| 306 Views

Generasi Sadis, Butuh Solusi Sistematis

Oleh : Ummu Raffi 
Ibu Rumah Tangga 

Remaja merupakan aset penerus perjuangan. Di tangan merekalah, kelak nasib negeri ditentukan. Usia muda, masanya kreatif dalam berpikir, inovatif untuk menciptakan ide-ide baru, serta memiliki semangat belajar yang tinggi.

Sangat kontradiktif dengan kondisi remaja saat ini. Generasi kini, menjadi remaja bermental illnes bahkan lebih memprihatinkan dan sadis. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, seorang anak laki-laki remaja usia 14 tahun (MAS) dengan tega membunuh ayah, nenek, dan melukai ibu kandungnya sendiri menggunakan senjata tajam. Tindakan niradab tersebut terjadi di rumah mereka di Jalan Lebak Bulus I, Ciladak, Jakarta Selatan pada Sabtu dini hari. (Beritasatu.com, 30/11/2024)

Sungguh miris, merebaknya kasus kriminal anak membunuh orangtua, begitupun sebaliknya. Bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari kasus yang tak berkesudahan terjadi di negeri ini. Fenomena tersebut mencerminkan adanya kerusakan sistematis, yang berpengaruh terhadap individu, masyarakat secara keseluruhan dan merusak fitrah manusia.

Seorang anak, seharusnya berbakti dan menyayangi kedua orangtuanya. Bukan malah jadi penyebab hilangnya nyawa mereka. Hal ini, tak lepas dari kurangnya pemahaman agama serta sistem yang mendukung mereka bebas bertindak. Maka tak heran, sistem sekulerisme banyak melahirkan generasi sadis tak bermoral.

Sistem sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan. Telah berhasil, menjadikan masyarakat kehilangan arah moral dan spiritualnya. Munculnya fenomena generasi sadis tidak terjadi begitu saja, namun disebabkan beberapa faktor antara lain:

Pertama, faktor keluarga. Keluarga adalah lingkup terkecil masyarakat. Minimnya keteladanan orangtua, kurangnya komunikasi, orangtua terlalu berambisi menjadikan anak sukses, tanpa melihat kemampuan dan dampaknya, serta kesulitan ekonomi.

Kerusakan pada sistem pendidikan. Pendidikan yang diterapkan saat ini, lebih menekankan penguasaan akademik dan mengesampingkan nilai-nilai moral serta spiritual yang kuat. Sehingga, banyak generasi yang tumbuh dengan pemahaman dangkal tentang nilai kehidupan dan tidak mampu memahami birrul walidain.

Kedua, faktor lingkungan masyarakat dan sekolah. Tingginya kasus kriminal seorang anak membunuh orangtua, sejatinya buah penerapan sistem yang bercokol saat ini. Lingkungan masyarakat dan sekolah sangat berpengaruh terhadap kesalehan anak. Sistem sekuler telah menjadikan masyarakat individualis, sehingga ketika ada kemaksiatan dinormalisasi, tanpa beramar makruf nahi munkar.

Pengaruh lainnya, adegan kekerasan sering kali dipertontonkan melalui media, seperti game online dan sebagainya. Hal tersebut dapat membentuk karakter masyarakat, sehingga tindak kekerasan dianggap lumrah sebagai respon atas masalah atau tekanan emosional.

Ketiga, faktor negara. Abainya peran negara dalam menjalankan fungsinya yakni pengurus rakyat. Lemahnya penegakan hukum, kontrol dan pengawasan negara dalam mencegah konten-konten unfaedah yang dapat merusak generasi. Seperti, perundungan, penyimpangan, pornografi, kekerasan. Tak peduli halal dan haram atas perbuatannya. Tolak ukur mereka hanya materi semata.

Oleh karena itu sangat jelas, tindakan yang dilakukan generasi saat ini kian marak membuktikan bahwa, hancurnya moral generasi bukan berasal dari satu aspek saja melainkan menjadi problem sistemik. Apabila sistem yang diterapkan masih menggunakan aturan buatan manusia, maka mustahil dapat teratasi. Sehingga, butuh solusi yang komprehensif terkait persoalan ini, tentunya dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam semua lini kehidupan.

Islam memiliki solusi paripurna dalam mengatasi moral generasi. Dalam Islam, pemimpin bertanggungjawab atas urusan rakyatnya. Sebab, kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Termasuk dalam mengurusi kerusakan moral generasi.

Sistem Islam, melahirkan pemimpin yang memiliki tanggungjawab mencetak generasi cemerlang dan berkualitas dengan penerapan sistem yang sesuai syariat. Sehingga, negara akan menutup rapat semua faktor pemicu munculnya kerusakan moral. Dalam mencetak generasi cerdas dan bertakwa, negara memiliki beberapa mekanisme antara lain:

Pertama, negara akan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Dalam Islam, pendidikan tak hanya bertujuan mencetak individu yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), melainkan membentuk generasi berkepribadian Islam, beriman dan bertakwa. Sehingga, generasinya memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam.

Kedua, negara akan menjamin tercukupinya kebutuhan pokok rakyat. Dengan menyediakan pelayanan dan kemudahan akses, seperti layanan pendidikan dan kesehatan gratis, kemudahan harga pangan, lapangan pekerjaan. Sehingga para suami, tidak merasa terbebani dalam menafkahi kebutuhan keluarga secara layak. Para ibu pun, akan fokus mendidik dan mengurus anak-anaknya menjadi generasi yang taat.

Kemudian, negara akan menjaga keluarga dan masyarakat dari pergaulan yang tidak sesuai syariat. Sehingga, terbentuk keluarga dan masyarakat yang saling mengingatkan dalam kebaikan serta mencegah kemungkaran. Negara pun akan memberikan edukasi kepada masyarakat secara berkala, dalam membina dan memastikan ketakwaan kepada Allah Swt.

Ketiga, negara akan melakukan pengawasan yang ketat, terhadap media dan melarang peredaran tontonan yang merusak moral generasi. Negara akan memberikan sanksi dan efek jera bagi para pelaku yang berbuat kriminal. Akan diberikan hukuman, sesuai ketentuan syariat.

Dengan demikian, hanya Islam yang mampu mengatasi masalah moral generasi secara tuntas. Semua ini, tidak terlepas dari hadirnya sosok pemimpin yang memberikan perhatian besar dalam kemajuan ilmu dan peradaban Islam. Disertai keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt, seorang pemimpin menjadikan jabatannya hanya untuk mengurusi rakyat. Sehingga, masyarakat akan merasakan kesejahteraan yang luar biasa atas kebijakan-kebijakannya.

Wallahu'alam bissawab.


Share this article via

184 Shares

0 Comment