| 3 Views
Geopolitik : Mitra (yang Dulu) Diam Kini Jadi Target: Mengapa Amerika Kini Menyerang Iran?
Oleh : R. Irawan Chandra
Di ruang-ruang genting di bawah gedung PBB, di koridor-koridor berlapis marmer di Istana Damaskus yang hancur, dan di tenda-tenda suku di pegunungan Zagros, pertanyaan yang sama berbisik—seperti angin gurun yang membawa debu dan api: “Mengapa sekarang? Mengapa Amerika menyerang Iran, negeri yang selama ini menjadi mitra diam dalam permainan catur kawasan?”
Jawabannya tidak akan ditemukan dalam pernyataan pers yang dibacakan dengan nada datar oleh juru bicara Gedung Putih. Jawabannya terukir dalam bahasa diam yang hanya dipahami para pedagang kekuasaan: terukir di dinding-dinding gua tempat para revolusioner menyimpan mimpi, dan tertulis dalam tinta tak terlihat di atas lembaran-lembaran perjanjian rahasia yang disimpan di brankas bawah tanah di Swiss dan Oman.
Untuk memahaminya, kita harus kembali—ke masa ketika hubungan ini bukan tentang rudal dan serangan drone, melainkan tentang tarian halus antara dua kepentingan yang saling membutuhkan.
1979: Revolusi yang Mengguncang Sekutu Amerika
Tahun 1979, seorang imam tua berjubah hitam dengan sorban putih pulang dari pengasingan di Paris. Pesawat Air France yang membawanya mendarat di Teheran, dan tanah bergetar bukan karena gempa, melainkan karena jutaan kaki yang berteriak menyambut. Revolusi Islam menelan monarki.
Di Washington, para analis CIA menggigit kuku. Sekutu paling setia mereka di kawasan—“polisi Teluk” yang menjaga kepentingan minyak Barat—tumbang. Namun sejarah tidak pernah linear. Ia berkelok seperti ular di padang pasir.
Khomeini bukan sekadar nama. Ia simbol. Tapi simbol pun bisa dinegosiasikan.
1980-an: Iran Belajar, Dunia Tak Punya Teman—Hanya Kepentingan
Di tahun-tahun berikutnya, Saddam Hussein yang saat itu masih menjadi “orang baik” versi Washington menyerbu Iran dengan tank-tank buatan Amerika. Negeri para imam berteriak kepada dunia, tapi tidak ada yang datang. Tidak ada yang membantu—kecuali bisikan-bisikan dari koridor gelap.
Di sini, rahasia pertama muncul: Iran tidak pernah menjadi negara bawahan Amerika. Ia hanya berputar dalam orbit kebijakan Amerika untuk mendapatkan dukungan yang membantunya mewujudkan ambisi.
Orbit itu berbentuk elips: kadang dekat, kadang jauh. Pada 1980-an, ketika Irak menggunakan senjata kimia buatan Jerman dan data intelijen buatan Amerika, Iran belajar bahwa dunia tak punya teman, hanya kepentingan. Maka Iran membangun jaringannya sendiri—bukan dengan kekuatan konvensional, melainkan dengan tentara bayaran ideologi: Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, serta koneksi dengan faksi-faksi di Suriah dan Yaman.
Dan Amerika? Amerika membutuhkannya. Bukan terang-terangan, melainkan dalam kegelapan.
2001: Afghanistan dan Kerja Sama yang Tak Pernah Diakui
Tahun 2001, menara kembar runtuh. Debu Manhattan belum reda ketika pesawat-pesawat tanpa awak Amerika mulai terbang di atas Afghanistan. Di darat, pasukan khusus Amerika mendapati diri mereka berperang bersama milisi-milisi yang berteriak dalam bahasa Persia. Iran—musuh bebuyutan—membantu menjatuhkan Taliban yang Sunni dan anti-Syiah.
Kerja sama intelijen terjadi di ruang-ruang bawah tanah di Geneva: perwira Garda Revolusi duduk berhadap-hadapan dengan agen CIA, membagi peta dan target.
2003: Saddam Tumbang, Iran Menguat—Irak Jadi “Berkah” bagi Teheran
Tahun 2003, Saddam digulingkan. Kekacauan Irak menjadi berkah bagi Iran. Kini Baghdad punya pemerintahan Syiah yang akrab dengan Teheran. Di dalam pemerintahan Irak yang baru, ada menteri-menteri yang menghabiskan tahun-tahun pengasingan mereka di Iran. Para komandan milisi yang tadinya dilawan Amerika kini menjadi mitra dalam memerangi Al-Qaeda.
2011: Musim Semi Arab, Suriah, dan Milisi yang Kembali Dibutuhkan
Tahun 2011, Musim Semi Arab mengguncang kawasan. Di Suriah, ketika Bashar Al-Assad nyaris tumbang, pesawat tempur Israel menyerang konvoi senjata untuk Hizbullah, tetapi tidak ada yang menyerang Damaskus. Amerika punya prioritas lain: Islamis. Dan untuk melawan Islamis, Amerika butuh sekutu di darat. Lagi-lagi, milisi-milisi Iran yang turun.
Sejarah hubungan keduanya adalah sejarah transaksi kotor dan kepentingan timbal balik.
Para pejabat di Teheran dan Washington tak pernah mengakuinya di depan kamera. Tapi di belakang layar—di ruang-ruang yang tak tercatat dalam notulensi resmi—transaksi itu berlangsung.
Iran mengendalikan milisi di Suriah, Amerika membiarkannya, selama mereka tidak mengganggu pasukan Amerika di timur laut. Iran mengirim senjata ke Houthi di Yaman; Amerika memprotes keras, tetapi tak pernah benar-benar memblokade total karena ada perhitungan lain: harga minyak, persaingan hegemoni dengan Inggris, dan kepentingan jangka panjang.
