| 43 Views
Ibadah Haji Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah
Oleh : Ummu Faqih
Presiden Indonesia Prabowo Subianto ingin bangun kampung Indonesia di saudi, lobi kepada pemerintah Arab. Presiden Prabowo Subianto yang ingin menurunkan biaya ongkos naik haji (ONH) mengenangkan berbagai program. Prabowo minta pada Mentri Agaram (MA) Nasaruddin Umar dan Kepala Badan Penyelenggara Haji (Bp haji) Muhammad Irfan Yusuf agar ongkos naik haji (ONH) ditekan lagi hingga lebih murah dari Malaysia BeritaNasional.com (08-05-2025)
Biaya penyelenggaraan ibadah haji tahun ini sebesar Rp 89.410.258.79 turun jadi Rp 4.000.027.21.
Sedangkan tahun lalu mencapai Rp93.410.286.00 biaya yang di ganggung langsung jemaah sebesar Rp55.431.750.78 sisanya di subsidi oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH)
Penguasa harusnya menjadi pelayan rakyat, kini berubah menjadi pengusaha yang mempertimbangkan untung dan rugi. Ibadah haji dalam kapitalisme adalah ceruk pasar, dan ceruk bisnis, kemudian dieksploitasi melalui bisnis perhotelan, bisnis transportasi, katering, jasa pembimbing, dan lainya.
Beda sekali dengan sistem Islam, penyelenggaraan haji dalam khilafah jemaah haji dilayani sebaik-baiknya tanpa ada unsur bisnis. Khilafah akan mengatur penyelenggaraan ibadah haji dengan serius, melayani terhadap rakyat adalah sederhana dalam sistemnya, eksekusinya cepat. Dalam khilafah pengaturan ibadah haji: penerapan ongkos naik haji (ONH) akan sesuai dengan biaya yang dibutuhkan oleh jemaah berdasarkan jarak wilayahnya, dan akomodasinya tidak ada visa haji karena dalam satu negara khilafah.
Hikmah Berhaji
Pelaksanaan haji memiliki banyak hikmah yang penting, haji adalah ibadah yang menunjukkan ketaatan dan pengorbanan, umat muslim yang kuat tekadnya yang mau bekorban untuk berhaji. Ibadah haji simbol tauhid, didalamnya ada penegasan Allah SWT, dan penafian sekutu baginya. Ibadah haji juga menapak tilas jejak bersejarah dan spritual mulai dari nabi Ibrahim, nabi Ismail as, dan nabi muhammad saw, kaum muslim berkumpul disekitar ka'bah yang dibangun nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Ibadah haji juga mengajari umat muslim untuk mengendalikan amarah, permusuhan, mengembangkan sikap ramah dan tolong menolong kepada sesama. Ibadah haji juga tempat momen meleburnya jutaan umat muslim dari segenap penjuru dunia, tidak pandang suku bangsa, warna kulit, dan bahasa.
Pertanyaannya mengapa ibadah haji tidak memberikan dampak persatuan yang hakiki dan berkelanjutan? mengapa persatuan itu hilang usai ibadah haji dan umat tetap dalam keadaan porak-poranda?
Sungguh sayang, ibadah haji mengumpulkan, dan melebur jutaan orang dalam satu tempat, satu waktu ternyata belum mampu mengantarkan mereka menuju persatuan yang hakiki. Semua ini terus terjadi setiap tahun. Persatuan umat atau ukhuwah islamiyah saat berhaji baru sebatas menciptakan ikatan spritual tanpa sistem. Persis dengan ibadah salat berjamaah atau salat jum'at, umat berkumpul disatu tempat dan waktu kemudian bubar begitu saja, tidak ada ikatan lagi diantara mereka. Ibadah haji seharusnya menjadi konferensi akbar untuk membangun kesadaran umat, bahwa umat islam saat ini telah bercerai-berai, tidak menjadi umat yang satu. Banyak sekali permasalahan umat yang harus diselesaikan secara bersama. Umat islam tidak akan kokoh dengan kekuatan gagasan saja. Umat islam akan tegak bila hati kita terpaut dan barisan ini erat, selain karena visi, juga karena terikat oleh akidah.
Tanpa persatuan umat atau ukhuwah islamiyah yang kuat kita rapuh, tanpa saling peduli kita kehilangan daya juang, dan tanpa keikhlasan untuk merangkul kita akan saling meninggalkan. Allah SWT berfirman dalam (Qs.Al-Anfal:46 )" Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jangan kalian saling berselisih. Jika kalian berselisih kalian akan gagal dan hilang kekuatan kalian".
Ingatlah kaum kafir dan para munafik bersatu bahu-membahu menghancurkan umat islam. Mereka menggelontorkan harta tanpa batas, menguasai media, dan mengendalikan opini publik, mereka ingin cahaya islam padam.
Saatnya Umat Sadar
Umat islam akan menang jika kita lawan dengan kekuatan yang lebih tinggi yaitu kekuatan ( Ikhlas), ikhlas untuk saling menguatkan, ikhlas untuk memaafkan tanpa harus diminta, ikhlas untuk merangkul meski pernah dilukai, inilah diantara senjata kita, bukan uang, bukan fasilitas, tetapi hati yang saling menopang.
Kita ini manusia punya kelemahan kadang khilaf, kadang tersinggung. Tetapi jika setiap kesalahan dibalas dengan kebencian. Siapa yang akan merawat barisan ini? Kalau sesama pejuang saling menyakiti, siapa yang akan menyembuhkan luka umat?
Lihatlah siroh dulu atau para sahabat, mereka mulia bukan karena tidak pernah berbeda pendapat, bukan karena suci dari hawa nafsu. Para sahabat juga manusia, mereka ikhlas, mereka lapang dada, mereka minta maaf dan memaafkan. Mereka tau perjuangan ini bukan soal perasaan, bukan soal siapa yang lebih ideal, tetapi soal satu tujuan rida Allah SWT, syafaat Rasulullah dan kemenangan islam.
Barisan ini tidak butuh wajah-wajah sempurna tetapi membutuhkan hati yang tulus, sanggup merangkul ketika yang lain mulai melemah. Jika ada yang kelelahan temani, ada yang terluka rawat, ada yang jatuh bantu bangkit, jangan biarkan diantara kita roboh sendirian. Karena jika kita bersatu iblis gigit jari, musuh panik, dunia terguncang.
Mari kita rawat ukhuwah ini dengan ketulusan, dengan pelukan dan do'a, satukan hati kita berjuang bersama untuk sampai ke syurga.