| 4 Views
Imbas Perang Israel–Iran, Harga Pertamax Cs Berpotensi Naik Lagi: Minyak Dunia Melonjak, Rupiah Melemah
CendekiaPos - JAKARTA — Eskalasi perang di Timur Tengah mulai memunculkan “efek berantai” ke banyak negara, termasuk Indonesia. Salah satu yang paling cepat terasa adalah tekanan kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Series dan Dex Series. Jika konflik Israel–Iran (yang melibatkan AS) berlanjut dan pasar energi tetap panas, harga Pertamax Cs berpotensi makin mahal pada penyesuaian berikutnya.
Indikasinya terlihat dari dua variabel utama yang menjadi acuan biaya BBM: harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Minyak dunia melonjak, pasar khawatir gangguan pasokan makin luas
Laporan Reuters menyebut harga minyak mentah global melonjak tajam setelah serangan dan balasan di kawasan mendorong penutupan fasilitas energi serta mengganggu pengapalan di Selat Hormuz. Brent sempat naik hingga 13%menyentuh US$82,37/barel (tertinggi sejak Januari 2025) sebelum ditutup menguat di sekitar US$77,74/barel.
Selat Hormuz sendiri adalah jalur krusial: pada hari normal, volume minyak yang melintas setara sekitar seperlima permintaan global, dan rute ini juga menjadi jalur utama pengiriman produk energi ke Asia.
Artinya, selama risiko gangguan pengapalan masih tinggi, harga minyak dan produk turunannya cenderung tetap volatil—dan itu biasanya cepat menekan harga BBM.
Rupiah ikut tertekan: biaya impor dan pengadaan BBM makin berat
Tekanan tidak berhenti di minyak dunia. Rupiah juga melemah di awal pekan. Metro TV melaporkan rupiah melemah ke kisaran Rp16.868 per dolar AS pada 2 Maret 2026, seiring kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang dan lonjakan harga minyak.
Ketika rupiah melemah, biaya pengadaan BBM berbasis dolar—baik impor maupun komponen biaya yang mengacu harga internasional—menjadi lebih mahal dalam rupiah.
Kenapa Pertamax Cs cepat terdampak?
BBM non-subsidi (Pertamax Series dan Dex Series) umumnya mengikuti mekanisme penyesuaian harga yang mempertimbangkan harga referensi internasional. Dalam formula yang dijelaskan Kementerian ESDM, komponen biaya perolehan mengacu pada Mean of Platts Singapore (MOPS), dihitung memakai rata-rata publikasi periode tanggal 25 dua bulan sebelumnya sampai tanggal 24 satu bulan sebelumnya untuk penetapan bulan berjalan.
Selain MOPS, faktor lain yang ikut bermain adalah biaya distribusi, penyimpanan, serta margin badan usaha (dengan batasan margin tertentu).
Catatan penting untuk pembaca: karena penghitungan MOPS memakai periode rata-rata tertentu, dampak perang yang memanas di akhir Februari–awal Maret bisa lebih kuat tercermin pada penyesuaian harga bulan berikutnya, terutama bila konflik bertahan dan harga energi tetap tinggi.
Harga Pertamax per 1 Maret 2026 sudah naik di sejumlah wilayah
Di dalam negeri, harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026 sudah tercatat naik di banyak daerah. Liputan6 merinci misalnya untuk wilayah DKI Jakarta dan Jawa:
-
Pertamax: Rp12.300/liter
-
Pertamax Turbo: Rp13.100/liter
-
Dexlite: Rp14.200/liter
-
Pertamina Dex: Rp14.500/liter
Sementara di beberapa wilayah lain, Pertamax tercatat lebih tinggi, misalnya Rp12.900/liter di sebagian Sumatera/Kalimantan tertentu, sesuai daftar harga per wilayah.
Analisis: apa yang membuat harga bisa “makin mahal”?
Secara sederhana, peluang kenaikan Pertamax Cs menguat bila tiga hal ini terjadi bersamaan:
-
Harga minyak dan produk kilang bertahan tinggi
Ketika Brent melonjak dan risiko Hormuz tinggi, harga produk olahan (bensin/solar) biasanya ikut terdorong. -
Rupiah melemah atau volatil
Karena harga acuan internasional berbasis dolar, pelemahan rupiah membuat harga dalam rupiah cepat “terangkat”. -
Konflik berlarut, pengapalan terganggu
Ketidakpastian pasokan dan logistik bisa membuat pasar menambahkan “premi risiko” pada harga energi.
Yang perlu diwaspadai konsumen
Jika tren ini bertahan, dampak paling cepat terasa biasanya pada:
-
biaya perjalanan harian (komuter),
-
ongkos logistik,
-
dan harga barang yang sensitif terhadap biaya distribusi.
Untuk sementara, pengguna kendaraan bisa mengantisipasi dengan langkah praktis: mengurangi perjalanan tidak perlu, mengecek tekanan ban, servis rutin agar konsumsi BBM lebih efisien, dan memantau pengumuman harga resmi bulanan.