| 500 Views

Hentikan Derita Palestina Dengan Institusi Negara Khilafah

Oleh : Diah Setyarini
Aktivis Muslimah

Kebrutalan Israel Menyerang Gaza Palestina sudah sangat banyak memakan korban jiwa. Menurut otoritas kesehatan Gaza yang menginformasikan bahwa jumlah korban akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 sudah mencapai 60.430 jiwa, dan 148.722 orang lainnya luka-luka. Sebagian besar korbannya adalah perempuan dan anak-anak.

Menurut laporan sumber medis yang dikutip The Peninsula. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya ada 98 warga Palestina yang dilaporkan tewas dan 1.079 lainnya luka-luka akibat serangan yang masih berlangsung di Jalur Gaza. The peninsula Minggu, 3 Agustus 2025.

Militer Israel kembali melakukan pelanggaran perjanjian gencatan senjata, Israel menyerang Gaza Palestina sejak 18 Maret. Sasaran mereka adalah wilayah padat penduduk, akibatnya memperparah krisis kemanusiaan karena jumlah korban makin hari makin bertambah.

Sejak saat itu jumlah korban jiwa kembali bertambah menjadi 9.246 jiwa, dan korban luka-luka menjadi 36.681 orang.

Sejumlah petugas medis kesulitan untuk menggapai jenazah korban, ada yang  tertimbun oleh reruntuhan bangunan dan ada pula yang tergeletak di jalanan, saking banyaknya jumlah korban jiwa.

Selain petugas medis tim penyelamat dan ambulans juga mengalami kesulitan untuk mengevakuasi para korban lantaran terus menjadi sasaran serangan militer Israel. Metrotvnews, 3 Agustus 2025.

Sementara itu, sikap abai dunia Islam terhadap Gaza kian membuat miris. Negara tetangga sekaligus yang terbesar di kawasan jazirah, yakni Arab Saudi hanya bisa mengecam tanpa melakukan tindakan.

Demikian juga dengan Mesir, meski berbatasan langsung dengan Gaza, Mesir enggan membuka pintu perbatasannya, apalagi memberikan bantuan pengiriman pasukan untuk Palestina.

Tidak hanya Arab dan Mesir saja yang berdiam diri melihat kondisi Gaza saat ini, hampir seluruh negara Muslim di dunia semuanya tidak melakukan tindakan yang banyak menguntungkan Gaza. Sebagian negara Arab malah menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa sedikitpun memikirkan Gaza saat ini.

Semua ini menunjukkan bahwa ketidakpedulian  dunia Islam terhadap Palestina adalah akibat dari sekat nasionalisme dan sentimen kebangsaan mereka. Ikatan akidah Islam mereka tidak nampak dalam menyikapi krisis kemanusiaan di Palestina.

Sebaliknya negri Muslim sekarang lebih mengutamakan sikap  nasionalismenya, mereka tidak berkutik untuk membela saudara muslimnya di Palestina.

Nasionalisme berhasil membuat batasan, mana yang menjadi urusan di dalam negri dan mana yang menjadi urusan di luar negeri. Kalaupun menunjukkan kepedulian itu hanya rasa kemanusiaanlah yang menjadi pendorong, bukan kerangka akidah.

Padahal, Rasulullah saw bersabda “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim). Sangat jelas bukan, nasionalisme sudah menggeser kedudukan ikatan akidah pada nomor kesekian.

Fakta inilah yang bisa kita lihat pada sikap negeri-negeri muslim yang menggelar KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Meski mengatakan bahwa KTT Luar Biasa OKI menghasilkan resolusi berisi 31 keputusan kuat dan keras, tetap saja tawaran solusinya masih mengulang kecaman dan resolusi yang membebek pada solusi Barat. Dan ini tidak mengubah keadaan, Gaza masih membara sampai detik ini.

Kaum muslim seharusnya tidak terus terpengaruh dalam labirin pemikiran sesat kaum kuffar. Mereka seharusnya memahami hakikat masalah Palestina. Menyikapi entitas Y4hudi tidak cukup dengan sekadar mengecam. Harus ada langkah konkret dan solutif bagi permasalahan Palestina.

Masalah yang paling utama dan mendasar atas berbagai problem umat Islam saat ini adalah karena ketiadaan institusi pemersatu, yakni kekhalifahan Islam. Institusi yang dulu pernah berdiri kokoh diruntuhkan melalui konspirasi Y4hudi saat itu. Kekhilafan Islam ini adalah kunci bagi kemenangan kaum muslim.

Untuk itu, negeri-negeri kaum muslim harus terlebih dahulu melepaskan diri dari belenggu nasionalisme yang menjerat mereka dan bersatu dalam kekhalifahan Islam.

Kekuatan pemikiran Islam yang bersanding dengan thariqah-nya cukup untuk mendirikan Daulah Islam dan mewujudkan kehidupan yang islami. Jika pemikiran ini telah meresap ke dalam hati, merasuk dalam jiwa, dan menyatu di dalam tubuh kaum muslim, selanjutnya Islam bisa dipraktikkan dalam kehidupan.

Palestina adalah kiblat pertama umat Islam, Palestina juga merupakan tempat Rasulullah melakukan Isra Mikraj. Di sisi lain, tanah Palestina adalah tanah yang ditaklukkan pasukan kaum muslim pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Jadi, sangat beralasan bagi kaum muslim untuk membebaskan Palestina.

Sebagaimana tercantum dalam sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu junnah (perisai) yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah saw. menyifati bahwa seorang imam (khalifah) adalah junnah (perisai), yang artinya mengandung pujian atas keberadaan imam (khalifah) dan bermakna adanya tuntutan karena informasinya langsung dari Allah dan Rasul-Nya. Hadis ini mengandung tuntutan dan konsekuensi terhadap tegaknya hukum syariat. Selain itu, pengabaiannya juga mengandung konsekuensi terhadap terabaikannya hukum syariat. Dengan begitu, tuntutan atas keberadaan khalifah tersebut bersifat tegas.

Untuk itu, keberadaan khalifah yang tentunya disertai dengan tegaknya Khilafah harus menjadi kesadaran umum dan opini umum di tengah-tengah umat. Ini karena tegaknya Khilafah tidak bisa instan dalam sekejap mata. Penegakannya membutuhkan keikhlasan, kesungguhan, dan air mata perjuangan.

Di sinilah urgensi upaya-upaya strategis untuk mengembalikan institusi pemersatu umat Islam, kekhalifahan Islam. Institusi inilah yang akan menjadi pelindung mereka dari berbagai bentuk penjajahan kaum kuffar, kini dan nanti.

Wallahualam.


Share this article via

109 Shares

0 Comment