| 196 Views

Janji Tak Terealisasi, Rakyat Jadi Korban Lagi

Oleh : Karnili
Aktivis Dakwah

Seakan sudah menjadi tradisi menjelang pesta demokrasi dijadikan sebagai momentum para bakal calon kandidat untuk menyampaikan program-programnya, tak terkecuali menjelang pemilihan kepala daerah kota Bekasi. Semua bakal calon berlomba-lomba mengobral janji untuk memikat hati rakyat. Berbagai macam program yang ditawarkan seolah-olah akan mereka tepati. Seperti salah satu pasangan calon Bupati yang cukup aktif di sosial media, dengan gencarnya menyuarakan soal program kerjanya yaitu ingin mengadakan JakLingko di kota Bekasi sebagaimana yang sudah diterapkan di daerah Jakarta. Menurut salah satu calon pasangan mengakui ingin mengikuti jejak Gubernur Jakarta sebelumnya yang mengadakan program JakLingko, namun dengan nama yang berbeda. Menurutnya, sistem JakLingko  di Jakarta sangat cocok jika diterapkan di kota Bekasi. Adapun program lain yang ditawarkan oleh calon pasangan yaitu layanan psikolog di setiap puskesmas. Menurut juru bicara calon pasangan ini, pemerintah harus hadir untuk memastikan psikologis warganya dalam keadaan baik. Siti Mukhliso juga mengatakan bahwa setiap puskesmas harus ada satu psikolog untuk memastikan kesehatan mental masyarakat kota Bekasi agar mendapatkan perhatian khusus. Dengan adanya program tersebut maka warga kota Bekasi diharapkan tidak hanya sehat secara fisik akan tetapi sehat secara mentalnya. Pada satu sisi lagi bakal calon ini bahkan mendapat tantangan dari para netizen di akun X (dulu Twitter) mengenai kemampuannya apakah memiliki rencana tentang perbaikan dan akses trotoar yang ramah bagi masyarakat Bekasi ?
Sang kandidat pun menjawab bahwa mereka akan menambahkan fungsi trotoar agar dapat dimanfaatkan juga bagi kaum disabilitas. Kota Bekasi harus menjadi kota yang ramah untuk pejalan kaki dan difabel ujarnya. Di akun X juga rupanya telah dijabarkan sebanyak 5 (lima) rencana dan salah satunya membangun trotoar di jalan-jalan kota Bekasi khususnya di jalan-jalan utama, termasuk juga akan mengoptimalkan penerangan di sejumlah ruas-ruas jalan umum.

Berkaca dari pemilihan umum sebelumnya, baik Pilpres, Pilgub, Pilkada maupun pemilihan Lurah dan Kepala Desa, memang tak lepas dari sistem demokrasi yang meniscayakan siapa pun yang mencalonkan diri, maka akan kita beri kesempatan dan kita dengarkan janji-janji dari setiap para calon. Namun faktanya dari pemilu ke pemilu selalu sama hasilnya, yakni janji hanyalah janji, yang terjadi selalu harapan kosong. Rakyat hanya dicari suaranya bahkan suara rakyat dibeli, yang seolah-olah suara rakyat hanya berfungsi pada masa-masa pemilu saja. Dan setelah itu rakyat kembali gigit jari sambil menanti-nanti janji yang tak pernah terealisasi. Pesta demokrasi hanyalah sebatas hegemoni. Tak bisa di pungkiri bahwa dalam sistem ini meniscayakan adanya politik transaksional yang berakhir pada keuntungan bagi siapa pun yang mempunyai modal banyak untuk mendapatkan suara rakyat. Tentu hal itu akan memicu terjadinya kecurangan dan pelanggaran dalam penyelenggaraan pesta demokrasi. Namun karena ini sudah menjadi rahasia umum bahkan tradisi, maka tak ada bakal calon yang mendapat diskualifikasi. Sementara realisasi dari janji-janji  ketika masa kampanye, akhirnya dianggap angin lalu saja. Begitulah tabi'at dari sistem demokrasi, yang sejatinya mereka hanya berlomba-lomba demi kepentingan pribadi dan golongannya.

Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya yang mengadakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah pembohong" (QS. An-Nahl Ayat : 105).

Berbeda dengan sistem Islam, yang menetapkan kriteria khusus dalam memilih pemimpin. Islam mempunyai sistem politik yang sempurna, transparan dan akuntabel, sehingga para pemimpin nantinya akan menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Sebagaimana pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para Khalifah setelah beliau. Karena pemimpin dalam Islam adalah Ra'in yang bertanggung jawab akan kesejahteraan umat dan mempunyai kesadaran pada diri setiap individu, bahwa seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya oleh Allah SWT. Bukan hanya umbar janji ke sana kemari demi untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Seorang pemimpin dalam Islam harus mengutamakan kemashalatan umat sebagai bentuk tanggung jawab yang harus di realisasikan, bukan hanya sekadar catatan program-program saja. Maka tak perlu diragukan lagi, hanya sistem Islam yang sempurna, sebagai seperangkat aturan yang diturunkan oleh Allah SWT, kemudian telah dicontohkan penerapannya oleh Rasulullah SAW, termasuk dalam memilih pemimpin beserta dengan segala pengawasannya. Maka sudah suatu kewajiban bagi kita umat muslim untuk memperjuangkan keberlanjutan kehidupan yang berasakan Islam, untuk meraih ridho Allah SWT.

Wallahu A'lam bish-shawwab


Share this article via

134 Shares

0 Comment