| 58 Views

Ijazah Palsu Menjamur, Pendidikan Jadi Lahan Bisnis

Oleh: Rhany
Relawan Opini Andoolo

Pendidikan merupakan salah satu sarana akses negara untuk meningkatkan taraf berpikir tiap warga terlebih lagi manusia perlu yang namanya edukasi agar tidak tenggelam pada kebodohan. Dan tentu salah satu keberhasilan suatu negara adalah pendidikan yang bisa diakses semua kalangan.

Tidak menutup mata juga dengan pemimpin, saat ini salah satu kriteria yang perlu diperhatikan tentu memiliki kualifikasi pemimpin yang tertulis. Jika kita melihat kualitas dan karakter yang wajib ada dari seorang pemimpin tentu dilihat dari kejujurannya dan amanah. Tapi yang terjadi  saat ini banyak pemimpin menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya untuk jadi pemimpin.

Dikutip oleh tribunsolo.com, Terbaru Rismon Hasiholan Sianipar, salah satu terlapor dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi, meminta Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk membuka secara transparan seluruh proses akademik yang dijalani Jokowi selama kuliah di kampus tersebut.

Desakan ini disampaikan menjelang gelar perkara khusus yang dijadwalkan pada Rabu, 9 Juli 2025. Rismon yang merupakan alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM menilai permintaan ini sangat relevan, terutama karena sejumlah pelapor dalam kasus ini juga berasal dari almamater yang sama. Dia berharap pihak rektorat UGM bisa memberikan keterbukaan penuh mengenai data akademik Jokowi demi memperjelas polemik yang sudah lama bergulir di masyarakat. (9/7/2025).

Di dunia pendidikan sudah lumrah terjadi dan sudah diwajarkan, bahkan sekelas kampus ternama patut dipertanyakan mengapa bisa menerbitkan ijazah yang palsu. Tentu ini adalah salah satu dari segudang potret pendidikan yang kelam dan membuat kita bertanya-tanya, kenapa hal itu bisa terjadi? Bahkan dengan adanya isi ini membuat masyarakat berspekulasi sekelas kepala negara saja bisa berbuat di luar nalar. Jika ini terbukti, maka semakin memperlihatkan gagalnya dan suramnya dunia pendidikan.

Sungguh sangat miris pendidikan hari ini di mana pendidikan hanya dijadikan lahan bisnis bagi kepentingan segelintir orang yang berkuasa, padahal jika kita perhatikan pendidikan hari ini sejatinya kerap kali diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan.

Dalam fenomena ini dikenal sebagai komersialisasi pendidikan, di mana institusi pendidikan dan pihak-pihak terkait mengejar keuntungan finansial dengan mengorbankan prinsip-prinsip fundamental pendidikan itu sendiri, bahkan bisa dimanipulasi oleh orang yang memiliki kekuasaan dan uang. Ijazah pun sebagai tanda sertifikat pernah mengenyam dan duduk di bangku pendidikan, sayangnya hari ini selagi ada uang semua itu dapat dibeli. Lalu di mana letak sakralnya?

Jika kita menelisik fenomena seperti ini di era globalisasi dan liberalisasi ekonomi, sistem kapitalis menilai pendidikan hanya di posisikan sebagai investasi pribadi yang dapat meningkatkan daya saing individu di pasar kerja, dalam artian hanya menghasilkan robot nyawa  bukan sebagai pembentuk karakter. Hal ini mendorong institusi pendidikan untuk berlomba-lomba menawarkan program-program unggulan yang dijual dengan harga premium.

Suap menyuap juga sering terjadi di era gempuran kapitalisasi pendidikan, bayangkan di sekolah sudah di ajari suap menyuap, misalnya saja saat masuk universitas ternama sudah bisa, asalkan dengan syarat ada duit semua jadi lebih mudah dan terjangkau. Jadi pendidikan dianggap tidak lebih sebagai mesin penghasil uang bukan penghasil manusia terdidik dan berkarakter.

Padahal dalam Islam pendidikan basicnya terhubung dengan akidah, semua atas keridhoan Allah. Jadi jika Allah tidak ridho semua dianggap ilusi walaupun dengan menghasilkan berbagai cara, berbeda dengan hari ini fondasi yang di bangun adalah materi.

Wallahu a'alam bish-shawab


Share this article via

56 Shares

0 Comment