| 337 Views

Gen-Z Terjerat Gaya Hidup Kapitalistik

Oleh : Shanny Meylian, S.M.
Pendidik Generasi

Generasi Z saat ini menghadapi tantangan besar terkait kehidupan materialistik. Banyak dari mereka mengukur keberhasilan berdasarkan kepemilikan barang dan status sosial yang diperkuat oleh pengaruh media sosial seperti Instagram dan TikTok. Platform-platform ini menciptakan tekanan untuk menunjukkan gaya hidup glamor, sehingga mendorong perilaku konsumtif yang tinggi. Penelitian dari Elmira Djafarova, 2021 menunjukan bahwa 41% Generasi Z merupakan pembeli impulsif. Akhirnya banyak dari mereka belum memiliki penghasilan tetap, Gen Z sering terjebak dalam siklus pengeluaran yang berlebihan, yang dapat berkontribusi pada stres dan kecemasan.

Di sisi lain, meskipun terpengaruh oleh materialisme, banyak anggota Gen Z menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu sosial dan lingkungan. Mereka sering merasa tertekan untuk menyeimbangkan nilai-nilai ini dengan keinginan untuk memiliki barang-barang baru. Pengeluaran untuk teknologi dan gadget menjadi prioritas, tetapi ini juga menimbulkan tantangan dalam mencari keseimbangan antara aspirasi material dan pencarian makna yang lebih dalam pada hidup mereka. Kesadaran ini menciptakan kebutuhan untuk dialog dan solusi yang lebih holistik dalam memahami perilaku generasi ini.

Generasi Z sering kali terjebak dalam gaya hidup yang dipengaruhi oleh Fear of Missing Out (FOMO), di mana mereka merasa tekanan untuk selalu terhubung dan terlibat dalam berbagai pengalaman sosial. FOMO mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam acara atau tren terbaru, meskipun sering kali melampaui kemampuan finansial mereka. Kecenderungan ini makin diperparah oleh media sosial, di mana mereka terus melihat momen-momen sempurna yang dibagikan oleh teman-teman atau influencer, menciptakan perasaan tidak cukup baik atau tertinggal jika mereka tidak turut serta.

Dampak FOMO pada kesehatan mental Gen Z tidak bisa diabaikan. Banyak dari mereka mengalami kecemasan, stress, dan rasa tidak puas yang meningkat akibat perbandingan sosial yang konstan. Meskipun menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental, banyak yang merasa terjebak dalam siklus untuk terus memenuhi ekspektasi sosial. Dalam mencari pengakuan dan validasi, mereka sering kali mengabaikan kebutuhan pribadi dan waktu untuk diri sendiri. Oleh karena itu, penting untuk mendorong kesadaran akan dampak FOMO dan memberikan ruang bagi generasi ini untuk mengeksplorasi nilai-nilai yang lebih mendalam, serta menemukan kebahagiaan di luar tekanan sosial.

Akhir-akhir ini, fenomena FOMO pada Gen Z makin meluas seiring dengan peningkatan penggunaan media sosial dan platform digital. Munculnya aplikasi seperti TikTok dan Instagram Stories membuat mereka merasa harus selalu terkini dengan tren dan aktivitas yang sedang viral. Hal ini tidak hanya mendorong keinginan untuk berpartisipasi dalam berbagai acara, tetapi juga menciptakan tekanan untuk menunjukkan momen-momen tersebut kepada orang lain. Banyak dari mereka yang merasa terpaksa untuk menghadiri acara, bahkan jika itu di luar anggaran mereka, demi menghindari rasa ketinggalan.

Fenomena FOMO dan kehidupan materialistik yang dialami oleh Gen Z dapat dilihat sebagai dampak dari sistem demokrasi kapitalistik yang dominan saat ini. Dalam konteks ini, kapitalisme mendorong individu untuk mengejar konsumsi dan kepemilikan sebagai indikator keberhasilan. Gen Z, yang tumbuh dalam lingkungan ini, sering kali merespons dengan menginternalisasi nilai-nilai tersebut, sehingga merasa tertekan untuk selalu memiliki barang terbaru atau terlibat dalam aktivitas sosial yang dianggap menarik.

Sistem demokrasi kapitalistik juga menciptakan ketidaksetaraan dalam akses terhadap sumber daya. Banyak anggota Gen Z berasal dari latar belakang yang berbeda, dan tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial dapat menyebabkan mereka berusaha untuk mengejar barang-barang yang di luar jangkauan finansial mereka. Ketidakpuasan ini dapat memperburuk kesehatan mental mereka, karena mereka merasa terjebak dalam siklus konsumsi yang tidak berujung. Selain itu, media sosial yang berfungsi sebagai platform untuk mengekspresikan diri, justru sering kali memperkuat nilai-nilai materialistis dan membentuk pola pikir yang mengutamakan penampilan daripada substansi. Dengan demikian, ada kebutuhan mendesak untuk mengkritisi sistem ini dan mencari cara yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam mempromosikan kesejahteraan Gen Z.

Fenomena gaya hidup gen Z ini menjadi akibat dari terciptanya generasi yang berpotensi memiliki prestasi dan karya yang lebih baik. Peran pemuda sebagai agen perubahan pun makin terabaikan. Padahal Islam memandang pemuda sebagai generasi yang memiliki potensi dan kekuatan yang luar biasa dalam membangkitkan umat. Karena pada fitrahnya pemuda memiliki keteguhan dan ambisi dalam mencapai cita-cita.

Layaknya Muhammad Al-Fattih yang mampu menaklukan konstantinopel di usianya yang sangat muda, yakni 21 tahun. Beliau mampu memanage pasukannya menjadi pasukan terbaik, sehingga peradaban Islam dapat meluas. Hal ini tidak akan terjadi jika pemuda tidak memiliki Syakhsiyah Islam (kepribadian Islam) yang dibentuk oleh akliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) yang berlandaskan pada syariat Islam. Sehingga pemuda memiliki kontrol atas dirinya, memiliki keputusan yang baik, dapat memenuhi gharizah (naluri) dan hajatul udhawiyah (kebutuhan jasmani) dengan baik sesuai hukum syarak.

Kematangan yang terdapat pada pemuda ini akan terwujud jika negara turut andil dalam pengurusan generasi, agar bisa memaksimalkan potensi dan bisa memberikan kontribusi positif pada peradaban. Sebagaimana Khilafah Islam yang memiliki posisi strategis sebagai penyelenggara sistem pendidikan Islam agar pemuda memiliku kepribadian Islam dengan memiliki tsaqofah yang menyeluruh. Sehingga dapat menguasai ilmu agama, ilmu kehidupan, sains, teknologi, serta keterampilan dan keahlian yang tinggi agar peradaban Islam tersokong kelestariannya.

Karena hanya sistem pendidikan yang berlandaskan ideologi Islam yang bisa memastikan lahirnya generasi seperti generasi Khulafaur Rasyidin juga masa Kekhilafahan yang mampu menyokong peradaban Islam, bukan nafsu dunia semata.


Share this article via

118 Shares

0 Comment