| 417 Views
Harga Tiket Pesawat Melambung, Rakyat Makin Buntung
Oleh : Ghaziah El-Mezha
Lagi ingin-inginnya silaturahmi kesanak saudara di seberang pulau, lalu mendengar kalau harga tiket pesawat makin melambung? Pastinya jengkel dan kesal. Yang jadi pertanyaan adalah kenapa bisa naik sedrastis ini?
Menteri pariwisata dan ekonomi kreatif (menparekraf) Sandiaga Uno memastikan bahwa pemerintah telah membentuk satuan tugas atau bisa disebut satgas. Untuk memantau perkembangan harga tiket pesawat. Hasil pembentukan satgas ini sebagai tindak lanjut pemerintah menciptakan harga tiket pesawat yang lebih efisien di indonesia.
Setelah acara 'Road to Run for Independence', Sandiaga angkat bicara "Itu sudah diadakan rapat koordinasinya, dan sudah diperintahkan ada sembilan langkah ke depan, termasuk pembentukan satgas untuk penurunan (harga) tiket pesawat."
Ia juga menjelaskan satgas tersebut terdiri dari kementerian koordinator bidang kementerian dan investasi (kemenko marves), serta kementerian atau lembaga (K/L) terkait lainnya. Dalam kesempatan ini, menyampaikan bahwa bukan hanya bahan bakar avtur saja yang berkontribusi membuat harga tiket mahal di dalam negeri.
Terdapat aspek lain seperti beban pajak hingga beban biaya operasional, lanjutnya.
"Jadi jadi itu semua akan dipastikan bahwa industri penerbangan kita efisien, seperti industri penerbangan di luar negeri." ujar Sandiaga.
Menteri koordinasi bidang kemaritiman dan investasi Luhut Binsar Panjaitan, menyebutkan sedang menyiapkan langkah efisiensi penerbangan untuk menurunkan harga tiket pesawat, salah satunya terkait evaluasi operasi biaya pesawat.
Luhut bahkan menyebutkan harga tiket pesawat di indonesia tercatat paling mahal di ASEAN dan nomor dua termahal di dunia, Indonesia itu jadi yang termahal kedua setelah Brasil. kok bisa ya? semahal itu?
Luhut juga menjelaskan bahwa cost per blog hour (CBH) yang merupakan komponen biaya operasi pesawat terbesar, perlu di indentifikasi rincian pembentukannya. "Kami juga merumuskan strategi untuk mengurangi nilai CBH tersebut, berdasarkan jenis pesawat dan layanan penerbangan." ujar Luhut.
Seringkali kita mendengar tentang persoalan transportasi yang sering menjadi masalah di negeri kita ini, tak terkecuali pula transportasi udara. Harga tiket pesawat yang dengan berbagai alasan terus-menerus mengalami kenaikan pernah menjadi keluhan banyak pihak.
Mahalnya tiket pesawat bukan hanya sekedar karena mahalnya avtur (bahan bakar pesawat) saja atau karena tingginya beban pajak, akan tetapi dampak dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang berasaskan sekularisme dan mengabaikan aturan agama dalam urusan mengatur kehidupan. Sistem ekonomi kapitalisme menerapkan transportasi udara jasa, yang harus dikomersialkan baik kepada negara maupun pihak swasta. Alhasil layanan transportasi sekarang hanya berperan sebagai objek bisnis dalam kacamata ekonomi kapitalisme. Makanya gak heran lagi kalau harga tiket pesawat terus melambung, karena yang namanya bisnis tidak bisa dilepaskan dari mencari keuntungan yang besar.
Rakyat pun akhirnya tidak bisa menikmati layanan transportasi murah, nyaman, dan harga terjangkau. Hal ini diperparah dengan posisi negara sebagai regulator yang kebijakannya hanyalah melayani kepentingan korporasi. Akhirnya seluruh aspek transportasi udara dalam kendali koorporasi, baik yang swasta lokal maupun asing.
Perlu diketahui, bahwa 65% industri pesawat terbang indonesia dikuasai swasta, sementara pemerintah hanya memiliki 35% saja. Penguasaan ini terkait alat angkutnya (pesawat), bahan bakar minyak penerbangan (avtur) hingga infrastruktur penerbangan dengan segala kelengkapannya.
Transportasi udara yang berkualitas, murah, nyaman, dan aman. Pastinya akan dirasakan rakyat yang negaranya menerapkan sistem ekonomi islam di bawah naungan Khilafah.
Transportasi ini dalam sudut pandang islam merupakan kebutuhan publik yang menjadi tanggung jawab negara. Negara yang berfungsi sebagai raa'in atau pengurus umat, harus mampu mewujudkan kebutuhan transportasi di bawah paradigma pelayanan bukan bisnis. Rasulullah SAW bersabda, "imam (Khalifah) adalah raa'in (pengembala/pengurus) dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya" (HR. al-Bukhari)
Satu-satunya solusi yang tepat adalah dengan menerapkan sistem Islam yang sudah diajarkan oleh baginda nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW. []