| 3 Views
Juventus Menang atas Galatasaray, Lalu Tahan Roma 3-3: Bianconeri Masih “Ngos-ngosan”, Tapi Semangatnya Mulai Terlihat
CendekiaPos - TURIN — Juventus sedang berada dalam fase yang belum stabil—sering terlihat “ngos-ngosan”, namun perlahan mulai memunculkan satu hal yang membuat para pendukungnya kembali percaya: perjuangan sampai menit terakhir.
Dalam rentang beberapa hari terakhir, Bianconeri mencatat dua hasil yang menggambarkan situasi mereka saat ini. Pertama, menang dramatis 3-2 atas Galatasaray di Liga Champions, meski akhirnya tetap tersingkir karena kalah agregat.
Kedua, Juventus menunjukkan mentalitas yang sama ketika bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menahan AS Roma 3-3 di Olimpico—hasil yang menjaga mereka tetap bernapas dalam perebutan zona Liga Champions.
Menang dari Galatasaray, tapi tersingkir: ada rasa getir, ada juga harapan
Di laga melawan Galatasaray pada 25 Februari 2026, Juventus menang 3-2 setelah melalui duel sengit yang memaksa pertandingan berlanjut hingga extra time. Namun kemenangan itu tidak cukup menyelamatkan langkah mereka di kompetisi, karena secara agregat Juventus tetap kalah dan harus angkat koper.
Hasil ini menyisakan rasa getir, tetapi juga menghadirkan sinyal yang penting: Juventus belum habis. Tim masih punya tenaga untuk mengejar, menekan, dan memaksa laga berjalan hingga batas terakhir. Bahkan situs resmi klub menekankan bagaimana tim menunjukkan ketangguhan dan daya tahan dalam pertandingan tersebut.
Drama di Olimpico: Juventus tertinggal 1-3, lalu “hidup lagi”
Jika laga kontra Galatasaray memberi gambaran “masih bisa melawan”, maka pertandingan melawan Roma pada 1 Maret 2026 menjadi bukti yang lebih nyata.
Juventus tertinggal setelah Roma mencetak gol melalui Wesley, lalu memperlebar jarak lewat Evan Ndicka dan Donyell Malen, sementara Juventus sempat membalas melalui Francisco Conceição. Namun ketika skor menunjukkan 3-1 untuk Roma, banyak yang mengira Juventus akan pulang dengan kekalahan menyakitkan.
Ternyata Juventus belum menyerah. Mereka memperkecil ketertinggalan lewat Jérémie Boga dan menyamakan skor di menit-menit akhir melalui Federico Gatti—gol yang membuat Olimpico mendadak senyap, dan kubu Juventus meledak lega.
ESPN mencatat hasil imbang ini sekaligus memperpanjang catatan Juventus tanpa kemenangan di liga menjadi empat laga, tetapi dari sudut pandang mentalitas, comeback ini punya nilai yang lebih besar daripada sekadar satu poin.
Spalletti: “Juventus hidup untuk posisi empat besar”
Pelatih Juventus Luciano Spalletti tak menutupi bahwa target timnya saat ini sangat konkret: mengamankan posisi empat besar. Seusai laga di Roma, ia menyiratkan bahwa timnya punya alasan untuk puas sekaligus gelisah, namun yang terpenting adalah keyakinan bahwa Juventus masih bisa bertahan dalam persaingan.
Pernyataan itu sejalan dengan situasi Juventus belakangan ini: permainan belum selalu rapi, transisi masih naik-turun, dan mereka kerap harus “berantem” sampai menit akhir. Tapi justru di titik inilah, para suporter mulai melihat sesuatu yang lama dirindukan—tim yang mau berjuang, bukan sekadar tampil.
Masih jauh dari kata sempurna, tapi arah mulai terbaca
Dua pertandingan ini—menang namun tersingkir dari Galatasaray, lalu seri dramatis melawan Roma—seperti potret Juventus musim ini:
-
Belum stabil,
-
sering kehabisan napas,
-
tapi mulai punya karakter.
Dan untuk klub sebesar Juventus, karakter sering kali menjadi fondasi sebelum performa benar-benar kembali matang.
Bianconeri mungkin masih “ngos-ngosan”. Namun kini, suporter setidaknya mulai melihat: para pemainnya tidak berhenti berjuang.