| 35 Views
Job Hugging: Potret Krisis Pasar Kerja Kapitalis
Oleh: Neli
Fenomena job hugging — kondisi ketika pekerja memilih bertahan pada pekerjaan apa pun meski tidak ideal — semakin nyata di tengah ketidakpastian ekonomi global. Data yang dirilis CNBC Internasional (29/9/2025) menunjukkan tingkat pekerja yang keluar dari pekerjaannya hanya 2% dalam beberapa bulan terakhir, terendah sejak 2016. Survei yang sama mengungkap 52% karyawan baru berpindah pekerjaan dalam dua tahun terakhir, naik signifikan dari 43%. Angka-angka ini memperlihatkan betapa lesunya pasar kerja, meningkatnya ancaman PHK, serta melambatnya laju perekrutan ke titik terendah sejak 2013.
Situasi ini tidak bisa dilepaskan dari cengkeraman sistem kapitalisme global. Negara gagal menjalankan perannya untuk memastikan rakyat hidup sejahtera, sementara swasta dengan leluasa menguasai berbagai sektor, termasuk sumber daya alam. Akibatnya, rakyat dipaksa bertahan dalam kondisi serba sulit tanpa adanya jaminan pekerjaan maupun penghidupan yang layak.
Islam menghadirkan solusi yang sangat berbeda. Dalam pandangan Islam, pendidikan dan pekerjaan bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan bagian dari amanah yang terikat pada nilai iman dan aturan halal-haram. Setiap individu dituntut bekerja dengan penuh tanggung jawab, sementara negara wajib hadir menjamin kesejahteraan rakyat.
Dalam sistem Khilafah, negara mengelola langsung sumber daya alam, membangun industrialisasi, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan sarana, modal, dan keterampilan bagi rakyatnya. Tanggung jawab ini bukan sekadar kebijakan ekonomi, tetapi kewajiban syar’i yang dijalankan untuk memastikan tidak ada rakyat yang terabaikan.
Fenomena job hugging pada dasarnya adalah bukti nyata rapuhnya sistem kapitalisme dalam menjamin kehidupan pekerja. Islam, dengan sistem kepemimpinan yang berlandaskan syariat, menawarkan solusi menyeluruh yang dapat mengakhiri ketidakpastian ini dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.