| 308 Views

Gencatan Senjata hanya Fatamorgana bebasnya Palestina?

Oleh : Leni Setiani 
Aktivis Muslimah Karawang 

Konflik yang terjadi di negeri para nabi yaitu Palestina seakan mendapatkan ruang untuk bernapas setelah diumumkannya gencatan senjata. Banyak umat Islam bereuforia atas hal ini. Mereka berfikir itu adalah suatu kemenangan. Secara nyata, gencatan senjata ini memang memberikan jeda bagi muslim Palestina untuk terbebas dari kejahatan zionis dan negara pendukungnya yaitu Amerika Serikat. Namun apakah dengan gencatan senjata menjamin muslim Palestina dapat hidup tenang tanpa bayang-bayang ancaman bom dan rudal?

Sementara presiden Amerika Serikat telah mencabut larangan pengiriman pasokan 1 ton bom untuk Israel. Perubahan kebijakan tersebut telah disampaikan oleh Pentagon kepada otoritas Israel sejak Jumat (24/1/2025). Bahkan, disebutkan bahwa 1.800 bom jenis MK-84 akan dimuat dan dikirim ke Israel dalam beberapa hari mendatang, seperti dikutip dari Antara (Tirto.id 26/01/25).

Begitupun ungkapan orang nomor satu di AS tersebut menginginkan warga Gaza pindah dari daerahnya. Dia memuji Yordania karena telah berhasil menerima pengungsi Palestina dan dia mengatakan kepada raja, “Saya ingin Anda menerima lebih banyak pengungsi, karena saya melihat seluruh Jalur Gaza saat ini, dan kondisinya berantakan. Benar-benar berantakan.” (republika.co.id 22/01/25).

Gencatan Senjata Ilusi Bebasnya Palestina 

Agaknya, gencatan senjata bukanlah solusi bebasnya Palestina. Gencatan senjata sendiri hanya penghentian tembak-menembak yang melibatkan senjata, khususnya dalam konflik bersenjata. Namun, gencatan senjata tidak selalu berarti berakhirnya konflik, melainkan hanya bersifat sementara dan membutuhkan kesepakatan kedua belah pihak. Tak bisa dipungkiri penjajahan masih terjadi disana. Mereka yang terus kehilangan tanah tersebab perampasan tanah yang tiada hentinya. Kehilangan anggota keluarga akibat serangan mereka rasanya sudah tak dapat dihitung lagi dengan jari. 

Umat Islam tidak boleh lupa bahwa persoalan Palestina adalah rekayasa Barat yaitu Amerika dan elit Yahudi yang mengatasnamakan agama. Padahal masalah sesungguhnya perebutan tanah dari pemiliknya. Jangan termakan oleh narasi Barat yang mengopinikan konflik wilayah. Padahal siapapun tahu bahwa dahulu Palestina dijadikan tempat pelarian bangsa Yahudi yang terusir dari Eropa dan lainnya.

Alhasil, persoalan Palestina bukan persoalan Palestina sendiri atau bangsa Arab. Tepatnya persoalan umat Islam dunia yang telah berhasil dipecah belah menjadi beberapa negara kecil. Mereka memiliki kewajiban untuk membebaskan Palestina dengan segenap upaya maksimal mereka dalam memerangi zionis dan negara sekutunya.

Jihad dan Khilafah Solusinya 

Tanah Palestina telah dibebaskan dimasa Islam berjaya dan memimpin dunia. Pertama kali tanah Palestina dibebaskan kaum muslimin melalui jihad fisabilillah yang ketika itu khalifah kaum muslimin adalah Umar bin Khattab pada 16 H (637 M) dari tangan Romawi. Palestina berhasil dibebaskan dari kedzaliman penguasa Romawi oleh khalifah Umar bin Khattab tanpa peperangan bahkan memilih menyerah dan bersedia berdamai.

Dari aktivitas jihad fisabilillah tersebut telah nyata Palestina bisa terbebas dari cengkraman penjajah. Bukan dengan menyeru pada PBB agar bertindak yang PBB sendiri buatan Barat. Mustahil jika bukan adanya khilafah PBB akan mengirimkan tentara kaum muslimin seluruh dunia untuk membebaskan Palestina. Karena pada hakikatnya sekelas khilafah lah yang mampu melakukan itu.

Insyaallah, Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwah akan kembali tegak dan menyelesaikan seluruh persoalan umat, termasuk membebaskan Palestina dari penjajahan entitas Yahudi dengan jihad fii sabilillah. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Saw, “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan Al-Bazar). Wallahualam bissawab.


Share this article via

106 Shares

0 Comment