| 171 Views

Genoside Balas Jihad

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Istimewa)

Oleh: Ummu Zahra
Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, menyampaikan pidatonya dalam Konferensi Internasional Tingkat Tinggi sebagai penyelesaian damai atas masalah Palestina yang digelar di Gedung Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, pada Senin, 22 September 2025.

Prabowo menekankan bahwa tanggung jawab historis masyarakat internasional bukan hanya terkait masa depan Palestina, tetapi juga masa depan Israel dan kredibilitas PBB. Menurutnya, Indonesia tetap konsisten memperjuangkan solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian. “Oleh karena itu, Indonesia kembali menegaskan komitmennya terhadap solusi dua negara dalam masalah Palestina" tegasnya. (ksp.go.id, 23/09/2025).

Sejatinya solusi dua negara telah diimplementasikan saat 14 Mei 1948 sejak berdirinya negara Israel. Selama 77 tahun zionis telah melakukan berbagai serangan secara berulang dan brutal. Hingga saat ini puluhan ribu syuhada syahid, ratusan tahanan disiksa, kelaparan, blokade, kekurangan air bersih, minimnya tenaga medis, kehancuran seluruh kota; baik rumah-rumah warga ataupun fasilitas umum, berbagai penyakit melanda, kehilangan anggota keluarga bahkan kehilangan anggota tubuh. Namun sayangnya sikap pemimpin negeri-negeri muslim dan solusi yang ditawarkan oleh dunia Internasional berkutat pada perdamaian, genjatan senjata, two-state-solution yang mencederai rasa kemanusiaan dan keadilan bagi Palestina.

Sehingga menjadikan umat saat ini tidak dapat berbuat banyak selain boikot, bersuara, berdoa dan berdonasi. Dunia Seolah menjadi terbiasa melihat rakyat Palestina teraniaya, tertindas, terdzolimi, terbunuh, dan terebut segala hak dalam berkehidupan. Allah berfirman dalam surat Al-Ma'idah: 32

اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعً

"...barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya".

Islam mengajarkan pada kita bahwa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang dibenarkan sama halnya seperti membunuh seluruh manusia. Islam menekankan betapa agungnya nilai dan kehormatan setiap jiwa manusia serta menggambarkan betapa beratnya dosa membunuh seseorang secara tidak benar.

Sesungguhnya zionis adalah entitas penjajah yang harus dibalas dengan jihad fii sabililah. Allah Swt berfirman;

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ

Artinya; "Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu" QS Al-Baqarah: 191.

Dalam sejarahnya Islam mencatat bahwa dalam memperlakukan entitas penjajah haruslah dengan cara menggerakkan kekuatan militer. Seperti pada masa Khulafaur Rasyidin pada tahun 637 M, Umar bin Khattab membebaskan Yerusalem (Baitul Maqdis) dari kekuasaan Romawi Timur (Bizantium). Pada masa Dinasti Ayyubiyah dibawah kepemimpinan Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis dari kekuasaan Tentara Salib pada tahun 1187 M dengan perang yang sengit.

Serta sikap tegas Sultan Abdul Hamid II pada kaum Yahudi saat meminta tanah Palestina beberapa kali. Sultan berseru lantang "Palestina adalah tanah milik umat Islam dan tidak akan diserahkan, bahkan jika kekhalifahan runtuh. Aku lebih baik menusukkan pedang ke tubuhku sendiri daripada menyerahkan sejengkal tanah Palestina".

Dengan sikap tegas dan berani, khalifah menyeru pasukan umat muslim bersatu dan membela saudaranya, mengobarkan semangat jihad fii sabililah dalam naungan Daulah khilafah Islamiyah. Karena hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah umat muslim akan menemukan jati dirinya, diselimuti oleh kesejahteraan, kehormatan dan kemuliaan.

Wallahualam Bishshawab


Share this article via

84 Shares

0 Comment