| 132 Views
Job Hugging Melanda Kaum Muda, Dampak Kapitalisme Global
Oleh: Nindi Dwi Pianka
Fenomena job hugging semakin sering kita jumpai di kalangan muda. Banyak yang memilih bertahan di pekerjaan yang sudah tidak lagi memberikan semangat, bahkan sering tidak sesuai dengan keahlian atau latar belakang pendidikan mereka. Bayangkan seorang lulusan teknik bekerja di bidang administrasi, atau sarjana komunikasi ynag justru terjebak di pekerjaan keuangan. Pilihan ini bukan karena mereka takut mencoba hal baru, tetapi lebih karena kondisi ekonomi yang tidak menentu, meningkatnya PHK, dan sulitnya mencari pekerjaan yang layak. Pada akhirnya, bertahan di anggap lebih aman dari pada mengangur tanpa kepastian.
Fenomena ini sebenarnya membuktikan kegagalan sistem kapitalise global. Di bawah kapitalisme, pekerjaan tidak lagi di pandang sebagai amanah yang bermakna, melainkan sekedar komuditas yang di perjual belikan. Negara melepaksan tanggung jawabnya, sementara lapangan kerja di serahkan pada swasta dan mekanisme pasar.
Sumber daya alam yang melimpah malah di kuasai segelintir pihak, sementara rakyat hanya kebagian sisa nya. Pendidikan tinggi pun tak lebih hanya jalur panjang menuju ketidak pastian, karena banyak lulusan yang akhir nya tidak terserap secara layak di dunia kerja. Tidak heran jika banyak anak muda terjebak pada pilihan yang pahit, bertahan di pekerjaan yang membosan kan atau kehilangan penghasilan sama sekali.
Islam menawarkan cara pandang yang lebih manusiawi. Dalam Islam, bekerja memang kewajiban setiap individu untuk memenuhi kebutuhan, tetapi negara juga memiliki peran besar yang tidak boleh di abaikan. Negara Islam wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat, sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Serta memastikan lapangan kerja tersedia deng adil.
Sumber daya alam tidak boleh di kuasai oleh swasta atau asing, melainkan harus dikelola negara untuk kemaslahatan bersama. Dengan acara ini, kesempatan kerja akan lebih luas, stabil, dan memeri ruang bagi generasi muda untuk bekerja sesuai potensi mereka, bukan sekedar asal bertahan.
Sistem ekonomi Islam juga membangun fondasi yang sehat. Praktik Ribawi, spekulasi, dan aktivitas ekonomi yang semu yang hanya memperkaya segelintir orang di larang keras. Sebagai gantinya, Islam mendorong aktivitas rill yang benar-benar menyerap tenaga kerja seperti, pertanian, perdagangan halal, industri, hingga jasa. Di topang oleh mekanisme zakat, sedekah, atau infak, ekonomi Islam bukan hanya tumbuh di atas angka, tetapi juga menyejahterakan rakyat secara nyata. Dalam kerangka ini, generasi muda tidak terjebak dalam pekerjaan yang membuat mereka kehilangan gairah, melainkan memiliki peluang untuk berkarya dengan arah, nilai dan makna.
Fenomena Job Hugging seharusnya menjadi refleksi penting bagi kita semua bahwa kapitalisme telah gagal memberikan kepastian dan kesejahteraan. Sistem ini hanya melahirkan generasi yang berkerja hanya karena terpaksa, bukan karena mereka menemukan ruang untuk berkembang. Islam hadir dengan solusi yang berbeda yaitu, lebih adil, lebih manusiawi, dan berpihak pada rakyat. Dengan penerapan syariah secara KAFFAH, generasi mudan tidak lagi hanya bekerja demi bertahan hidup, tetapi juga bisa timbuh, berkembang, dan berkontribusi untuk membangun peradaban yang penuh keberkahan.