| 16 Views

Judol dan Ilusi Sejahtera: Mengapa Nyawa Ibu Menjadi Murah?

Oleh: Fathimah Nurul Jannah

Pengajar sekaligus Pembina Remaja

Kabar duka kembali datang dari Lahat, Sumatera Selatan. Seorang ibu kandung meregang nyawa secara tragis di tangan anak laki-lakinya sendiri. Motifnya menyesakkan dada: sang anak gelap mata akibat kecanduan judi online (judol). Tragedi ini bukan sekadar menambah panjang daftar kriminalitas di negeri ini, melainkan menjadi tamparan keras bagi nurani kita semua. Bagaimana mungkin hubungan paling sakral antara ibu dan anak bisa hancur lebur hanya demi angka-angka semu di layar ponsel?

Peristiwa memilukan ini tidak boleh hanya dipandang sebagai kasus kriminalitas biasa atau sekadar masalah gangguan mental individu. Jika kita menarik garis merah dari berbagai kasus serupa yang marak terjadi belakangan ini, kita akan menemukan sebuah pola yang mengerikan. Kita sedang menghadapi "wabah" sistemik yang telah melucuti kemanusiaan pelakunya. Tragedi Lahat adalah alarm keras bahwa ada yang salah secara fundamental dalam cara kita memandang kebahagiaan, cara negara mengelola ekonomi, dan cara sistem ini melindungi nyawa rakyatnya.

Mengapa Nyawa Menjadi Murah di Tangan Judi?

Tragedi di Lahat hanyalah puncak gunung es dari rapuhnya fondasi kehidupan kita hari ini. Di bawah asuhan Sekularisme, manusia digiring untuk memisahkan nilai-nilai spiritual dari aktivitas keseharian mereka. Akibatnya, orientasi hidup bergeser secara drastis; kebahagiaan tak lagi diukur dari rida Sang Pencipta, melainkan dari kepuasan materi dan kesenangan fisik sebesar-besarnya. Dalam logika yang serba materialistik ini, judi online hadir sebagai "solusi" pragmatis bagi mereka yang mendambakan kekayaan instan. Ketika candu sudah merusak logika, nilai-nilai kemanusiaan luntur—bahkan hubungan sakral antara anak dan ibu pun dikorbankan demi mengejar angka di layar ponsel.

Kondisi ini diperparah oleh penerapan sistem ekonomi Kapitalisme yang menciptakan jurang kesenjangan sosial yang menganga. Saat kebutuhan pokok semakin sulit dijangkau, tekanan ekonomi menekan rakyat hingga ke titik nadir. Di tengah keputusasaan itulah, judol masuk mengisi celah harapan palsu. Sayangnya, negara yang seharusnya menjadi junnah (perisai) justru tampak gagap dan reaktif. Penanganan yang bersifat parsial—seperti sekadar memblokir situs tanpa memberantas bandar—membuktikan bahwa sistem saat ini gagal menyentuh akar masalah. Selama judi dianggap sebagai andil perputaran ekonomi dan sanksi tidak menjerakan, nyawa manusia akan terus menjadi tumbal.

Islam sebagai Perisai Kehidupan

Untuk mengakhiri mata rantai tragedi ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan moral individu tanpa adanya perubahan sistem secara menyeluruh. Islam menawarkan konstruksi kokoh dengan menjadikan Akidah Islamiah sebagai asas kehidupan. Dalam sistem ini, standar perilaku adalah halal-haram, bukan manfaat materi. Iman menjadi benteng pertama. Ketika seorang anak memahami bahwa judi adalah rijs (perbuatan keji) dan membunuh adalah dosa besar, ia tidak akan membiarkan akal sehatnya dikuasai candu.

Namun, Islam tidak membiarkan individu berjuang sendirian. Negara dalam pandangan Islam—yaitu Khilafah—berperan sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (perisai). Secara ekonomi, negara wajib memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi melalui pengelolaan kepemilikan umum, sehingga motif kriminalitas akibat kemiskinan bisa dihilangkan. Lebih jauh lagi, negara akan memberantas judol secara tuntas hingga ke akarnya. Bagi yang melanggar, Islam menerapkan sistem uqubat yang tegas bersifat zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa). Dengan integrasi takwa individu, kontrol masyarakat, dan ketegasan negara, nyawa manusia akan terjaga.

Saatnya Memutus Rantai

Tragedi di Lahat adalah alarm yang sangat keras. Kita tidak bisa membiarkan nyawa manusia terus menjadi tumbal sistem yang memuja materi. Pendekatan parsial terbukti gagal memadamkan api kecanduan judi online yang kian liar. Selama akarnya tidak dicabut, kita akan terus menyaksikan manusia yang kehilangan nurani demi bayang-bayang kekayaan semu.

Sudah saatnya kita menoleh pada solusi yang tuntas dan mendasar. Kembali pada sistem yang menjaga jiwa dan akal dengan aturan Sang Pencipta. Hanya dengan sistem yang menempatkan ketakwaan sebagai fondasi dan negara sebagai perisai nyata, nyawa manusia akan kembali mulia. Perubahan ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan generasi kita.


Share this article via

0 Shares

0 Comment