Namun tidak ada tarian abadi. Tidak ada kemitraan kekal. Hanya ada jeda.
Ketika “Proyek Besar” Memasuki Fase Matang
Pada suatu titik, proyek besar itu—The Grand Project—mulai mencapai fase kematangannya. Amerika, setelah dua dekade terseret dalam perang Timur Tengah, ingin keluar. Tapi keluar tidak berarti meninggalkan. Keluar berarti membentangkan pengaruh secara langsung dan penuh, tanpa perlu mediator yang bandel.
Mereka ingin menggambar ulang peta kawasan sesuai cetak biru lama yang sempat terhambat: The Greater Middle East Initiative.
Inisiatif itu membutuhkan kawasan yang stabil, tapi stabil versi Amerika—bukan stabil versi Iran yang punya cabang-cabang di Beirut, Baghdad, dan Sana’a.
Di mata Washington, Iran telah melampaui batas. Ia bukan lagi mitra taktis yang berguna. Ia telah menjadi struktur—jaring laba-laba yang terlalu besar dan terlalu kuat.
Ketika tentara bayaran Iran menembak pangkalan Amerika di Irak, itu bisa ditoleransi. Tapi ketika mereka membangun pangkalan militer permanen di dekat Suriah, ketika rudal-rudal presisi buatan Iran mulai dipasang di Lebanon dan bisa menjangkau Tel Aviv kapan saja, itu mengubah segalanya.
Kesalahan Iran adalah berpikir transaksi itu abadi. Padahal dalam politik kekuasaan, setiap transaksi memiliki tanggal kedaluwarsa.
Narasi di Ruang Oval: “Diplomasi Gagal, Sanksi Tak Mempan, Tinggal Opsi Militer”
Maka tibalah momen ketika seorang presiden Amerika berdiri di Ruang Oval, dikelilingi jenderal dan penasihat keamanan nasional. Di layar di depannya, ada peta Timur Tengah dengan garis merah dan panah biru. Presentasi tentang “ancaman Iran yang melampaui batas” diputar dengan narasi meyakinkan:
“Kita sudah mencoba diplomasi. Mereka menolak.”
“Kita sudah mencoba sanksi maksimum. Mereka bertahan.”
“Sekarang, hanya opsi militer yang tersisa.”
Kata-kata itu mungkin diucapkan dengan nada berat, penuh tanggung jawab, seolah tidak ada pilihan lain. Padahal di ruang yang sama, mungkin tak ada yang menyebutkan bahwa Iran pernah membantu Amerika di Afghanistan. Tak ada yang mengingat bahwa intelijen Iran pernah menyelamatkan nyawa tentara Amerika di Irak.
Sejarah hanya berguna selama ia mendukung narasi—dan dibuang ketika ia menghalangi.
Pola Lama: Sekutu yang Dipakai, Lalu Ditinggalkan
Iran Khomeini bukan yang pertama “melayani” Amerika lalu dikorbankan. Ada banyak sebelumnya:
Jenderal Qassem yang pada 1950-an membantu mengonsolidasikan kekuasaan Syah, lalu dilupakan. Para pejuang Kurdi yang digunakan CIA melawan Irak, lalu diabaikan ketika perjanjian dengan Saddam ditandatangani. Bahkan Osama bin Laden yang dulunya “pejuang kebebasan” melawan Soviet, lalu menjadi musuh nomor satu. Juga Manuel Noriega yang pernah bekerja sama dengan intelijen AS (CIA), kemudian ketika hubungan memburuk dan dianggap tak lagi sejalan, AS menginvasi Panama (1989); Noriega ditangkap dan dipenjara di AS.
Contohnya banyak—bahkan terlalu banyak untuk dihitung.
Ketika Serangan Datang, Dunia Tidak Benar-benar Terkejut
Maka, ketika serangan itu akhirnya datang—gelombang pertama rudal Tomahawk melesat di atas Teluk, pesawat siluman F-35 menembus pertahanan udara Iran, dan layar televisi menayangkan gedung-gedung di Teheran yang meledak dalam kepulan api oranye—tak ada yang benar-benar terkejut.
Para analis militer berbicara tentang “serangan pendahuluan untuk mencegah senjata nuklir.” Para diplomat berdebat di Dewan Keamanan PBB dengan kata-kata yang sudah ditulis sebelumnya. Media memutar rekaman arsip “demonstrasi anti-Amerika” di Teheran dan “dukungan rakyat” di Washington.
Namun di kedalaman sejarah yang sebenarnya—di lapisan bawah tanah ingatan kolektif—pertanyaan itu akan terus berulang, bergema di antara reruntuhan dan debu:
“Mengapa Amerika menyerang Iran yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kebijakannya di kawasan?”
Dan jawabannya akan selalu sama—dibisikkan angin yang bertiup di atas makam para prajurit yang tak pernah tahu bahwa mereka berperang bukan untuk tanah air, melainkan untuk kelanjutan tarian bayangan di atas neraka.
Karena ketika proyek besar telah matang, tak ada ruang bagi mitra kecil. Hanya ada satu dalang yang menarik semua tali.
Babak baru telah dimulai. Dan seperti biasa, sejarah tak akan pernah selesai ditulis. Ia hanya akan terus bergema—sampai pertanyaan itu diajukan lagi, puluhan tahun dari sekarang, oleh generasi yang akan datang yang bertanya-tanya tentang awal dari semua ini.
Dan pada akhirnya, kita memohon kepada Allah agar upayanya kembali gagal. Memohon agar Hukum Allah Swt segera tegak dan membungkam manuver Amerika terhadap negeri-negeri Muslim.