| 22 Views

Harga Apa Saja yang Naik di Ramadan 2026? Ini Komoditas yang Paling Sering “Memanas” di Pasar

CendekiaPos — Ramadan hampir selalu membawa dua suasana sekaligus: hati terasa lebih tenang, tetapi dompet sering lebih tegang. Penyebabnya klasik: permintaan naik (buka puasa–sahur), distribusi makin padat, dan di beberapa daerah muncul permainan harga. Tahun Ramadan 2026 pun tidak jauh berbeda—sejumlah komoditas pangan tercatat menjadi pemicu kenaikan harga, sementara sebagian lain relatif stabil dan bahkan sempat turun.

Berikut rangkuman harga yang cenderung naik di Ramadan 2026 berdasarkan laporan inflasi dan pemantauan harga pangan.

1) Beras

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beras termasuk komoditas yang memberi andil inflasi selama Ramadan (berulang dalam tren beberapa tahun terakhir).
Dalam pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras juga disebut variatif di pasar (rentang harga berbeda antar kualitas/daerah).

Kenapa naik? Permintaan rumah tangga meningkat dan stok/arus distribusi jadi lebih sensitif.

2) Cabai (terutama cabai rawit merah)

Ini “juara tahunan” Ramadan. Banyak laporan menyebut cabai rawit sebagai penyumbang inflasi dan komoditas yang mudah melonjak. BPS menyebut cabai rawit sebagai salah satu komoditas penyumbang inflasi Ramadan.
Bapanas juga menyorot dinamika cabai rawit merah—bahkan sempat disebut turun dari Rp120 ribu ke Rp100 ribu, menunjukkan volatilitasnya tinggi.
Riset CNBC Indonesia (berbasis data harga) juga menuliskan lonjakan tajam cabai rawit merah.

Kenapa naik? Cabai sangat dipengaruhi cuaca, panen, dan distribusi. Begitu demand naik dan pasokan tersendat sedikit, harga cepat melompat.

3) Daging ayam ras

Komoditas protein ini juga sering “memanas” menjelang Ramadan. BPS dan BI (melalui ulasan inflasi/komoditas volatil) sama-sama menempatkan daging ayam ras sebagai komoditas yang berpotensi menyumbang tekanan harga saat HBKN/Ramadan.
Data harga DKI Jakarta (Katadata Databoks) juga menunjukkan daging ayam termasuk komoditas yang naik pada periode jelang Ramadan.

Kenapa naik? Demand lauk meningkat, sementara rantai pasok ayam sensitif terhadap biaya pakan, distribusi, dan lonjakan konsumsi mendadak.

4) Telur ayam ras

Telur juga masuk daftar komoditas yang sering naik saat Ramadan. Bapanas memantau harga telur yang berada di kisaran Rp30–31 ribu/kg (bahkan disebut sedikit di atas HAP).
Sementara laporan Okezone mencatat telur ayam ras segar mengalami kenaikan.
BI daerah juga menyorot telur sebagai komoditas yang perlu diwaspadai saat HBKN.

Kenapa naik? Pola konsumsi rumah tangga naik (sahur/buka), dan telur termasuk komoditas yang cepat bereaksi pada perubahan demand.

5) Gula pasir

Di Ramadan 2026, gula ikut menjadi sorotan. Okezone melaporkan kenaikan gula pasir premium dan gula pasir lokaldalam pemantauan harga Ramadan.

Kenapa naik? Permintaan minuman manis, takjil, dan kebutuhan rumah tangga meningkat tajam di awal Ramadan.

6) Minyak goreng

Minyak goreng juga sering ikut terdorong naik karena aktivitas memasak meningkat. Okezone mencatat kenaikan pada minyak goreng curah dan minyak goreng kemasan.

Kenapa naik? Konsumsi gorengan/takjil meningkat, dan harga minyak sensitif pada pasokan serta distribusi.

7) Bawang (merah dan putih)

BPS menyebut bawang putih sebagai salah satu komoditas yang memberi andil inflasi Ramadan.
Bapanas juga memantau harga bawang merah dan bawang putih dalam rentang yang naik-turun, tergantung pasokan harian.
Databoks DKI juga menunjukkan bawang menjadi komoditas yang naik pada periode jelang Ramadan.

Kenapa naik? Bawang sangat bergantung pasokan harian dan kelancaran distribusi—mudah bergejolak saat permintaan naik.

Catatan penting: tidak semua daerah sama, dan sebagian harga bisa “balik turun”

Bapanas dalam rilisnya menyebut harga pangan relatif membaik untuk beberapa komoditas setelah ada penguatan pasokan dan pemantauan, termasuk cabai rawit yang sempat turun dari hari sebelumnya.
Artinya, tren Ramadan 2026 bukan “semua naik terus”, melainkan beberapa komoditas volatil yang naik-turun cepat.


Share this article via

0 Shares

0 Comment