| 36 Views

Hari Santri yang Tiada Arti dalam Sistem Kapitalisme ini

Oleh: Ummu Fani 

Setiap tanggal 22 Oktober rutin digelar hari santri nasional. Alasan mengapa hari santri ini jatuh pada tanggal 22 Oktober, maka hal ini bisa dijelaskan bahwasannya pada tanggal tersebut merupakan momentum bersejarah keluarnya resolusi jihad oleh KH Hasyim Asy'ari yang menyerukan umat Islam untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan.

Jika dilihat konteks dari kata mempertahankan kemerdekaan indonesia dari penjajahan maka jelas ini merujuk pada kemerdekaan dari penjajahan kolonial. Ini sangat relevan dengan kondisi yang tengah dialami oleh bangsa indonesia saat ini yang mana meskipun secara harfiah sudah merdeka dari penjajahan kolonial, namun faktanya negara ini masih belum lepas dari penjajahan itu sendiri. 

Jika dilihat lebih cermat, peringatan hari santri justru lebih mengedepankan formalitas yang bersifat seremonial belaka. Peringatan ini sama sekali tidak menggambarkan peran santri sebagai sosok yang fakih fiddin (memahami Ilmu Agama) dan pelopor agenda perubahan. Filosofi yang mendasari adanya hari santri bertolak belakang dengan fakta pelaksanaan peringatannya. jihad fisabilillah tidak tercermin dalam pelaksanaan hari santri yang diperingati setiap tahunnya. Pujian terhadap peran para santri dalam berjihad melawan penjajahan kolonial pada masa lampau tidak sejalan dengan program-program dan kebijakan yang diterapkan dalam kehidupan para santri saat ini. Para santri justru dijadikan agen moderasi beragama dan pemberdayaan ekonomi nasional.

​Ironisnya, di tengah pengagungan sejarah ini, pemerintah mencanangkan pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren (Ditjen Pesantren). Upaya ini diklaim sebagai penguatan kelembagaan, tetapi di dalamnya terselip agenda  "moderasi beragama." Dalam perspektif kritis, moderasi beragama dipandang bukan sebagai produk otentik ajaran Islam, melainkan sebagai proyek ideologis Barat yang bertujuan mereduksi peran politik Islam sebagai ideologi sistemik.

​Orientasi ideal pesantren adalah sangat strategis dan visioner, yaitu mencetak ulama warasatul anbiya’ yang berkepribadian Islam, faqih fiddin, tangguh dalam berdakwah, serta aktif melakukan muhasabah lil hukkam (koreksi terhadap penguasa) agar kepemimpinan negara senantiasa berjalan di atas rel syariat Islam. Sayangnya, potensi revolusioner ini justru dikerdilkan.

​Perayaan Hari Santri yang sarat seremonial secara implisit menunjukkan adanya upaya sistematis oleh negara dan sistem sekuler-kapitalisme yang berkuasa untuk mengecilkan potensi santri sebagai motor perubahan fundamental. Potensi besar santri sebagai pelopor penegak syariat dan kontra-ideologi terhadap imperialisme modern belum disadari sepenuhnya. Santri hanya dipotret dari dimensi ilmu, ritual, spiritual, dan moralitas (akhlak) semata. Dengan kata lain, potensi keilmuan mereka diarahkan sebatas kepentingan individual atau sektoral, dan tidak dialihkan untuk kepentingan ideologi umat secara menyeluruh.

​Sistem sekuler-kapitalisme memiliki strategi kooptasi ideologis yang halus untuk mengebiri peran strategis santri agar tidak menjadi ancaman bagi keberlangsungan

Santri memiliki peran strategis dalam menjaga umat dan mewujudkan peradaban islam cemerlang. Yaitu dengan menjadi santri yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama dan segala hal yang berkaitan dengannya (faqih fiddin) dan menjadi agen perubahan menegakkan syariat islam, bersinergi dalam mewujudkan penerapan syariat islam. 

Selain menjadi tugas santri, ternyata negara pun harus turut andil. Negara menjadi penanggung jawab nomor satu untuk mewujudkan eksistensi pesantren dengan visi dan misi mulia mencetak para santri yang siap berdiri di garda paling depan melawan penjajah dan kezaliman. Hanya dengan negara islam umat bisa mewujudkan merdekanya sebuah peradaban.

Wallahu alam bishshowab.


Share this article via

26 Shares

0 Comment