| 19 Views
Harapan Sejahtera, Bukan untuk yang Miskin
Ilustrasi Anak Dirawat di Rumah Sakit/Foto: Getty Images/iStockphoto/AgFang
Oleh: Windih Silanggiri
Pemerhati Remaja
Lagi-lagi hilangnya nyawa bukan menjadi perhatian utama di negeri ini. Kasus penolakan pasien hingga berujung kehilangan nyawa kembali terulang. Minggu, 16 November 2025, kejadian bermula saat Irene Sokoy mengalami kontraksi di Kampung Kensio, Danau Sentani. Karena tidak ada fasilitas kesehatan di kampung itu, keluarga membawanya dengan speedboat menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari. Jarak antara Kampung Kensio dan RSUD Yowari sekitar 30 kilometer dengan estimasi waktu tempuh 40–50 menit (bbc.com, 24-11-2025).
Setelah sampai di rumah sakit, Irene diperiksa dan mendapatkan perawatan medis. Namun, semakin lama kondisi Irene dan janinnya semakin lemah. Oleh pihak rumah sakit, ia diminta untuk menjalani operasi. Sayangnya, dokter yang bertugas tidak berada di tempat sehingga ia harus dirujuk ke RS Dian Harapan.
Nasib baik tidak memihak Irene. Dengan kondisi yang semakin melemah, ia harus menunggu ambulans datang sejak pukul 23.00 WITA hingga 01.22 WITA. Sesampainya di rumah sakit, Irene tidak bisa mendapatkan perawatan karena ruangan kelas 3 BPJS sudah penuh. Akhirnya, Irene dilarikan ke RSUD Abepura.
Pihak RSUD Abepura tidak bisa menangani karena ruang operasi masih dalam tahap renovasi. Tanpa berpikir panjang, Irene segera dibawa ke RS Bhayangkara Jayapura. Karena ruangan kelas 3 BPJS sudah penuh, pihak rumah sakit mengarahkan keluarga Irene untuk mengambil fasilitas VIP. Namun mereka harus membayar uang muka sebesar Rp4 juta agar bisa ditangani.
Karena pihak keluarga tidak mampu membayar, Irene dirujuk ke RS Dok II Jayapura. Sayangnya, dalam perjalanan menuju lokasi, kondisinya semakin memburuk dan akhirnya meninggal bersama janin dalam kandungannya.
Sangat miris dan menyayat hati. Papua, sebuah wilayah yang memiliki ladang emas berlimpah, namun soal kesehatan saja tidak mampu diatasi. Mengapa bisa terjadi? Apa yang salah?
Buruknya Layanan Kesehatan
Kasus Irene Sokoy telah membuka luka lama. Pelayanan kesehatan yang semakin buruk mengakibatkan rakyat kecil yang menjadi korban. Seolah-olah rakyat miskin dilarang sakit, apalagi berobat ke rumah sakit.
Kurangnya rumah sakit dan transportasi yang memadai mengakibatkan penanganan pasien semakin lambat. Terlebih lagi ketika ada pasien gawat darurat, sangat riskan kehilangan nyawa. Kurangnya tenaga medis dan dokter spesialis, fasilitas ruangan yang minim, hingga rumitnya birokrasi menambah kesulitan bagi pasien untuk segera mendapatkan pelayanan.
Melihat fenomena tersebut, tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak rumah sakit karena kondisi ini dipengaruhi oleh sistem yang berkembang. Sistem sekuler kapitalistik yang bercokol di negeri ini menjadikan aspek spiritual dijauhkan dari pengaturan urusan rakyat. Para kapitalis berperan besar sebagai pengendali kebijakan. Pelayanan kesehatan dijadikan sebagai ajang untuk mendapatkan keuntungan bagi mereka, bukan untuk nilai moral apalagi spiritual.
Dalam sistem sekuler kapitalistik, tanggung jawab pelayanan kesehatan bukan berada di tangan negara, melainkan diserahkan kepada pihak swasta. Artinya, pihak swasta akan memberikan pelayanan ketika pasien mampu membayar biaya pelayanan. Negara hanya berfungsi sebagai fasilitator bagi para kapitalis dan regulator semata. Negara benar-benar lepas tanggung jawab terhadap kebutuhan rakyat.
Begitulah fakta buruk jaminan pelayanan kesehatan yang tidak merata. Keinginan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas hanya sebatas mimpi di negeri ini. Lalu, mungkinkah jaminan pelayanan kesehatan bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat?
Pemerataan Jaminan Kesehatan oleh Islam
Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, yang memiliki aturan mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan sesamanya.
Persoalan kesehatan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap individu rakyat. Di sinilah peran negara untuk memberikan pelayanan kesehatan secara merata, adil, berkualitas, mudah diakses, dan gratis. Negara akan memenuhinya dengan dorongan takwa kepada Allah, bukan karena keuntungan. Inilah fungsi pemimpin dalam Islam sebagai ra'in, yaitu pengurus urusan rakyat.
Selain itu, sistem pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk lulusan yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam serta ahli dalam bidangnya. Ilmu yang didapatkan selama mengenyam pendidikan akan digunakan untuk kemaslahatan rakyat dengan dorongan takwa kepada Allah. Dengan demikian, tenaga kesehatan akan menjalankan profesinya dengan dorongan ketakwaan.
Mekanisme tersebut akan terwujud ketika ditopang oleh sistem ekonomi berbasis Islam. Anggaran pemasukan negara dikelola oleh Baitulmal. Pos-pos pemasukan Baitulmal bersumber dari:
Pertama, pos kepemilikan negara antara lain dari fai, ghanimah, kharaj, jizyah, khumus, ‘usyur, ghulul, rikaz, dan yang sejenisnya.
Kedua, pos kepemilikan umum antara lain dari minyak, gas bumi, listrik, pertambangan, laut, sungai, perairan, mata air, dan hutan.
Ketiga, pos zakat yang hanya boleh didistribusikan kepada delapan asnaf.
Dari pos-pos inilah negara memberikan biaya pendidikan gratis dan berkualitas. Sehingga lulusan tenaga kesehatan akan mencurahkan ilmunya untuk kepentingan rakyat. Mereka juga akan mendapatkan gaji yang layak sesuai profesi masing-masing.
Selain itu, negara akan melakukan pembangunan dan penyebaran rumah sakit serta puskesmas di berbagai wilayah dengan fasilitas lengkap dan mudah diakses setiap individu rakyat. Pelayanan kesehatan yang mudah, cepat, dan efisien akan diberikan tanpa memandang status sosial. Jumlah tenaga kesehatan akan memadai di setiap rumah sakit.
Para tenaga kesehatan juga akan memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait kesehatan ibu dan janin serta senantiasa memantau kesehatannya.
Seperti inilah Islam dalam memberikan pelayanan kesehatan. Mekanisme tersebut hanya dapat diterapkan pada sistem yang berbasis akidah Islam, yaitu Khilafah, bukan sistem yang berbasis keuntungan dan bersifat materi.
Wallahu a'lam bisshawab.