| 31 Views

Genosida Gaza Dimana Negri-Negri Muslim?

Warga Palestina terlihat di wilayah Sudaniya, Kota Gaza utara, pada 12 Juni 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Oleh : Umu AQ I'll a
Aktivis dakwah

Zionis kembali menunjukkan wajah aslinya, apalagi jika bukan penjajah kejam yang tak segan membantai dan memadamkan akses informasi demi menutupi kejahatannya. Kamis, 18 September 2025, mereka memutus total jaringan komunikasi dan internet di Jalur Gaza. Pemadaman ini dilakukan bersamaan dengan digelarnya operasi militer darat yang menggempur pusat Kota Gaza. Tujuannya jelas, yakni membunuh dalam gelap tanpa saksi dunia.

Strategi ini mungkin dilakukan agar tidak ada satu pun informasi yang bocor ke media internasional. Zionis sadar, mereka sedang melanggar hukum perang, bahkan konvensi internasional sekalipun. Namun, sebagaimana biasa, hukum internasional hanya tajam ke umat Islam dan tumpul kepada pelaku kejahatan kafir Barat.

Menyedihkan, di tengah gempuran ini, dunia Islam justru kembali sibuk dengan retorika. Para penguasa negeri-negeri Muslim hanya mengutuk. Mereka memboikot sesekali, berkoar-koar di PBB, namun tetap menjaga hubungan diplomatik dan ekonomi dengan penjajah secara diam-diam dan terang-terangan. Padahal, dalam Islam, penjajahan adalah kejahatan yang harus dihentikan secara tuntas. Apalagi, yang diserang adalah sesama wilayah kaum Muslim. Bukankah kaum Muslimin harus saling membantu?

Air mata takkan mampu mengungkapkan kesedihan terhadap sebagian umat Islam lantaran ada di antara umat ini yang masih terluka, terhina, dan digenosida oleh penjajah Zionis Yahudi Israel.

Zionis Israel mematikan komunikasi berturut-turut. Para pemantau hak asasi manusia mengatakan pemadaman komunikasi bersifat sistemis, bertujuan untuk mengisolasi Gaza. Akibat genosida yang dilakukan, sudah banyak negara di dunia yang mengecam dan mengembargo, namun Israel tidak mempedulikannya. Belgia menerapkan larangan impor dari Israel. Spanyol mengubah embargo senjata de facto yang berlaku saat ini menjadi undang-undang dan melarang kapal dan pesawat yang membawa senjata ke Israel untuk berlabuh di pelabuhan Spanyol atau memasuki wilayah udaranya. Norwegia akan melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Israel. Uni Eropa berencana memberi sanksi kepada menteri sayap kanan dan menangguhkan sebagian elemen perdagangan dari perjanjian dengan Israel.

Kejahatan Israel tak akan berhenti hanya dengan kecaman, embargo, atau pemboikotan. Karena, kecaman dan embargo dari banyak negara itu pun sejatinya hanya di bibir saja, sedangkan di belakang mereka masih menjalin kerja sama. Mereka harus berhadapan dengan lawan yang sepadan, tiada lain adalah Khilafah. Khalifah sebagai kepala negara akan memberikan komando untuk hadirnya tentara Islam untuk melawan mereka. Hal ini hanya bisa terwujud bilamana para penguasa negeri Muslim dan umat bangkit kemudian bersatu untuk mengembalikan Khilafah sebagai perisai umat. Perisai yang akan membebaskan Palestina serta seluruh manusia dari cengkeraman dan makar jahat Zionis Israel laknatullah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.“ (HR Muslim, no. 49)

Ini adalah perintah untuk bertindak, bukan sekadar mengecam. Umat Islam wajib menolong saudaranya yang dizalimi. Tidak cukup sekadar dengan bantuan kemanusiaan yang habis dalam hitungan hari, tetapi dengan kekuasaan yang menundukkan penjajah.

Apakah mungkin? Sangat mungkin. Islam telah memiliki solusi menyeluruh, yakni bersatunya seluruh negeri Muslim dalam institusi Khilafah Islamiyyah. Dalam sejarah, Khilafah tidak pernah membiarkan satu inci tanah kaum Muslimin dijajah tanpa pembelaan. Tentara-tentaranya dikirim bukan untuk negosiasi, tetapi untuk pembebasan.

Khilafah bukan utopis. Ia adalah sistem politik Islam yang pernah ada lebih dari 13 abad. Hari ini, ia dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Palestina tidak butuh simpati, tetapi butuh pasukan. Gaza tidak butuh kutukan, tapi butuh pemimpin seperti Shalahuddin Al-Ayyubi.

Selama umat Islam masih terpecah dalam batas-batas nasionalisme buatan kolonial dan para penguasanya tunduk pada tekanan Amerika, penjajahan atas Palestina akan terus berlangsung. Saatnya umat sadar bahwa komunikasi bisa padam, tetapi kebenaran tak akan pernah bungkam. Kebenaran itu adalah kewajiban menegakkan Islam sebagai sistem hidup, termasuk sistem politik dan negara dalam bingkai Khilafah. Hanya dengan itulah penjajahan bisa dihentikan dan kebebasan hakiki bukan sekadar mimpi.

Pertama, Mengirimkan tentara jihad. Allah memerintahkan umat Islam untuk menolong saudara yang tertindas. Sejarah mencatat, setiap kali umat Islam diserang, para khalifah menggerakkan pasukan untuk membebaskan negeri-negeri yang terjajah. Begitu pula mestinya dengan Palestina.

Kedua, Menegakkan kembali Khilafah. Selama umat Islam tidak memiliki kepemimpinan politik tunggal, penjajahan akan terus berlangsung. Khilafah adalah institusi yang akan menyatukan kekuatan umat, mengusir penjajah, dan menegakkan keadilan. Inilah solusi yang sesungguhnya, bukan sekadar kompromi politik yang merugikan.

Sementara dari perspektif Islam, solusi hakiki bukanlah kompromi, melainkan perlawanan terhadap penjajah dan kebangkitan kepemimpinan politik umat melalui penegakan kembali Khilafah ala minhajin nubuwwah. Hanya dengan itu, Palestina akan benar-benar merdeka, dan umat Islam bisa hidup dengan kehormatan.


Share this article via

26 Shares

0 Comment