| 494 Views
Hanya Sistem Pendidikan Islam yang Mewujudkan Generasi Emas
Oleh : Khadijah, S. Si
Pemerhati Pendidikan
Isu perubahan kurikulum pendidikan periode kepemimpinan baru makin mengemuka ketika Mendikdasmen menyatakan akan menerapkan konsep deep learning dalam pembelajaran pendidikan Indonesia. Meski diklaim bahwa deep learning bukanlah kurikulum namun konsep dan perubahannya dimungkinkan terlaksana di tahun ajaran baru berikutnya (republika, 9/11/2024). Konsep pendekatan deep learning dalam pembelajaran pendidikan Indonesia. Didasarkan pada tiga pilar, yaitu mindful, meaningful, dan joyful yang bertujuan menciptakan suasana belajar lebih mendalam, bermakna, dan menyenangkan bagi siswa (beritasatu.com, 12/11/2024).
Gonta gantinya kurikulum dan berbagai kebijakan dalam sistem pendidikan nasional menjadi sesuatu yang biasa dalam sistem sekuler kapitalisme. Pergantian ini nyatanya belum mampu menyelesaikan persoalan pendidikan hari ini. Tingginya angka putus sekolah, semberawutnya sistem penerimaan siswa baru dengan sistem zonasi masih menjadi pekerjaan rumah negeri ini yang belum selesai. Faktanya, ketidakjelasan visi dan misi pendidikan belum mampu mewujudkan manusia seutuhnya, apalagi mengharapkan output generasi beriman, bertakwa dan terampil sebagaimana yang tercantum dalam tujuan pendidikan menjadi hal mustahil. Inilah akibat dari sistem sekulerisme yang diterapkan di negeri ini. Hal yang jauh berbeda dan tidak didapati pada sistem pendidikan Islam yang berasaskan pada akidah Islam dengan arah visi misi pendidikan yang jelas.
Sistem pendidikan Islam sesungguhnya memiliki visi nisi yang jelas sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Kepribadian Islami (asy-syakhshiyyah al-islâmiyyah) sebagai hasil gabungan dari dari pola pikir islami (al-‘aqliyyah al-islamiyyah) dan pola sikap islami (an-nafsiyyah al-islâmiyyah) adalah sesuatu yang ingin dicapai. Pola pikir islami berkaitan dengan pemahaman peserta didik terhadap hukum-hukum Islam seperti wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Sedangkan pola sikap islami berkaitan dengan perilaku peserta didik yang sesuai dengan hukum Islam di semua aspek kehidupan.
Sistem pendidikan Islam tetap memperhatikan ilmu pengetahuan umum (sains). Sejarah mencatat bahwa Rasulullah saw., misalnya, pernah mengizinkan dua orang sahabat beliau pergi ke Yaman untuk mempelajari teknik membuat senjata yang bernama dabbabah dan teknik pembuatan busur panah dan tombak serta menganjurkan para wanita untuk mempelajari ilmu tenun, menulis, dan merawat orang-orang sakit atau pengobatan. Beliau juga memerintahkan para orang tua agar mengajarkan kepada anak-anak mereka olahraga memanah, berenang, dan menunggang kuda. Selain itu, pemerintah menjalankan sistem pendidikan Islam yang melahirkan generasi berkepribadian islami. Sistem sanksi yang tegas dan sesuai dengan hukum dan ketetapan Allah Taala pun diterapkan oleh negara. Masyarakat pun wajib menegakkan amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan.
Sejarah mencatat generasi emas pada institusi Khilafah pada masa lalu semestinya dapat dijadikan menjadi petunjuk dan pelajaran yang berharga bagi umat Islam di negeri ini, khususnya pemerintah. Petunjuk bahwa hanya Islam sebagai sistem kehidupan yang benar/lurus, yang akan melahirkan aneka kebaikan bagi bangsa dan negara ini.
Inilah sistem pendidkan Islam yang akan melahirkan generasi emas, generasi yang beriman, bertakwa, cerdas, dan berprestasi yang tidak didapat pada sistem sekulerisme kapitalisme.
Wallahu a’lam.