| 28 Views

Gonjang Ganjing BBM Sebagai Imbas Gejolak Global

Oleh: Reni Sumarni

Pemberitaan tentang kelangkaan BBM di Indonesia sudah banyak terdengar di masyarakat. Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Mineral yaitu, Bahlil mengatakan akan membuka opsi bahan bakar dari negara lain, karena perang yang terjadi di Timur Tengah yaitu, Iran dengan Amerika Serikat membuat pasokan BBM ke Indonesia terhambat karena Iran tidak membuka jalan laut pengiriman BBM ke negeri-negeri yang menjadi sekutu Amerika Serikat. Pemerintah mengatakan kapal tanker Pertamina kita tertahan di Selat Hormuz yang terletak di antara Iran dan Oman.

Dari kabar tersebut, mengakibatkan BBM dalam negeri mengalami keterbatasan dan keterlambatan. Akan tetapi yang mengalami kenaikan adalah BBM nonsubsi. Karena keterbatasan ini, untuk membeli BBM yang bersubsidi masyarakat harus rela antre untuk mendapatkannya.

Adapun langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kondisi ini akan dilakukan penghematan. Subsidi BBM yang diambil dari APBN, tidak selamanya bisa mengcover kebutuhan BBM masyarakat. WFH (work from home) menjadi salah satu cara membatasi pembelian BBM untuk kendaraan roda empat. Bahkan dana untuk MBG pun dikurangi pengeluarannya demi menambal jatah subsidi BBM. Akan tetapi ternyata tetap saja kenaikan harga barang lainnya sudah terasa di tengah masyarakat di awal bulan April 2026.

Seandainya pemerintah tidak bergantung pasokan minyak dari negara luar, negeri kita tidak akan mengalami kelangkaan BBM, kita bisa memproduksi sendiri minyak karena  Indonesia memiliki kekayaan alam yang luas termasuk minyak bumi. Tapi inilah yang terjadi di negeri kita, meskipun kekayaan alam melimpah nyatanya tidak bisa dinikmati rakyat, sungguh ironi nasib negeri ini.

Sistem ekonomi dan politik yang dianut negeri ini adalah demokrasi kapitalis, yang nyatanya tidak mampu menyelesaikan masalah di tengah masyarakat. Maka saat ada gejolak global negeri ini langsung tergoncang dan goyah, bahkan rakyat semakin terpuruk dengan keadaan saat ini. Belum lagi pemimpin dan para penguasanya membuat negeri kita menjadi negeri pembebek untuk negara barat, karena solusi yang diambil pun bukan untuk kemaslahatan masyarakat melainkan untuk kepentingan para penguasa dan pengusaha, atau pemilik modal yang hanya mengambil keuntungan dalam semua aspek tanpa memikirkan nasib rakyatnya.

Bagaimana Islam menyikapi permasalahan yang terjadi saat ini, dimana daulah Islam berdiri dengan aturan yang diterapkan adalah aturan Islam, tentunya suatu negeri tidak akan mengalami kelangkaan BBM apabila pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dikelola dengan benar oleh negara. Kontribusi negara Islam dalam mensejahterakan rakyatnya tentu saja sesuai dengan aturan yang Allah tetapkan. Negara Islam harus mandiri dan tidak bergantung pada negara lain. Adapun minyak bumi yang berada di negeri lain, maka Khilafah akan mengajak untuk bergabung dan masuk wilayah daulah, Begitu pun kepada negara yang minyaknya melimpah seperti negeri Arab, setelah mereka masuk dalam wilayah daulah Islam maka pendistribusian minyak akan dipasok ke negeri-negeri muslim yang tidak memiliki kilang minyak besar.

Jika daulah Islam memiliki BBM secara mandiri maka akan menjadi negara yang independen, negara maju yang tidak bergantung pada negara lain dan bisa menjadi negara adidaya, sehingga apabila terjadi  gejolak global maka politik dan ekonomi negara kita tidak mudah tergoncang dan mengalami krisis. Adapun ketika sudah menjadi negara yang mandiri tetap untuk penggunaan BBM negara harus berjalan sesuai syariat Islam, dan memenuhi kebutuhan BBM bagi masyarakat.

Kalau pun daulah ingin melakukan penghematan BBM, tentunya untuk barang-barang yang perlu dihemat, tidak secara keseluruhan seperti, untuk pelayanan publik atau kepentingan jihad, pada dasarnya negara tau apa saja yang harus memakai BBM sesuai kebutuhan masyarakat. Maka disinilah peran seorang pemimpin dibutuhkan agar masyarakat tidak resah, bukankah tanggung jawab seorang pemimpin yaitu mengurusi urusan umatnya (raa'in).

Sejatinya daulah Islam tidak akan menyerahkan pengelolaan SDA kepada pihak swasta atau asing karena jelas dalam sebuah hadist yaitu. "Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu, air, api dan padang rumput." ( HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud). Jelas disini bahwa ketiganya tidak boleh dimiliki individu, dan hanya boleh dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat. Maka dari itu hasil bumi, api, air dan padang rumput seperti minyak bumi dan kekayaan lainnya bisa dinikmati oleh rakyat secara cuma-cuma. Adapun negara menjual hasil SDA tentunya tidak mematok harga tinggi, pasti dengan harga yang bisa dijangkau oleh masyarakat, dan hasil penjualannya pun dipakai untuk kepentingan rakyat.

Selain minyak, negeri Islam juga memiliki sumber energi yaitu, energi nuklir dan sumber energi lainnya. Maka, negara akan mengembangkannya, sehingga pemenuhan energi masyarakat akan terpenuhi dan tidak akan mengalami kelangkaan. Itu semua bisa terwujud apabila syariat Islam diterapkan, dan tegaknya daulah Islam dengan satu kepemimpinan yaitu Islam, dan tersebarnya dakwah Islam keseluruh penjuru dunia.

Wallahu a' lam bishshawab.


Share this article via

85 Shares

0 Comment