| 22 Views

Generasi Muda Diburu Algoritma Kapitalis, Menjadi Target Iklan Judol dan Pinjol

Oleh: Fahna Al-Hafidzoh

Kaum muda, khususnya laki-laki dengan kondisi ekonomi terbatas, sangat mudah menjadi target iklan judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Faktanya, 58% Gen Z menggunakan pinjol untuk kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk untuk memenuhi gaya hidup dan hiburan. Hal ini terlihat dari jumlah rekening pinjaman pada usia muda yang terus mengalami lonjakan. Tak heran jika kondisi ini terjadi, sebab algoritma platform judol itu sendiri dirancang untuk membuat pengguna merasa kecanduan.

Tekanan hidup yang semakin berat, mulai dari harga kebutuhan pokok yang terus melambung hingga lapangan pekerjaan yang semakin sempit, mendorong banyak orang mencari cara instan untuk memperoleh penghasilan. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang mengambil jalan pintas dengan bergabung dalam permainan judol, karena berharap bisa mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat.

Di sisi lain, nilai-nilai sekuler-liberal justru semakin tumbuh subur dan menjauhkan generasi dari pertimbangan halal dan haram. Segala cara ditempuh selama dianggap menguntungkan dan instan. Persoalan ini semakin kompleks karena ruang digital berada di bawah hegemoni kapitalisme platform. Algoritma dirancang untuk memaksimalkan keterikatan pengguna, bukan keselamatan mereka. Konten judol, gaya hidup glamor, serta tawaran pinjaman cepat ditampilkan secara normatif berdasarkan perilaku pengguna, sehingga generasi muda terus terpapar dan akhirnya terjebak. Alih-alih mendapatkan panduan untuk menyelesaikan persoalan hidup secara benar dan solutif, mereka justru diarahkan pada pola pikir pragmatis, materialistis, dan individualistis.

Sungguh, persoalan ini hanya dapat diselesaikan dengan hadirnya sistem sahih yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai solusi atas seluruh persoalan manusia. Dalam hal ini, negara telah gagal melindungi generasi. Sudah saatnya sistem demokrasi kapitalisme sekuler ditinggalkan dan digantikan dengan sistem Islam. Sistem ekonomi Islam akan menjamin kesejahteraan umat, sementara pendidikan dalam Islam akan membentuk generasi berkepribadian Islam, sehingga mereka mampu menyandarkan setiap perbuatan pada hukum syara, terutama standar halal dan haram.

Infrastruktur digital dalam naungan khilafah juga akan dibangun di atas paradigma Islam, sehingga mampu melindungi generasi dari konten-konten merusak, normalisasi maksiat, dan kriminalitas. Berbeda dengan sistem saat ini yang tidak mampu melindungi generasi, bahkan justru merusak akidah dan kepribadian mereka.

Dalam Islam, generasi Muslim harus memahami identitasnya sebagai seorang Muslim agar ia sadar untuk melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya. Generasi juga harus menyadari perannya sebagai pembawa perubahan dan pembangunan peradaban melalui pembinaan Islam dan aktivitas dakwah bersama kelompok Islam ideologis.

Sudah saatnya kita sadar, bangkit, dan berjuang. Hidup dalam sistem demokrasi kapitalisme sekuler hanya akan menambah derita. Umat terus dimanfaatkan, sementara persoalan hidup tak kunjung terselesaikan. Lalu, untuk apa sistem ini terus dipertahankan?

Satu-satunya sistem yang benar hanyalah sistem Islam yang hadir dengan rida Allah Ta’ala. Mari bersama-sama berjuang untuk kembali tegaknya sistem Islam di muka bumi ini.

Wallahu a‘lam bish-shawab.


Share this article via

16 Shares

0 Comment