| 77 Views

Hari Santri: Momentum Aktivasi Santri sebagai Pelopor Perubahan

(Shutterstock)

Oleh: Yeni Ummu Fahmi

Tanggal 22 Oktober kerap menghadirkan perpaduan lantunan shalawat, takbir dan semangat kebangsaan dalam peringatan Hari Santri. Setiap tahun, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri dengan penuh semangat. Di berbagai daerah, digelar upacara perayaan hari santri, pengadaan lomba baca kitab, hingga drama bahkan festival sinema yang bernuansa santri. Sorotan media dan perhatian publik dalam sekejap meluas, menyajiakn kepada kita tentang beragam momentum pada perayaannya, seakan menjadi tanda bahwa eksistensi santri kian diakui dalam ruang kebangsaan. Tahun ini, peringatan Hari Santri menggagas sebuah  tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.” Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya bahkan menegaskan kembali peran santri sebagai penjaga moral dan pelopor kemajuan, seraya menyinggung peristiwa bersejarah Resolusi Jihad yang dipelopori KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Sebagaimana dalam pemberitaan yang dimuat, “Peringatan Hari Santri, Presiden Prabowo: Santri Adalah Penjaga Moral dan Pelopor Kemajuan Bangsa” dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat Hari Santri Nasional Tahun 1447 Hijriah kepada para santri, santriwati, kiai, nyai, hingga keluarga besar pondok pesantren di seluruh tanah air. Dalam ucapannya, Kepala Negara menekankan bahwa Hari Santri merupakan momentum untuk mengenang jasa para ulama dan santri yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, menyampaikan Selamat Hari Santri Nasional Tahun 1447 Hijriah. Di Hari Santri ini, kita mengenang semangat juang para santri yang dengan ilmu, iman, taqwa, dan cinta tanah air, turut merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” ujar Presiden Prabowo dalam video yang ditayangkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, pada Jumat (24/10/2025).

Presiden Prabowo mengingatkan kembali kontribusi santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, merujuk pada momen Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari. Menurut Presiden Prabowo, semangat jihad yang digelorakan para santri 80 tahun silam tetap relevan hingga hari ini, yaitu menjaga keutuhan bangsa dengan ilmu dan keimanan.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo turut menyampaikan langkah konkret pemerintah untuk memperkuat ekosistem pendidikan keagamaan berbasis pesantren. Kepala Negara menyatakan telah merestui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di bawah Kementerian Agama.

Presiden Prabowo pun menutup sambutannya dengan ajakan untuk meneguhkan tekad mengawal kemerdekaan Indonesia menuju peradaban yang berkeadilan, berakhlak, dan bermartabat. Presiden Prabowo juga menyampaikan doa bagi seluruh santri, santriwati, kiai, dan nyai di seluruh penjuru negeri.  

Namun di balik kemegahan seremonial itu, terbesit berbagai pertanyaan yang membutuhkan jawaban jujur. Apakah peringatan Hari Santri sungguh melambangkan ruh perjuangan dan visi keilmuan santri yang sejati? Ataukah hanya sekadar menjadi ajang simbolik tanpa arah perubahan yang jelas? Sungguh, hari Santri bukan hanya perayaan identitas yang bersifat religius, tetapi momentum kebangkitan dan aktivasi peran santri sebagai pelopor perubahan.
Perayaan yang Kehilangan Esensi dan Hampa Makna

Dalam kenyataanya, peringatan Hari Santri terkesan hanya  berakhir pada tataran seremonial semata. Upacara dan festival memang penting sebagai wujud syukur dan kebanggaan, tetapi esensi santri sejati bukanlah pada perayaan, melainkan pada pengabdian. Sungguh, santri sejati adalah mereka yang fakih fiddiin, mendalami dan memahami agama secara komprehensif dan kemudian menjadikannya rujukan bahkan pegangan dalam menata kehidupan umat. Namun sayangnya, goals atau tujuan ini kian memudar. Penghargaan atas peran historis santri sering kali tidak diimbangi oleh langkah nyata dalam memperkuat eksistensi pesantren di masa sekarang.

Faktanya, peran santri sering kali direduksi menjadi agen moderasi beragama atau agen pemberdayaan ekonomi. ini adalah dua hal yang meski terdengar positif, namun sesungguhnya menjauhkan santri dari peran ideologis dan perjuangan hakikinya yaitu menjaga kemurnian ajaran Islam dan melawan segala bentuk penjajahan gaya baru, baik dalam bidang ideologi, politik, maupun ekonomi.

Santri dan Tantangan Penjajahan Gaya Baru

Hari ini, penjajahan tidak lagi datang dalam bentuk kolonialisme bersenjata. Gaya penjajahan hadir dalam bentuk dominasi sistem kapitalisme global yang menindas umat melalui ketimpangan ekonomi, kemiskinan struktural, dan rusaknya moral generasi muda. Dalam kondisi inilah seharusnya peran strategis santri tampil nyata yaitu  menjadi benteng akidah, penjaga umat, dan pelopor perubahan yang berani menegakkan kebenaran di tengah arus sekularisasi.
Namun, apabila pembinaan santri hanya difokuskan pada aspek keterampilan kerja, kewirausahaan, atau sekadar promosi moderasi, maka peran mendasar santri sebagai penjaga dan penggerak nilai-nilai Islam akan tergerus perlahan. Santri sejati bukan sekadar agen sosial, tetapi juga agen ideologis yang membawa risalah Islam sebagai solusi kehidupan.

Momentum Hari Santri seharusnya menjadi titik balik untuk mengembalikan ruh perjuangan santri. Negara memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan eksistensi pesantren tetap kokoh pada visi mulianya: mencetak generasi yang fakih fiddiin, berakhlak mulia, dan siap berdiri di garda terdepan melawan kezaliman dan penjajahan dalam bentuk apa pun.

Santri sebagai Pelopor Perubahan Sejati hanya dalam Naungan Islam 

Sejarah membuktikan bahwa ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai daulah Islam, para santri tampil sebagai pelopor kemajuan dan penjaga peradaban. Mereka bukan hanya berjuang di medan tempur, tetapi juga di medan pemikiran, pendidikan, dan sosial. Maka, kebangkitan santri hari ini harus diarahkan pada perjuangan menegakkan kembali sistem Islam yang mampu membawa rahmat bagi seluruh alam.

Santri tidak boleh puas menjadi penonton di tengah krisis moral dan kebobrokan sistem. Mereka harus berani menjadi pelaku sejarah baru yang unggul, mampu membangun peradaban cemerlang yang berpijak pada nilai-nilai Islam semata. Itulah sejatinya makna sejati Hari Santri. Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi mengaktifkan kembali semangat jihad intelektual dan spiritual untuk mengubah dunia menuju peradaban yang diridhai Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshawab.


Share this article via

48 Shares

0 Comment