| 22 Views
Insiden Kecelakaan Kereta Api Di Stasiun Bekasi Timur, Akibat Kelalaian Siapa?
Kecelakaan kereta di Bekasi (foto: Okezone)
Oleh: Ummu Nayra
Aktivis Dakwah
Insiden kecelakaan maut kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam menyisakan duka yang mendalam. Sebagaimana diketahui bahwa korban meninggal saat ini sebanyak 16 orang perempuan, dan sebahagian besarnya adalah wanita pekerja.
Berawal dari taksi listrik yang mogok dan tertabrak KRL di perlintasan membuat KRL tersebut terhenti. Dalam kondisi terhenti, KA Argo Bromo Anggrek dari belakang menabrak KRL tersebut, diduga akibat kelalaian masinis dan masalah pada sistem persinyalan.
Benturan dilaporkan cukup keras hingga menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian kereta. Bahkan, bagian depan KA jarak jauh disebut menembus gerbong wanita KRL.
Dalam menyikapi hal ini, Arifah Fauzi selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengusulkan agar gerbong khusus wanita pada KRL dipindahkan ke bagian tengah rangkaian. Usulan itu ia sampaikan pada selasa 28/4 usai meninjau korban di RSUD Bekasi. (detikbali)
Ungkapan Menteri PPPA kurang efektif
Dapat dipahami bahwa insiden kecelakaan ini merupakan alarm untuk kita semua khususnya bagi para pengendara agar lebih berhati-hati dan lebih memprioritaskan keselamatan daripada kepentingan apapun. Karena sejauh ini tidak sedikit insiden kecelakaan di perlintasan KA yang diterobos oleh pengendara dengan dalih ketidak sabaran dan terburu-buru.
Selain itu ungkapan Menteri PPPA juga dianggap kurang efektif, dalam hal ini bukan perkara wanita/pria yang berada di gerbong paling belakang, melainkan jaminan keselamatan bagi para penumpang baik wanita maupun laki-laki seharusnya memang harus di prioritaskan.
Selain itu kesalahan pada sistem persinyalan KA juga dianggap sebagai suatu kelalaian. Nah itulah yang seharusnya diperhatikan, bukan malah menjadikan laki-laki sebagai benteng dan tumbal untuk melindungi perempuan bila saja insiden ini terulang kembali.
Mengingat keseluruhan korban meninggal adalah perempuan, ini membuktikan negara telah gagal dalam memberdayakan perempuan sesuai pada kodratnya. Jeratan sistem kapitalis saat ini telah berhasil menjadikan wanita sebagai pekerja, bahkan ada juga yang menjadi tulang punggung keluarga.
Islam solusi tuntas
Dalam sistem islam, tidak ada wanita sebagai pekerja diluar rumah dengan alasan yang tidak syar'i. Karena penerapan islam yang menyeluruh (kaffah) telah mengatur hak, kewajiban, dan keamanan bagi perempuan. Fokus utamanya adalah memuliakan perempuan dengan memposisikan mereka sebagai ibu dan pengelola rumah tangga (ummun wa rabbatul bayt), bukan sebagai tulang punggung ekonomi.
Karena sesungguhnya yang wajib mencari nafkah atas wanita adalah suami/mahrom serta penjaminan negara atas lapangan pekerjaan dan kebutuhan hidup akan selalu terpenuhi.
Begitu pula dengan alat transportasi yang berlandaskan pada prinsip ri'ayah. Negara memandang keselamatan transportasi sebagai bagian dari layanan publik yang krusial, bukan sekedar komoditas bisnis. Negara juga bertanggung jawab penuh atas keamanan dan kenyamanan perjalanan baik di darat, laut, maupun udara, agar terhindar dari kecelakaan.
Selain itu, negara berkewajiban menyediakan infrastruktur dan sarana transportasi yang aman dan berkualitas, serta memenuhi standar teknis tertinggi dan menggunakan teknologi canggih, tujuannya adalah untuk mencegah kecelakaan akibat kerusakan teknis.
Pemerintah dalam isIam juga wajib merawat dan memantau jalan, pelabuhan, bandara, serta fasilitas pendukung lainnya agar selalu dalam kondisi prima dan aman digunakan.
Bukan hanya itu, dalam hal kepengawasan pengendara pribadi juga akan selalu terpantau tertib berlalu lintas demi kesalamatan seluruh pengguna jalan.
Wallahu'alam bishawwab.