| 355 Views

#Indonesia Baik-baik Saja, Ulah Buzzer?

Oleh : Aisyah Farha
Pendidik Generasi

Hingga saat ini, 'peringatanan darurat Indonesia' masih jadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana tidak, masyarakat kembali bergerak bersama untuk satu suara. 

Terjadi aksi massa di mana-mana, termasuk di depan gedung DPR RI. Selain itu, semakin banyak orang membagikan postingan peringatan darurat. Postingan peringatan darurat ini beredar setelah adanya keputusan MK dan rencana revisi UU Pilkada oleh DPR.

Namun ada saja pihak yang tidak menyukai kondisi ini. Pihak buzzer dituding telah melancarkan tagar "Indonesia baik-baik saja". Indonesia jelas tidak baik-baik saja. Revisi UU menjelang pilpres lalu sudah sangat meresahkan dan kini akan diulang kembali saat pilkada, ini jelas sangat berbau ketidakadilan.

Buzzer melancarkan tagar Indonesia baik-baik saja. Mereka beralasan, gelombang people power tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia karena hanya terjadi di ibu kota. Masyarakat di tempat yang lain tidak terganggu dengan revisi UU tersebut.

Ini jelas sebuah pembodohan publik. Indonesia jelas tidak baik-baik saja. Namun masyarakat masih belum bisa bangkit untuk perubahan. Yang terjadi justru sebaliknya, kadang peristiwa demi peristiwa berlalu terlupaka begitu saja, tertutupi oleh isu-isu murahan yang memalingkan.

Potret masyarakat seperti ini bisa kita jumpai di setiap sudut tempat dimana ideologi kapitalisme bersemayam. Ideologi ini menjadikan masyarakat lalai dari berfikir kritis, karena banyak hal. Himpitan ekonomi adalah yang paling berpengaruh. Ekonomi gagal gaya kapitalisme membuat rakyat menghabiskan waktu yang sangat banyak demi uang recehan, sehingga tidak punya waktu untuk memikirkan politik. 

Islam adalah satu-satunya ideologi di dunia ini yang mengajarkan umatnya untuk senantiasa kritis terhadap dinamika politik yang ada. Melalui spirit amar ma'ruf nahyi munkar yang diwajibkan Allah untuk setiap diri kaum muslimin, kaum muslimin senantiasa bersemangat untuk mengoreksi pemimpinnya. Begitu juga pemimpin kaum muslimin yang terbuka dalam menerima kritik dari rakyatnya.

Syekh Muhammad Amin al-Kurdi dalam Tanwir al-Qulub fi Mu‘amalah ‘Allam al-Guyub mengisahkan Sayyidina Umar bin Khattab ra. diangkat menjadi pemimpin (khalifah), maka beliau meminta masyarakat senantiasa mengontrol serta mengkritik kebijakan dan kinerjanya. Dalam hal ini, jika beliau berada di jalan yang salah ketika menjalankan tugas pemerintahan, maka beliau meminta masyarakat mengingatkan dan memperbaikinya. 

Permintaan Khalifah Umar bin Khattab ra. yang disampaikan dalam pidato di muka umum ini direspon oleh seorang sahabat seraya berkata: “jika kami melihat anda berada di jalan yang salah dalam menjalankan tugas pemerintahan, maka kami akan mengingatkan dan memperbaiki anda dengan pedang.”

Mendengar pernyataan itu, Khalifah Umar bin Khattab ra. gembira seraya berkata: “segala puji bagi Allah yang telah Menciptakan seorang dari umat ini; yang ketika menemukanku berada dalam kesalahan akan mengingatkan dan memperbaikiku dengan pedangnya”.

Seperti itulah hubungan rakyat dengan pemimpinnya dalam Islam. Islam senantiasa membina kaum muslimin untuk berfikir cemerlang agar bisa saling mengingatkan dalam kebaikan. Islam juga mengajarkan bahwa ada ganjaran pahala yang besar bagi setiap orang yang berani untuk  mengingatkan kesalahan, bahkan jika itu dilakukan oleh pemimpinnya. 
Pemimpin kaum muslim juga tidak membutuhkan pencitraan dalam kepemimpinannya, apalagi harus membayar buzzer, karena ia senantiasa berada dalam ketaatan pada Allah. 

Betapa indahnya hubungan antara rakyat dan pemimpin dalam Islam. Dengan hubungan seperti ini, maka rahmatan lil alamin akan sangat terasa ditengah-tengah manusia. 

Wallahu a'lam.


Share this article via

138 Shares

0 Comment