| 244 Views
Intropeksi Bersama Saat Bencana Merajalela !
Oleh : Kiki puspita
Hujan sejatinya adalah sebuah rahmat yang Allah turunkan ke bumi untuk seluruh hambahnya.Kita pun dianjurkan membaca doa,''Allahuma shayyoban'' saat hujan turun, agar menjadi hujan yang membawa rahmat.
Namun hujan sering kali di jadikan kambing hitam atas maraknya bencana yang terjadi akhir-akhir ini.Bahkan kehadirannya yang harusnya membawa rahmat untuk seluruh alam malah membawa petaka.
tirto.id - Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat bencana dalam sepekan ke depan pascabencana hidrometeorologi yang melanda daerah itu. Selain menetapkan status tanggap darurat, pemda juga sudah mendirikan posko tanggap darurat dan penanggulangan bencana di Pendopo Kabupaten Sukabumi.
Jalan Putus akibat Banjir Setinggi 2 Meter juga terjadi di Pandeglang. Banjir yang disebabkan oleh luapan Sungai Cilemer yang terjadi sejak Senin (2/12) tersebut merendam pemukiman warga setinggi 1-2,5 meter. Akibatnya, akses jalan warga menjadi terbatas dan sebanyak 202 warga harus mengungsi di posko darurat.
Jakarta, CNN Indonesia -- Bencana pergerakan tanah juga di Cianjur, Jawa Barat, semakin meluas di 15 kecamatan dan kemungkinan masih bertambah.
Dengan maraknya bencana dimana-mana harusnya bisa membuat kita intropeksi bersama.
Penyebab bencana sejatinya bukan sekadar faktor alam tapi karena ulah tangan-tangan manusia, yaitu banyaknya pelanggaran syariat karena kehidupan tidak diatur dengan syariat yang benar (Islam). Termasuk eksploitasi alam atas nama pembangunan.Kawasan perhutanan yang harus bisa menahan air dan menjadi resapan mala dialih fungsikan oleh para kapital demi keuntungan mereka.Rakyat yang menjadi korbannya tidak di berikan solusi atas permasalahan bencana ini.Atas nama pembangunan mereka para penguasa dan para kapital mengambil ahli fungsi hutan sebagai usaha mereka untuk mendapatkan keuntungan atau materi.
Sejatinya bencana dimana-mana harusnya menjadikan kita muhasabah dan bertobat dengan berupaya agar syariat segera tegak dengan kepemimpinan Islam. Kepemimpinan Islam akan membangun tanpa merusak sehingga bencana bisa diminimalisir. Negara berperan sebagai raa'in dan junnah sehingga rakyat hidup sejahtera penuh berkah. (QS. Al-A’raf:96)
Penguasa semestinya malu jika ada julukan “banjir tahunan” atau “bencana alam langganan”. Hal itu menunjukkan sikap abai terhadap mitigasi bencana, alih-alih mengantisipasinya. Sudah semestinya penguasa kembali pada hakikat kekuasaan yang dimilikinya, yakni semata demi menegakkan aturan Allah Taala dan meneladan Rasulullah saw. dalam rangka mengurus urusan umat.
Islam tidak anti terhadap pembangunan. Banyaknya pembangunan di dalam sejarah peradaban Islam justru telah terbukti riil berfungsi untuk urusan umat. Bangunan-bangunan peninggalan peradaban Islam itu bahkan masih banyak yang berfungsi baik hingga era modern ini, padahal usianya sudah ratusan tahun.
Pembangunan dalam Islam juga mengandung visi ibadah, yaitu bahwa pembangunan harus bisa menunjang visi penghambaan kepada Allah Taala. Untuk itu, jika suatu proyek pembangunan bertentangan dengan aturan Allah ataupun berdampak pada terzaliminya hamba Allah, pembangunan itu tidak boleh dilanjutkan.
Begitu pula perihal tata guna lahan. Penguasa sudah semestinya memiliki inventarisasi fungsi dari masing-masing jenis lahan. Lahan yang subur dan efektif untuk pertanian sebaiknya jangan dipaksa untuk dialihfungsikan menjadi permukiman maupun kawasan industri.
Juga lahan pesisir, semestinya difungsikan menurut potensi ekologisnya, yakni mencegah abrasi air laut terhadap daratan. Sedangkan kawasan hutan hendaklah dilestarikan sebagai area konservasi agar dapat menahan/mengikat air hujan sehingga tidak mudah menimbulkan tanah longsor, sekaligus menjaga siklus air.
Semua ini bisa terwujud karena motivasi pembangunan dilakukan sebagai bagian dari penerapan syariat Islam secara kafah sehingga tentu saja membuahkan keberkahan bagi masyarakat. Ini sebagaimana firman Allah Taala, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96).
Wallahualam bissawab