas mengikuti brain drain, maka negara akan kehilangan SDM yang seharusnya dapat membangun bangsa. Tapi dalam sistem kapitalisme, negara tidak memperhatikan hal itu bahkan abai atas pendidikan generasi yang seharusnya mereka dapat, malah generasi di didik hanya untuk mencari kesenangan dunia dan mengejar materi saja.

Berbeda dengan Islam yang selalu memperhatikan rakyatnya, termasuk memperhatikan pendidikan generasi. Sehingga generasi yang lahir tidak hanya melihat kepada kebahagiaan dunia tapi juga kebahagiaan akhirat. Terbentuk kepribadian Islam dalam jiwa generasi akan menjadikan generasi sebagai SDM yang beriman dan siap membangun negara.

Kesejahteraan rakyat wajib dipenuhi oleh negara yaitu memenuhi semua kebutuhan yang seharusnya diperoleh rakyat individu per individu, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Negara akan selalu hadir dalam pengurusan rakyat dan memihak rakyat. Rasulullah saw bersabda,

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR. Bukhari) 

Di dalam sistem Islam banyak cara mewujudkan kesejahteraan untuk rakyat, mulai dari pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah yang diberikan Allah Swt yang dikelola oleh negara dan dari itu akan membuka lapangan pekerjaan di berbagai sektor misalnya pertanian, perdagangan, industri dan jasa bagi rakyat, terutama bagi laki-laki baligh yang wajib menafkahi keluarganya. Mereka dapat menempati posisi yang sesuai dengan keahliannya secara profesional dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat. Bukan seperti sistem kapitalisme, yang menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada oligarki dan korporasi.

Adapun hasil dari pengelolaan sumber daya alam akan dikembalikan lagi kepada rakyat dalam bentuk fasilitas umum yang memang dibutuhkan untuk kepentingan rakyat. Penerapan sistem Islam secara kaffah akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Dalam satu kepemimpinan akan mewujudkan dunia yang adil dan sejahtera.

Wallahu'alam bishawab.


Share this article via

95 Shares

0 Comment